Ketika Tubuh Menjadi Amanah, Jiwa Dididik Jujur, dan Roh Hadir Menjadi Kompas

kumparan.com
17 jam lalu
Cover Berita

Hari ini, di berbagai kota besar, tubuh manusia semakin didisiplinkan. Langkahnya dihitung. Kalorinya diukur. Detak jantungnya diawasi. Pun jiwanya tak kalah sibuknya, dilatih produktivitasnya, diperkuat mindset-nya, ditenangkan kecemasannya. Namun sayangnya di balik semua itu, roh justru sering tak kebagian ruang. Ia hadir, namun tak pernah disapa.

Tasawuf kontemporer membaca krisis manusia modern ini, bukan hanya krisis iman semata, pun juga krisis sinkronisasi dimensi. Tubuh melaju begitu cepat, jiwa terseok-seok, dan roh tertinggal jauh di belakang.

Fenomena ini melahirkan paradoks, di mana manusia terlihat sukses hidupnya namun jiwanya kosong. Manusia terlihat religius namun keras kepala. Spiritualnya nampak mengagumkan, namun nyatanya begitu rapuh. Inilah yang oleh para sufi modern dikritik sebagai spiritual bypassing —menggunakan simbol spiritual untuk menghindari kerja batin yang sesungguhnya. Plato menyebutnya terpesona terhadap bayangan. Heidegger menyebutnya larut dalam das Man. Tasawuf menyebutnya lupa diri.

Kondisi ini, menurut tasawuf kontemporer, tidak lain adalah keterasingan batin atau keterasingan spiritual. Ini terjadi bukan lantaran manusia kehilangan agamanya. Ini justru terjadi lantaran manusia kehilangan kesadaran akan kedalaman makna eksistensi dirinya sendiri.

Seyyed Hossein Nasr pernah menulis bahwa krisis terbesar manusia modern bukanlah krisis ekonomi atau politik, melainkan krisis makna yang lahir dari lupa akan dimensi sakral kehidupannya. Manusia, kata Nasr, hidup di dunia yang semakin terdesakralisasi, dimana alam direduksi menjadi sumber daya, tubuh menjadi objek optimalisasi, dan jiwa menjadi proyek psikologis. Sementara roh yang seharusnya menjadi pusat orientasi, perlahan tersingkir ke pinggir kesadaran.

Tubuh adalah amanah, bukan berhala

Dalam tradisi tasawuf klasik, tubuh tidak pernah diposisikan sebagai musuh. Tubuh adalah amanah. Ia dirawat bukan untuk dipamerkan, melainkan dimanfaatkan agar mampu menopang perjalanan spiritual seseorang.

Namun Nasr melihat perubahan besar dalam peradaban modern dewasa ini, di mana tubuh tidak lagi dilihat sebagai sarana spiritual. Tubuh dihitung, ditata, dikomodifikasi. Tasawuf kontemporer menjelaskan bahwa tubuh tanpa kesadaran rohani seperti itu, akan mudah berubah menjadi berhala paling modern. Ia dipuja karena fungsional, bukan karena sakralnya.

Menurut Al-Ghazali, tubuh adalah kendaraan ruh, dan bukan sesuatu yang harus disembah. Tatkala tubuh dijadikan pusat makna, melalui kultus kesehatan, estetika, dan performa, maka manusia terjebak dalam apa yang sufi kontemporer sebut sebagai materialized self atau diri yang diukur sepenuhnya oleh yang tampak.

Meski begitu, tasawuf modern tidak menolak perawatan tubuh. Ia justru menolak reduksi manusia menjadi tubuh. Di titik ini, pendapat Aristoteles terasa relevan bahwa tubuh tanpa jiwa hanyalah materi tanpa bentuk. Itulah alasannya mengapa tubuh harus dirawat agar jiwa menjadi jernih, dan tidak menjadikan ego semakin dominan.

Jiwa Dididik Agar Jujur

Jiwa, dalam bahasa Ibn Sina, adalah pusat kesadaran diri. Jiwa tahu bahwa ia ada, bahkan ketika tubuh disenyapkan. Namun tasawuf kontemporer mengamati adanya paradoks bahwa manusia modern semakin sadar akan dirinya, pun semakin tidak tahu untuk apa ia hidup.

Haidar Bagir menyebut kondisi ini sebagai “kecerdasan tanpa kebijaksanaan." Jiwa dilatih untuk sukses, resilien, dan produktif, namun tidak diarahkan untuk memaknai substansi hakikinya. Al-Ghazali mengingatkan bahwa jiwa yang cerdas, namun tidak disucikan akan menjadi cerdas dalam membenarkan hawa nafsunya sendiri. Tasawuf modern menegaskan, bahwa jiwa tidak cukup hanya disembuhkan, ia perlu dituntun pulang.

Roh Hadir Sebagai Kompas

Roh dalam pandangan tasawuf kontemporer bukanlah konsep mistik yang kabur. Roh adalah kesadaran hakiki yang membuat manusia mampu melampaui dirinya sendiri. Roh adalah sumber etika, keberanian moral, dan kejujuran eksistensial.

Di titik ini, Heidegger bertemu dengan tasawuf tanpa perlu menyebut Tuhan secara eksplisit. Desain—manusia yang sadar akan keterlemparannya—mengalami kegelisahan yang tidak lain bukanlah sebuah gangguan, melainkan sebuah panggilan. Tasawuf menyebut kegelisahan ini sebagai kerinduan Roh atau tanda bahwa manusia tidak diciptakan untuk berhenti pada yang sementara atau fana. Roh tidak bisa ditenangkan dengan hiburan. Ia hanya tenang ketika diingatkan akan asal-usul dan tujuannya.

Bagi Seyyed Hossein Nasr, Roh adalah dimensi sakral manusia yang menghubungkannya dengan realitas tertinggi. Ketika dimensi ini diabaikan, manusia mengalami apa yang ia sebut sebagai existential uprootedness atau ketercerabutan eksistensial.

Disini, Heidegger menjadi sekutu yang tak disengaja bagi tasawuf. Dasein yang jatuh ke dalam das Man adalah manusia yang hidup di permukaan, yang larut dalam rutinitas, dan kehilangan hubungannya dengan kedalaman keberadaan dirinya sendiri. Tasawuf menyebut kondisi ini sebagai ghaflah atau lupa.

Nurcholish Madjid membaca ghaflah ini sebagai hilangnya kesadaran tauhid dalam kehidupan sehari-hari. Bahwa Tuhan diakui secara teologis, namun tidak dihadirkan secara eksistensial.

Catatan Kritis

Belakangan ini tasawuf kontemporer bersikap kritis terhadap ledakan spiritualitas populer, di mana zikir, meditasi, dan simbol-simbol sufi beredar luas. Namun sayangnya fenomena ini, kebanyakan tercerabut dari proses penyucian jiwa. Nasr menyebut fenomena ini sebagai spiritualitas yang kehilangan akar tradisi. Sementara para sufi menyebutnya ibadah tanpa perjalanan spiritual.

Inilah yang membuat manusia tampak religius, tapi rapuh secara moral dan spiritual. Akibatnya membuat manusia mudah membenci. Rajin berzikir, namun enggan berbenah.

Nah, tasawuf kontemporer sebetulnya tidak mengajak manusia meninggalkan dunia. Ia justru ingin mengembalikan manusia ke kedalaman makna dirinya yang hakiki, di mana Roh tidak dijadikan sebagai pelarian, melainkan menjadi pusat orientasi. Jiwa tidak dijadikan sebagai musuh, melainkan menjadi ladang pendidikan. Tubuh tidak menjadi beban, melainkan menjadi sarana.

Dengan demikian menurut Nasr, manusia yang utuh adalah manusia yang kembali mengenali dunianya bukan sebagai objek, melainkan sebagai tanda (ayat). Haidar Bagir menyebutnya sebagai manusia berkesadaran cinta. Al-Ghazali menyebutnya sebagai insan yang terjaga. Heidegger menyebutnya sebagai manusia yang hidup otentik.

Dan...

Di sinilah, kata para sufi lintas zaman yang menegaskan bahwa manusia akhirnya berhenti hanya sekadar hidup. Ia justru terus berproses untuk menjadi manusia paripurna atau Insan Kamil. Weleh, weleh, weleh.(*)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Trump Jilat Ludah Sendiri dengan Longgarkan Sanksi Minyak Rusia, Gertak Iran Sebagai Hadiah Untuk Tiongkok
• 10 jam laludisway.id
thumb
KPK Sita Uang Tunai & Dokumen dalam OTT Bupati-Wabup Rejang Lebong
• 8 jam lalujpnn.com
thumb
Polri Ingatkan Pemudik: Jangan Tunggu Rest Area untuk Istirahat, Jika Lelah Menepi
• 22 jam laluviva.co.id
thumb
Bubur India Masjid Djami Pekojan, Menu Buka Puasa Legendaris yang Selalu Diburu Warga
• 17 jam lalurepublika.co.id
thumb
The Ultimate10K Series Powered by bank bjb Hubungkan Empat Kota Dorong Sport Tourism Nasional
• 3 jam laluidxchannel.com
Berhasil disimpan.