MEMASUKI bulan Maret 2026, situasi sosial-politik di Amerika Serikat (AS) kian memanas. Kebijakan imigrasi agresif yang dijalankan pemerintahan Presiden Donald Trump, beriringan dengan retorika politik yang tajam, dilaporkan telah memicu lonjakan kasus Islamofobia ke level tertinggi dalam sejarah. Hal ini memicu gelombang demonstrasi besar di berbagai negara bagian dan menciptakan suasana mencekam bagi komunitas Muslim yang tengah menjalani ibadah Ramadan.
Rekor Tertinggi Kasus IslamofobiaLembaga advokasi Muslim terbesar di AS, Council on American-Islamic Relations (CAIR), merilis data mengejutkan pada Selasa (10/3/2026). Sepanjang tahun 2025 hingga awal 2026, tercatat sebanyak 8.683 pengaduan terkait sentimen anti-Muslim dan anti-Arab. Angka ini melampaui rekor sebelumnya pada tahun 2024.
Menurut laporan CAIR, bentuk diskriminasi yang paling banyak dilaporkan meliputi:
Baca juga : Pidato Kenegaraan Trump, Upaya Terakhir "Hentikan Pendarahan" Popularitas Jelang Pemilu
- Diskriminasi pekerjaan (12,7%)
- Masalah imigrasi dan suaka (6,5%)
- Insiden kebencian (6,4%)
- Diskriminasi perjalanan dan pemeriksaan ketat di bandara (5,6%)
Kebijakan pengetatan imigrasi dan operasi besar-besaran oleh Immigration and Customs Enforcement (ICE) memicu perlawanan sipil yang masif. Di Los Angeles, New York, hingga Minneapolis, ribuan warga turun ke jalan dalam aksi bertajuk "National Shutdown".
Aksi ini dipicu oleh insiden tragis tewasnya seorang perawat bernama Alex Pretti di Minneapolis akibat tembakan aparat federal saat mencoba mendokumentasikan operasi imigrasi. Para demonstran menuntut pembubaran ICE dan penghentian taktik penegakan hukum yang dinilai melanggar hak asasi manusia.
- Pembatasan Perjalanan: Larangan masuk bagi warga dari 39 negara tertentu.
- Operasi ICE: Pengerahan ribuan personel federal ke kota-kota yang dianggap "suaka imigran".
- Sentimen Digital: Terdeteksi lebih dari 25.000 unggahan Islamofobia di platform X sejak akhir Februari 2026.
Situasi ini berdampak langsung pada kekhusyukan umat Muslim dalam menjalani Ramadan. Di Paterson, New Jersey, yang memiliki populasi Muslim per kapita tertinggi di AS, banyak warga memilih membatasi aktivitas di luar rumah karena takut terjaring razia imigrasi atau menjadi sasaran kebencian.
Imam Yusuf Abdulle dari Islamic Association of North America menyatakan bahwa banyak masjid terpaksa membatalkan acara buka puasa bersama (iftar) karena alasan keamanan dan tekanan ekonomi. "Rasa takut itu nyata dan akan menetap untuk waktu yang lama," ujarnya.
Pemerintah federal melalui Presiden Trump menegaskan bahwa langkah-langkah ini diambil demi keamanan nasional dan untuk menekan angka imigrasi ilegal. Namun, para kritikus menilai kebijakan tersebut justru merusak tatanan sosial dan memicu perpecahan di dalam negeri Amerika Serikat.





