CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan konflik militer antara Washington dan Iran diperkirakan akan segera berakhir. Meski demikian, ia menegaskan perang tersebut tidak akan selesai dalam waktu akhir pekan ini.
Melansir Kantor Berita Nasional Antara, Selasa (10/3), pernyataan itu disampaikan Trump dalam taklimat media di Florida saat ia menilai operasi militer yang dilakukan AS berjalan lebih cepat dari perkiraan awal.
"Kami menang telak. Kami jauh lebih cepat dari jadwal," klaim Trump, yang awalnya memperkirakan konflik tersebut dapat berlangsung selama 4–5 pekan.
Konflik yang kini telah memasuki pekan kedua itu menjadi perhatian dunia, terutama setelah perubahan besar dalam kepemimpinan Iran.
Pernyataan Trump muncul setelah Iran menunjuk Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi baru negara tersebut. Ia menggantikan ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei, yang gugur dalam gelombang pertama serangan gabungan AS dan Israel.
Mojtaba dikenal memiliki kedekatan kuat dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Pengangkatannya sebagai pemimpin tertinggi memicu kekhawatiran di berbagai negara.
Sejumlah pengamat menilai perubahan kepemimpinan ini berpotensi memperpanjang ketegangan di kawasan Timur Tengah. Selain itu, konflik juga berisiko memicu dampak langsung terhadap stabilitas ekonomi global.
Walau menegaskan keberhasilan militer AS dalam konflik tersebut, Trump mengaku tidak sepenuhnya puas dengan situasi politik terbaru di Iran.
"Kami pikir ini hanya akan menyebabkan masalah yang sama untuk negara ini," katanya.
Trump menyebut keberhasilan militer AS sebagai sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya. Namun ia menilai pergantian kepemimpinan di Teheran bisa menimbulkan dinamika baru yang sulit diprediksi.
Dalam kesempatan yang sama, Trump juga memperingatkan Iran agar tidak mencoba mengganggu jalur distribusi energi global.
Ia menegaskan bahwa AS tidak akan ragu melakukan serangan keras jika upaya tersebut benar-benar terjadi.
"Kami akan sangat keras menghantam mereka, sehingga tidak mungkin bagi mereka atau siapa pun yang membantu mereka untuk memulihkan bagian dunia itu," katanya.
Selat Hormuz sendiri dikenal sebagai jalur strategis bagi pengiriman minyak dunia, sehingga setiap gangguan di wilayah tersebut berpotensi memicu lonjakan harga energi global.
Meski konflik masih berlangsung, Trump menyampaikan optimisme terhadap kondisi pasar energi setelah perang berakhir.
Menurutnya, harga minyak dunia berpotensi turun secara signifikan jika situasi keamanan kembali stabil.
Trump juga menyinggung dampak konflik terhadap negara lain, termasuk China yang sangat bergantung pada pasokan energi dari kawasan tersebut.
"Kami benar-benar membantu China dan negara-negara lain, karena mereka mendapatkan banyak energi dari (selat). Tetapi lihat, kami memiliki hubungan yang baik dengan China. Menjadi kehormatan bagi saya untuk melakukan itu," katanya.
Sumber: Kyodo-OANA




