Sebanyak 20 rumah di Perumahan Taman Semesta Asri di Guwo, Kalurahan Triwidadi, Kapanewon Pajangan, Kabupaten Bantul, rusak diduga akibat tanah bergerak.
Pantauan kumparan, Selasa (10/3), lokasi perumahan tersebut melewati jalan yang curam. Perumahan berada di bawah Jalan Pule, lingkungannya merupakan perbukitan. Lokasi perumahan cukup jauh dari perkampungan sekitar.
Sampai di lingkungan perumahan tampak retakan-retakan besar di tembok rumah. Beberapa rumah sudah tidak berdiri tegak, dan kondisi pun sepi. Hanya ada beberapa tukang yang tampak sedang melakukan pekerjaan. Mereka menolak diwawancara.
Pantauan di lokasi terlihat ada tiga rumah yang masih dihuni. Namun, tak ada warga yang bisa ditemui. Sementara di salah satu jendela rumah tertulis "KPR Bersubsidi Pemerintah Republik Indonesia".
Kepala Pelaksana BPBD DIY, Agustinus Ruruh Haryata, mengatakan dari data BPBD Bantul terdapat 20 rumah yang rusak berat dengan satu di antaranya roboh.
"Jadi, ini memang sudah dilaporkan dari BPBD Bantul. Itu kan kejadiannya (awal) 26 Februari ini memang karena curah hujan yang tinggi, kemudian memang terjadi pergerakan tanah," kata Ruruh ditemui di Kepatihan Pemda DIY, Selasa (10/3).
Ruruh mengatakan pihaknya menggandeng Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) untuk asesmen.
"Nanti kemudian ditindaklanjuti dengan kajian kira-kira permasalahan atau penyebabnya apa. Nah, supaya dari sisi ilmiah itu kita bisa dipertanggungjawabkan dan juga nanti kita bisa memetakan mana-mana yang sebenarnya daerah itu merupakan kawasan rawan untuk pergeseran tanah di sekitarnya itu cakupannya sampai ke luasan berapa, itu nanti kita bisa dapatkan setelah ada kajiannya," ujarnya.
Selain sisi alamnya, kajian ini untuk mengetahui apakah ada kesalahan dalam proses pembangunan rumah ini. Namun yang jelas, kajian perlu dilakukan agar peristiwa ini tak sampai meluas.
"Karena bagaimanapun kalau dari aspek alam ini, nanti kan cakupannya luasan itu loh yang kita khawatirkan, supaya kemudian kita juga bisa antisipasi bersama, supaya tidak meluas kalau memang kemudian dari hasil kajian itu cakupannya turut luas," katanya.
Berdasarkan catatan BPBD Bantul, tanah mengalami penurunan hingga kurang lebih 2,5 meter.
Di sisi lain, Ruruh mengatakan mendapat laporan pula tanah bergerak di wilayah Sedayu dan Imogiri.
Panewu Pajangan, Anjar Arintaka Putra, membenarkan BPBD akan mendatangkan ahli geologi untuk meneliti penyebab tanah bergerak di area lokasi perumahan.
"Dari pihak pengembang perumahan, sementara menggunakan alat berat membuat saluran air agar tidak terjadi genangan di sekitar lokasi itu, karena akan membahayakan kalau tanahnya longsor ke arah bawah. Karena di bawah terdapat pemukiman warga sebanyak 8 KK, 22 jiwa," kata Anjar melalui pesan singkat, Selasa (10/3).
Para warga ini kembali ke rumahnya yang dahulu demi keamanan.
"Mereka kembali ke rumahnya yang dulu, tidak mengungsi," ujarnya.
Soal masih ada rumah yang tampak dihuni, Anjar meminta mereka tetap waspada. "Mengimbau harus tetap waspada kalau terjadi sesuatu diminta untuk melapor ke BPBD," pungkasnya.





