PT PLN (Persero) mengantisipasi lonjakan arus mudik yang menggunakan mobil listrik dengan sejumlah strategi. Selain pemetaan lokasi pengisian daya yang tersebar di sepanjang jalur mudik juga penambahan fasilitas mobile charging di titik-titik dengan potensi kepadatan tinggi.
Executive Vice President Komunikasi Korporat & TJSL PLN, Gregorius Adi Trianto bilang, fasilitas tersebut disiapkan untuk menjangkau pengguna yang mengalami kendala daya di tengah perjalanan. Unit tersebut bersifat fleksibel dan dapat bergerak sesuai kebutuhan di lokasi.
“Sebanyak 15 unit SPKLU Mobile dan emergency disiapkan untuk membantu pengguna kendaraan listrik yang membutuhkan pengisian daya darurat maupun penanganan gangguan kapan saja sepanjang perjalanan menuju kampung halaman,” katanya.
Tak kalah penting adalah dengan mengandalkan sistem pemantauan digital untuk mejaga keandalan layanan. Sistem monitoring dilakukan secara real time agar setiap potensi gangguan dapat segera ditangani.
Ini berkaca dari lonjakan kunjungan ke SPKLU (Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum) masa libur Nataru 2025 yang mengalami peningkatan signifikan dibanding 2024. Kenaikannya mencapai tiga kali lipat, seiring dengan pertumbuhan penyerapan mobil listrik baru.
Infrastruktur mobil listrik mulai memadaiPengamat Otomotif Bebin Djuana menganggap fenomena tersebut menjadi bukti bahwa masyarakat mulai mempercayakan mobil listrik untuk perjalanan jauh. Namun satu sisi menjadi sinyal untuk para produsen agar ikut mendorong infrastruktur pendukung.
"(Infrastruktur) Sudah lumayan memadai, tetapi ini kan berlomba-lomba dengan semakin banyak penjualan mobil listrik dan diharapkan merek-merek ini ikut terlibat. Jangan hanya andalkan fasilitas (SPKLU) dari PLN saja," ujar Bebin kepada kumparan.
Bebin menambahkan, pabrikan dapat mengembangkan lini usahanya di infrastruktur pengisian daya untuk pelanggan mereka sendiri. Mulai dari jaringan diler masing-masing, hingga bekerja sama dengan instansi atau ruang publik lainnya.
"Misalnya di diler mereka kan keterjangkauannya lebih dalam ke daerah, itu bisa sediakan (SPKLU) tiga sampai tujuh. Nanti buat yang bukan merek mereka tetap bisa isi, cuma dikenakan tarif listrik bisa kan (jadi pemasukan diler)," katanya.
Lantas apakah kamu mudik pakai mobil listrik? Sampaikan jawabanmu dalam polling kumparan di bawah ini. Berikan juga pendapatmu dalam kolom komentar.





