Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta berencana membangun Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) di kawasan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Bekasi.
Pembangunan fasilitas tersebut diproyeksikan membutuhkan lahan sekitar 8 hingga 10 hektare.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengatakan, saat ini pihaknya tengah menyiapkan skema kerja sama sekaligus menyiapkan lahan baru untuk proyek tersebut.
“Dan kami sekarang ini bekerja sama untuk bisa memanfaatkan tempat-tempat dan pasti akan dibebaskan tempat baru karena memang Bantargebang salah satunya akan kita putuskan untuk PLTSa, Pembangkit Listrik Tenaga Sampah yang beroperasi di sana. Dan untuk itu diperlukan lahan kurang lebih 8 sampai dengan 10 hektare,” ujar Pram kepada wartawan di Balai Kota DKI, Selasa (10/3).
Pram menjelaskan, pengelolaan sampah di TPST Bantargebang juga akan disesuaikan dengan arahan pemerintah pusat. Salah satunya dengan menghentikan praktik pembuangan sampah secara terbuka (open dumping) di zona 4 yang sebelumnya terjadi longsor.
“Untuk Zona 2 dan 3 kita akan tetap operasikan, tapi memang apa yang menjadi arahan Pak Menteri di Zona 4A kita tidak open dumping di situ,” ujarnya.
Ia menegaskan, Pemprov DKI akan mengikuti kebijakan yang ditetapkan pemerintah pusat terkait pengelolaan sampah di kawasan tersebut.
“Ya, pokoknya kita akan mengikuti apa yang menjadi keputusan pemerintah pusat,” tutupnya.
Kawasan TPST Bantargebang sempat menjadi sorotan setelah terjadi longsor sampah di Zona 4 pada Minggu (8/3). Dalam peristiwa itu, sejumlah pekerja tertimbun material sampah.
Tim SAR gabungan kemudian melakukan pencarian selama beberapa hari. Operasi pencarian akhirnya resmi ditutup pada Selasa (10/3) setelah seluruh korban ditemukan.
Kepala Kantor SAR Jakarta Desiana Kartika Bahari mengatakan, total korban jiwa dalam peristiwa tersebut mencapai tujuh orang, sementara enam orang lainnya berhasil selamat.
“Dengan ditemukannya seluruh korban dan tidak adanya laporan korban hilang maka operasi SAR dinyatakan ditutup,” ujar Desiana dalam keterangannya.
Proses pencarian melibatkan 336 personel gabungan dengan dukungan berbagai peralatan, mulai dari alat berat, anjing pelacak (K9), hingga drone thermal untuk mendeteksi keberadaan korban di bawah tumpukan sampah.





