Bisnis.com, JAKARTA - Kedutaan Besar Republik Islam Iran di Jakarta menyatakan bahwa Ayatollah Seyyed Mojtaba Hosseini Khamenei telah ditetapkan sebagai Pemimpin Tertinggi ketiga Republik Islam Iran setelah memperoleh lebih dari 85 persen suara dari Assembly of Experts (Dewan Pakar Kepemimpinan).
Penetapan tersebut dilakukan setelah wafatnya pemimpin sebelumnya, Ali Khamenei, yang menurut Iran tewas dalam serangan yang dikaitkan dengan Amerika Serikat dan Israel.
Dalam pernyataan pers yang dirilis Kedutaan Iran di Jakarta pada Senin (9/3/2026), disebutkan bahwa proses pemilihan berlangsung di tengah situasi keamanan yang penuh risiko.
“Ayatollah Seyyed Mojtaba Hosseini Khamenei, putra Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran, Ayatollah al-Udzma syahid Seyyed Ali Hosseini Khamenei, dengan memperoleh lebih dari 85 persen suara dari Majelis Khobregan Kepemimpinan (Dewan Pakar Kepemimpinan), telah ditetapkan sebagai Pemimpin Ketiga Republik Islam Iran,” demikian pernyataan Kedutaan Besar Iran.
Iran menyatakan pemilihan tersebut menunjukkan bahwa sistem politik negara itu tidak bergantung pada satu tokoh.
“Pemilihan ini sekali lagi membuktikan bahwa Republik Islam Iran tidak bergantung pada satu individu, melainkan merupakan sebuah sistem yang berlandaskan supremasi hukum, suara rakyat, dan nilai-nilai Ilahi,” tulis pernyataan tersebut.
Baca Juga
- Profil Mojtaba Khamenei, Pemimpin Tertinggi Baru Iran yang Ditentang Trump
- Iran Menunjuk Mojtaba Khamenei Sebagai Pemimpin Tertinggi Baru, Harga Minyak Lompat
- Trump Desak Dilibatkan pada Pemilihan Pimpinan Iran Pengganti Ali Khamenei
Kemudian dalam rilis tersebut juga Iran menyebut serangan yang dimulai pada 28 Februari 2026 telah menimbulkan korban besar di kalangan sipil.
“Sejak dimulainya serangan brutal Amerika Serikat dan rezim Zionis Israel pada pagi hari Sabtu, 28 Februari 2026 lebih dari 1.300 anak-anak dan warga sipil tak berdosa telah menjadi syahid,” kata Kedutaan Iran.
Iran juga menyatakan ribuan fasilitas sipil rusak atau hancur, termasuk rumah tinggal, pusat perdagangan, sekolah, fasilitas kesehatan, serta bangunan milik Iranian Red Crescent Society.
Putin ucapkan selamat
Terpilihnya pemimpin baru Iran tersebut membuat Presiden Rusia Vladimir Putin ikut memberikan ucapan selamat. Putin mengirimkan telegram ucapan selamat kepada Mojtaba Khamenei atas pengangkatannya sebagai Pemimpin Tertinggi Iran, kata Kremlin pada Senin (9/3/2026), dikutip dari Anadolu.
"Sekarang, ketika Iran menghadapi agresi bersenjata, pekerjaan Anda di jabatan tinggi ini tidak diragukan lagi akan membutuhkan keberanian dan dedikasi yang besar. Saya yakin Anda akan dengan terhormat melanjutkan pekerjaan ayah Anda dan menyatukan rakyat Iran dalam menghadapi cobaan berat," kata pernyataan Kremlin.
Menurut pernyataan tersebut, Putin menegaskan kembali dukungan Moskow untuk Teheran, dengan mengatakan Rusia akan tetap menjadi mitra yang dapat diandalkan bagi Iran.
"Dari pihak saya, saya ingin menegaskan dukungan kami yang tak tergoyahkan untuk Teheran dan solidaritas dengan teman-teman Iran kami. Rusia telah dan akan tetap menjadi mitra yang dapat diandalkan bagi Republik Islam. Saya berharap Anda sukses dalam menyelesaikan tugas-tugas sulit di hadapan Anda, serta kesehatan yang baik dan kekuatan semangat," katanya.
Tuduhan serangan kapal perang
Pemerintah Iran juga menuduh Amerika Serikat menyerang kapal perang IRIS Dena di perairan internasional saat kapal tersebut sedang menuju India untuk mengikuti program pelatihan.
“Kapal perang yang tidak bersenjata ini melakukan perjalanan ke India atas undangan resmi Angkatan Laut India untuk mengikuti sebuah program pelatihan. Namun tanpa peringatan apa pun, kapal tersebut menjadi sasaran serangan di perairan internasional,” demikian pernyataan tersebut.
Serangan itu, menurut Iran, menyebabkan 104 awak kapal tewas.
Di sisi lain, Iran menegaskan bahwa tindakan militernya merupakan bentuk pertahanan diri sesuai Piagam United Nations.
“Republik Islam Iran menegaskan hak wajar, sah, dan legalnya untuk mempertahankan integritas teritorialnya, sesuai dengan Pasal 51 Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa," katanya.
Iran juga menyatakan angkatan bersenjatanya akan menggunakan seluruh kapasitas untuk menghadapi agresi hingga serangan dihentikan atau hingga United Nations Security Council menetapkan pihak yang bertanggung jawab atas konflik tersebut.
Di akhir pernyataannya, Kedutaan Besar Iran di Jakarta mengutuk tindakan Amerika Serikat dan Israel serta menyerukan reaksi dari komunitas internasional.
Iran juga menilai tindakan Washington dan Tel Aviv sebagai ancaman serius bagi stabilitas kawasan dan global.
“Kami senantiasa berkomitmen pada perdamaian yang berkelanjutan di kawasan, namun dalam membela kehormatan dan kedaulatan kami, kami tidak akan pernah ragu," pungkasnya.





