Bisnis.com, JAKARTA — Empat pabrik pengolahan alias smelter nikel berteknologi high-pressure acid leaching (HPAL) di kawasan Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP), Sulawesi Tengah, menghentikan sementara produksi setelah terjadi longsor di area pembuangan limbah salah satu fasilitas pada bulan lalu.
Dikutip dari Bloomberg, Selasa (10/3/2026), fasilitas tersebut dioperasikan oleh perusahaan China, GEM Co. Penghentian produksi dilakukan sambil menunggu proses pemulihan area limbah selesai.
Gangguan ini disebut berdampak pada pabrik-pabrik yang secara gabungan menyumbang sekitar 30% kapasitas HPAL Indonesia, menurut sumber yang mengetahui persoalan tersebut.
Sebelumnya, insiden longsor terjadi di fasilitas PT QMB New Energy Materials dan menewaskan satu pekerja. Sumber yang mengetahui hal tersebut menyebutkan penghentian produksi di pabrik tersebut dapat berlangsung hingga 3 bulan.
Adapun, PT QMB New Energy Materials merupakan fasilitas HPAL terbesar dari empat pabrik yang terdampak. Perusahaan ini dimiliki melalui konsorsium yang melibatkan GEM Co. dan produsen nikel China, Tsingshan Holding Group Co.
Pemerintah Indonesia dilaporkan mengancam akan mencabut izin lingkungan QMB setelah insiden tersebut. Kawasan Morowali sebelumnya juga pernah mengalami kecelakaan besar pada 2023 ketika ledakan di fasilitas pengolahan nikel menewaskan sedikitnya 21 orang dan memicu tuntutan pengetatan regulasi industri.
Baca Juga
- APNI Tegaskan Shutdown 3 Smelter Nikel Tak Terkait Pemangkasan RKAB 2026
- Insiden Longsor di IMIP Morowali Renggut Korban Jiwa, KLH Kaji Pencabutan Izin
- Longsor di Kawasan IMIP Morowali Tewaskan Satu Pekerja
Selain QMB, operasi beberapa pabrik lain yang terkait dengan GEM di kawasan yang sama juga dihentikan sementara. Fasilitas-fasilitas tersebut saat ini sedang menjalani evaluasi operasional dan berpotensi kembali beroperasi dalam beberapa minggu ke depan.
Tiga pabrik lain yang ikut menghentikan produksi adalah PT Green Eco Nickel, PT Meiming New Energy Material, dan PT ESG New Energy Material. Ketiganya beroperasi melalui perusahaan patungan dengan sejumlah mitra, termasuk perusahaan Indonesia PT Merdeka Battery Materials.
Juru bicara GEM dan pengelola kawasan Morowali belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar. Permintaan komentar kepada pihak Tsingshan juga belum mendapat respons, sementara perwakilan Merdeka Battery Materials menolak memberikan pernyataan.
Pabrik HPAL digunakan untuk mengolah bijih nikel berkadar rendah menjadi bahan baku untuk baterai kendaraan listrik.
Namun, proses ini menghasilkan limbah dalam jumlah besar atau tailing sehingga pengelolaannya sering menjadi sorotan karena risiko lingkungan, terutama di wilayah yang rawan hujan lebat dan gempa seperti Indonesia.





