Negara-negara G7 atau Group of Seven menyatakan pada Senin (9/3) bahwa siap untuk mengambil langkah-langkah yang diperlukan guna merespons lonjakan harga minyak global.
Namun, mereka belum berkomitmen untuk melepas cadangan minyak darurat, meskipun harga minyak sempat melampaui USD 119 per barel di tengah berlanjutnya perang antara Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran.
“Kami belum sampai pada tahap itu,” kata Menteri Keuangan Prancis Roland Lescure kepada wartawan di Brussel, setelah memimpin pertemuan telekonferensi para menteri keuangan G7, dikutip dari Reuters.
Lescure menjelaskan, kesepakatan yang dicapai adalah menggunakan berbagai instrumen yang diperlukan apabila dibutuhkan untuk menstabilkan pasar, termasuk kemungkinan pelepasan cadangan minyak.
Harga minyak pada Senin (9/3) sempat mencapai level tertinggi sejak pertengahan 2022, didorong oleh kekhawatiran akan gangguan pengiriman minyak dalam waktu lama serta potensi penurunan produksi dari sejumlah produsen besar yang khawatir konflik semakin meluas.
Namun, pasar berbalik arah pada akhir hari setelah harga minyak acuan turun hingga di bawah USD 90 per barel, menyusul pernyataan Presiden Donald Trump kepada CBS News bahwa perang tersebut “hampir selesai”.
Seorang pejabat G7 pun mengatakan kepada Reuters bahwa terdapat “konsensus luas” untuk tidak melepas cadangan minyak pada tahap ini.
“Bukan berarti ada pihak yang menolak, ini hanya soal waktu. Masih diperlukan analisis lebih lanjut,” ujarnya, sembari memastikan bahwa keputusan akhir akan berada di tangan para pemimpin G7.
Lescure, yang negaranya memegang presidensi G7 tahun ini, mengatakan saat ini tidak terdapat masalah pasokan minyak baik di Eropa maupun Amerika Serikat. Negara-negara Barat mengoordinasikan cadangan minyak strategis mereka melalui International Energy Agency (IEA) yang berbasis di Paris. Lembaga ini dibentuk setelah krisis minyak pada dekade 1970-an.
Dalam pernyataan bersama, para menteri keuangan G7 menyatakan siap mengambil langkah yang diperlukan untuk menjaga pasokan energi global, termasuk melalui pelepasan cadangan minyak apabila diperlukan.
Komisioner Ekonomi Uni Eropa, Valdis Dombrovskis, mengatakan para menteri keuangan G7 tidak membahas kondisi pasar secara spesifik yang dapat memicu pelepasan cadangan minyak strategis. Pembahasan lebih difokuskan pada kesepakatan bersama untuk menggunakan cadangan tersebut jika situasi mengharuskan.
Dombrovskis menambahkan, diskusi lanjutan mengenai respons terhadap lonjakan harga minyak akan dilakukan oleh para menteri energi G7 pada Selasa.
Sementara itu, Kanselir Jerman Friedrich Merz, Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni, dan Perdana Menteri Belgia Bart De Wever mengundang sejumlah pemimpin Eropa untuk membahas isu daya saing ekonomi, termasuk harga energi, dalam sebuah konferensi video pada Selasa.
Pelepasan Cadangan Terbesar IEA Terjadi pada 2022
Direktur IEA, Fatih Birol, mendorong pelepasan cadangan minyak, demikian disampaikan Menteri Keuangan Jepang Satsuki Katayama. Jepang sendiri merupakan salah satu negara dengan cadangan minyak terbesar di dunia.
Negara anggota IEA yang merupakan pengimpor bersih minyak diwajibkan menyimpan cadangan minyak setidaknya setara 90 hari impor minyak.
IEA pernah mengoordinasikan pelepasan cadangan terbesar dalam sejarahnya pada 2022, ketika negara-negara anggotanya melepas lebih dari 180 juta barel minyak setelah invasi Rusia ke Ukraina.
Secara keseluruhan, negara-negara anggota IEA menyimpan lebih dari 1,2 miliar barel cadangan minyak darurat milik pemerintah, serta tambahan sekitar 600 juta barel cadangan industri yang disimpan berdasarkan kewajiban pemerintah.





