AS Mulai Kewalahan Lawan Iran, Pakar Rusia Ungkap Blunder Trump

cnbcindonesia.com
2 jam lalu
Cover Berita
Foto: Kepulan asap hitam tebal terlihat membumbung dari depot minyak Sharan di Teheran pada Minggu (8/3) setelah Israel mengonfirmasi telah menyerang depot dan kilang bahan bakar di Iran sehari sebelumnya. (Tangkapan Layar Video Reutes/WANA)

Jakarta, CNBC Indonesia - Serangan udara besar-besaran yang diluncurkan Amerika Serikat (AS) dan Israel ke jantung pertahanan Iran yang awalnya diprediksi sebagai operasi kilat dan menentukan, kini justru mengancam stabilitas dunia. Operasi yang dirancang untuk melumpuhkan pusat saraf Teheran ini berisiko menyeret lebih banyak negara ke dalam pusaran konflik yang tak berkesudahan.

Murad Sadygzade, Presiden Pusat Studi Timur Tengah sekaligus Dosen Tamu di HSE University Moskow, menganalisis bahwa pada jam-jam pertama serangan, Washington dan Yerusalem Barat membangun narasi strategis tentang kontrol penuh yang bersifat psikologis dan menentukan.

"Logika yang disimpulkan oleh banyak analis dari pola pembukaan serangan ini bukan sekadar merusak fasilitas, melainkan untuk memutuskan sistem saraf negara Iran, menyerang tulang punggung komando, otak koordinasi, dan simbol-simbol yang mengikat otoritas militer dan politik dalam satu rantai," ujar Sadygzade dalam tulisannya di Russia Today (RT) dikutip Selasa (10/3/2026).


Pilihan Redaksi
  • Iron Dome Bobol Lagi, Rudal Iran Hantam Israel-Kondisi Kacau Balau
  • Resmi! Mojtaba Khamenei Terpilih sebagai Pemimpin Tertinggi Iran
  • Iran Ngamuk! Ancam Membumihanguskan Fasilitas Minyak Negara Teluk
  • Eks Direktur CIA Respons Mojtaba Khamenei Jadi Pemimpin Tertinggi Iran
  • Ukraina "Ikut" Perang AS-Israel Lawan Iran, Kirim Ini

Laporan media, termasuk akun detail dari outlet utama Inggris, menggambarkan gelombang pertama sebagai aksi gabungan AS-Israel yang menewaskan pemimpin tertinggi Iran serta sejumlah besar tokoh militer senior. Hasil ini sesuai dengan templat serangan dekapitasi (pemenggalan kepemimpinan), meskipun detail operasionalnya masih diperdebatkan di publik.

Namun, Sadygzade menekankan bahwa blitzkrieg atau perang kilat tidak ditentukan oleh bagaimana ia dimulai, melainkan seberapa cepat ia berakhir sesuai keinginan penyerang. Dalam kasus ini, koreografi tersebut hancur berantakan karena Iran memilih untuk memberikan perlawanan yang tersebar secara geografis.

"Iran, alih-alih memilih syok strategis atau protes ritual, tampaknya telah mengambil keputusan yang lebih berbahaya untuk menjawab secara berkelanjutan dan terdistribusi, mengubah konfrontasi dari satu teater menjadi uji tekan seluruh wilayah terhadap pertahanan udara, perlindungan angkatan laut, keamanan pangkalan, dan kohesi politik," tuturnya.

Efek politik dari alarm yang terus-menerus, gangguan lalu lintas, dan dampak serangan yang berulang memiliki kekuatan korosif. Hal ini memaksa setiap pemerintah di wilayah tersebut untuk mempertanyakan berapa lama pasar, warga negara, dan koalisi internal mereka dapat bertahan sebelum akhirnya retak.

Sadygzade menilai bahwa ketika perang menjadi kontes ketahanan, fokusnya bukan lagi hanya pada platform dan amunisi, melainkan pada stok, anggaran, logistik, dan kesediaan mitra untuk tetap membuka pintu. Hal inilah yang membuat front diplomatik kini menjadi sama pentingnya dengan front kinetik di medan perang.

"Itulah sebabnya front diplomatik mulai menjadi sepenting front kinetik. Jika ekspektasi awal adalah kampanye singkat dengan dampak politik terbatas, kenyataan saat ini terlihat lebih dekat pada perjuangan di mana Washington dan Israel membutuhkan jalan keluar yang tidak menyerupai kekalahan," kata Sadygzade.

Dalam situasi terjepit, insting untuk memperlebar lingkaran partisipan menjadi sangat kuat guna mendapatkan lebih banyak opsi pangkalan, rute pengisian ulang, dan perlindungan diplomatik. Namun, upaya perekrutan ini menabrak dinding penolakan keras, bahkan dari dalam kamp Barat sendiri, seperti yang ditunjukkan oleh Spanyol.

"Spanyol muncul sebagai contoh Eropa yang paling jelas dalam menarik garis kebijakan publik. Perdana Menteri Pedro Sanchez menolak penggunaan pangkalan Spanyol untuk serangan terhadap Iran, membingkai sikap Spanyol sebagai penolakan untuk menjadi kaki tangan dalam eskalasi," jelas Sadygzade.

Tindakan Madrid ini diikuti oleh relokasi pesawat AS dari Spanyol selatan, yang menandakan posisi Madrid memiliki bobot operasional yang nyata. Respons Washington sendiri bergeser cepat ke bahasa tekanan, di mana Presiden Donald Trump secara terbuka mengancam konsekuensi perdagangan sebagai hukuman atas ketidakpatuhan tersebut.

Sadygzade juga menyoroti posisi London yang lebih kompleks namun mengungkapkan adanya keretakan internal. Pemerintah Inggris menekankan tidak terlibat dalam serangan awal, meski memperluas penyebaran pertahanan seiring meluasnya pembalasan Iran ke negara-negara yang tidak ikut serta dalam serangan pembuka.

"Media melaporkan bentrokan politik di mana Trump mengkritik Perdana Menteri Inggris Keir Starmer karena penolakan awal untuk mengizinkan penggunaan pangkalan Inggris bagi tindakan ofensif. Laporan Inggris menggambarkan resistensi kabinet internal yang membatasi ruang gerak Starmer hingga postur bergeser ke arah pertahanan," tambahnya.

Di tingkat regional, dampaknya jauh lebih sensitif. Mitra tradisional AS di Teluk membangun stabilitas domestik mereka di atas janji keamanan dan ekspor yang dapat diandalkan. Perang yang berkepanjangan menghancurkan kedua pilar tersebut, terutama dengan lumpuhnya Selat Hormuz yang merupakan jantung ekonomi kawasan.

"Jika Hormuz secara efektif tidak dapat digunakan, narasai investasi goyah, biaya asuransi melonjak, kontrak pasokan terganggu, dan citra Teluk sebagai simpul aman dalam perdagangan global mulai terlihat seperti mitos yang rapuh. Dampaknya tidak hanya memukul ekonomi lokal tetapi juga konsumen besar seperti China," papar Sadygzade.

Ketegangan mencapai puncaknya saat infrastruktur energi seperti fasilitas Ras Tanura di Arab Saudi dan kompleks industri Ras Laffan di Qatar menjadi sasaran. QatarEnergy bahkan secara resmi menghentikan produksi LNG setelah serangan militer terhadap fasilitas operasi mereka. Hal ini memicu perdebatan mengenai siapa yang sebenarnya diuntungkan dari persepsi bahwa Iran menyerang tetangganya.

"Pertanyaan strategisnya bukan hanya siapa yang bisa memukul target tersebut, tapi siapa yang diuntungkan dari persepsi bahwa Iran bersedia memukul mereka. Jika Teheran mencoba mencegah negara-negara Teluk menjadi kombatan aktif, maka memukul garis hidup ekonomi tetangga yang ragu-ragu terlihat merugikan diri sendiri," ulasnya.

Muncul dugaan adanya operasi bendera palsu (false flag) atau sabotase yang dirancang untuk memaksa monarki Teluk turun tangan. Sadygzade mencatat adanya laporan penangkapan individu yang diduga terkait intelijen Israel di Arab Saudi dan Qatar, meski basis buktinya masih beragam dan penuh klaim yang saling bertentangan.

Kekacauan ini semakin parah dengan insiden di perbatasan utara, termasuk pencegahan amunisi balistik di wilayah Turki dan serangan drone di dekat sekolah di Azerbaijan. Meskipun tuduhan mengarah ke Teheran, Iran secara konsisten membantah keterlibatan mereka dan menuding Israel sebagai provokator untuk menciptakan musuh baru bagi Iran.

"Ini sebabnya motif Washington dan Israel dalam perluasan koalisi tampak lebih koheren secara struktural daripada ide bahwa Iran sengaja mencoba mengumpulkan musuh regional baru. Jika peserta baru ditarik ke sisi Barat, tekanan pada Iran meningkat dan narasi dapat diubah dari agresi sepihak menjadi pertahanan kolektif," tegas Sadygzade.

Ia memperingatkan bahwa jika Washington dan Israel gagal merekrut dukungan yang berarti, kredibilitas jaminan keamanan AS akan hancur. Di dalam negeri AS sendiri, perang yang berkepanjangan menjadi ujian keberlanjutan politik, terutama dengan adanya manuver Kongres untuk membatasi kekuasaan perang presiden.

"Bahaya yang lebih dalam bukan hanya rasa malu politik, melainkan ledakan regional. Begitu infrastruktur energi dan titik sumbat pelayaran menjadi target berulang, perang memperoleh logika penularan. Kematian pemimpin tertinggi Iran bukan hanya peristiwa militer, tapi serangan terhadap pusat gravitasi politik-agama," kata Sadygzade menutup analisisnya.


(tps/tps) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:
Video: Penjual & Pembeli Terbesar di Pasar Senjata Dunia

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Diperiksa Bareskrim Terkait Sidang Adat Toraja, Pandji Pragiwaksono Ngarep Restorative Justice
• 10 jam lalurctiplus.com
thumb
Jadi Maskapai Bintang 4, Ini Strategi Garuda Indonesia Tingkatkan Layanan
• 17 jam lalukumparan.com
thumb
Bikin Petasan Jumbo untuk Malam Takbiran, Dua Pemuda Luka Parah dan 1 Rumah Hancur Kena Ledakan
• 43 menit lalurealita.co
thumb
Manfaat Makan Kurma saat Sahur, Bantu Bikin Tubuh Tetap Berenergi dan Tahan Lapar hingga Berbuka
• 5 jam laluviva.co.id
thumb
Komisi I DPR Minta Verifikasi Usia Medsos Diperketat agar Aturan Batas Usia Efektif
• 16 jam laludisway.id
Berhasil disimpan.