EtIndonesia. Seorang anak perempuan yang akan segera menikah mulai membereskan barang-barangnya untuk pindah. Ia mengangkut tiga kotak pakaian, lalu sebuah kotak kosmetik, dua bantal, dan empat boneka.
Terakhir, ia mengambil televisi kecil dari kamarnya.
Sang ibu yang sejak tadi membantu membuka pintu, tiba-tiba menutup wajahnya dan menangis ketika melihat televisi itu dibawa keluar.
Putrinya tertegun. Ia buru-buru meletakkan televisi dan menghampiri ibunya.
“Bu, ada apa?” tanyanya cemas.
“Aku melihat televisi itu… dan aku tak bisa menahan diri,” jawab sang ibu.
“Televisi?” putrinya bingung. “Itu kan aku beli sendiri.”
“Ibu tahu. Ibu tidak menangis karena kamu membawanya pergi. Ibu menangis… karena televisi itu.”
Sang ibu menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri, lalu berkata pelan:
“Dulu, saat kamu kecil, kita sangat miskin. Kita tidak punya televisi. Setiap malam, kita duduk bersama di ruang tamu dan mengobrol.
Lalu kita membeli satu televisi. Kita tetap duduk bersama di ruang tamu. Meski mata tertuju ke layar, saat iklan kita masih bisa berbicara beberapa kalimat.
Kemudian kalian tumbuh besar. Kalian membeli televisi kecil masing-masing. Setelah makan malam, kalian masuk kamar dan menonton acara favorit sendiri-sendiri.
Tapi setidaknya… dari celah pintu, Ibu masih bisa melihat kalian.”
Sang ibu terdiam sejenak. Ia menggigit bibirnya dan melanjutkan,
“Sekarang ayahmu gemar karaoke, sering pulang larut malam. Sweater yang Ibu rajut untukmu masih tertinggal di lemari. Lukisan yang Ibu buat untukmu masih tergantung di dinding.
Tapi kamu tidak lupa membawa televisi kecil itu…”
Putrinya terdiam. Dua puluh tahun kenangan berkelebat di benaknya. Tiba-tiba ia memeluk ibunya erat-erat. Keduanya menangis dalam pelukan.
Yang Diabaikan, Perlahan Terlupakan
Kasih keluarga tidak mudah hilang.
Namun ia mudah diabaikan.
Dan sering kali, mengabaikan sama dengan melupakan.
Persahabatan pun demikian. Kita jarang secara sadar melupakan teman. Tetapi karena sibuk, karena terbiasa, karena merasa mereka “selalu ada”, kita mulai jarang menyapa, jarang mengucap terima kasih.
Padahal, perhatian kecil, kepedulian sederhana, dan kebersamaan yang pernah dilewati bersama—semua itu tersimpan diam-diam di hati.
Kadang kita merasa belum dilupakan hanya karena masih ada kabar, pesan, atau sapaan.
Namun ketika kotak masuk sunyi, tanpa pesan dari sahabat, hati terasa kosong. Bukan karena benar-benar sendirian, melainkan karena hubungan itu perlahan tak lagi dirawat.
Teknologi Mendekatkan, atau Menjauhkan?
Dulu, dalam satu rumah hanya ada satu televisi dan beberapa saluran. Program tidak sebanyak sekarang. Namun keluarga duduk bersama.
Kini hiburan tak terbatas. Setiap orang punya layar sendiri. Ruang pribadi semakin nyaman. Namun waktu bersama semakin berkurang.
Kehidupan menjadi lebih praktis.
Tetapi kedekatan justru bisa semakin renggang.
Dahulu, jika berjalan melewati perumahan di malam hari, kita bisa mendengar tawa satu keluarga dari dalam rumah. Sekarang, pintu tertutup rapat, masing-masing di balik layar masing-masing.
Kemajuan memberi kemudahan.
Namun tanpa kesadaran, ia juga bisa mencuri kebersamaan.
Renungan
Cerita ini bukan tentang televisi.
Ia tentang perubahan kecil yang pelan-pelan menggeser kehangatan.
Tentang perhatian yang tidak lagi diungkapkan.
Tentang kasih yang dianggap wajar sehingga tak lagi dirawat.
Kita jarang sengaja melupakan orang tua, pasangan, atau sahabat.
Namun kita bisa tanpa sadar mengabaikan mereka.
Dan yang terus diabaikan, lama-lama terasa jauh.
Yang terasa jauh, perlahan memudar.
Maka sebelum suatu hari kita menyadari semuanya sudah berubah,
luangkan waktu untuk duduk bersama.
Untuk berbicara tanpa tergesa.
Untuk mengucapkan terima kasih.
Karena kebahagiaan bukan hanya tentang apa yang kita miliki,
tetapi tentang siapa yang masih kita perhatikan dan hargai. (jhon)





