Pernyataan Donald Trump soal harga minyak dan ancaman Iran menjadi salah satu berita populer kumparanBISNIS sepanjang Senin (9/3).
Selain itu, melemahnya nilai tukar rupiah hingga menembus level Rp 17.000 per dolar AS. Untuk lebih jelasnya, berikut rangkuman berita populer tersebut:
Trump Sebut Harga Minyak Bakal Turun Kalau Ancaman Nuklir Iran BerakhirPresiden AS Donald Trump menanggapi lonjakan harga minyak dunia, menyebutnya sebagai pergerakan jangka pendek dan harga kecil yang harus dibayar.
Ia memprediksi harga minyak akan turun drastis setelah ancaman nuklir Iran berhasil ditumpas, menegaskan bahwa AS akan melanjutkan operasi perang dan mempertimbangkan menyerang target baru di Iran.
Konflik antara AS dan Israel dengan Iran telah memicu kenaikan harga minyak yang signifikan, mendekati level USD 120 per barel.
Data menunjukkan harga Brent melonjak hingga 28 persen mencapai USD 118,73 per barel, menjadikannya kenaikan terbesar sejak April 2020. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) menyentuh USD 115,25 per barel.
"Harga minyak jangka pendek, yang akan turun dengan cepat ketika penghancuran ancaman nuklir Iran berakhir, adalah harga yang sangat kecil yang harus dibayar untuk AS, dan dunia, keamanan dan perdamaian. Hanya orang bodoh yang akan berpikir berbeda," tulis Trump di platform Truth Social miliknya, dikutip dari AFP, Senin (9/3).
Lonjakan ini didorong oleh pemangkasan produksi sejumlah produsen minyak di Timur Tengah, penutupan Selat Hormuz, dan ancaman eskalasi konflik dari AS.
Analis Andy Lipow, Presiden Lipow Oil Associates, memperkirakan level psikologis USD 100 hanyalah target jangka pendek sebelum harga bergerak lebih tinggi jika konflik berlanjut, dengan fasilitas penyimpanan penuh akibat ketidakmampuan kapal tanker memuat kargo.
Rupiah Tembus Rp 17.000 per Dolar ASNilai tukar rupiah mengalami pelemahan signifikan hingga menembus level Rp 17.000 per dolar AS, dipicu oleh kombinasi tekanan global dan sentimen domestik.
Ekonom Maybank, Myrdal Gunarto, mengidentifikasi faktor eksternal seperti ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan kekhawatiran gangguan rantai pasok energi global sebagai pemicu utama, yang mendorong lonjakan harga minyak mentah di atas USD 113 per barel.
Dampak tekanan tersebut terlihat pada arus keluar modal yang masif dari pasar keuangan domestik. Di pasar saham, outflow tercatat mencapai lebih dari USD 50 juta per hari, sementara di pasar obligasi pemerintah, dana asing yang keluar diperkirakan menembus lebih dari Rp 500 miliar.
“Kalau saya lihat sih ini memang murni dari tekanan global, terutama dampak perang yang luas. Lalu diikuti dengan kekhawatiran adanya gangguan supply atau supply chain shock,” ujar Myrdal kepada kumparan, Senin (9/3).
Situasi ini diperparah oleh penurunan outlook rating Indonesia oleh lembaga pemeringkat, menambah kerentanan aset domestik.
Bank Indonesia (BI) diyakini perlu memperkuat langkah stabilisasi, termasuk intervensi di pasar valuta asing (spot dan forward) serta pasar sekunder surat utang negara (SUN). Dengan cadangan devisa yang masih memadai, sekitar USD 151,9 miliar hingga Februari lalu, BI memiliki amunisi untuk meredam volatilitas.
Pengamat Pasar Modal Ibrahim Assuabi bahkan memproyeksikan harga minyak mentah berpotensi melonjak hingga USD 200 per barel jika krisis di Timur Tengah tidak terselesaikan dalam sebulan, menimbulkan kekhawatiran terhadap kondisi fiskal dalam negeri.





