BEKASI, KOMPAS — Tujuh korban tewas dalam tragedi longsoran sampah di Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu atau TPST Bantargebang, Kota Bekasi, Jawa Barat, telah ditemukan. Korban terakhir yakni Riki Supriadi (40), ditemukan pada Senin (9/3/2026) malam. Insiden tersebut menyisakan trauma bagi warga yang beraktivitas di TPST Bantargebang.
"Dengan ditemukannya korban Riki dan tidak ada lagi laporan korban hilang, maka operasi SAR ditutup," ujar Kepala Kantor SAR Jakarta Desiana Kartika Bahari, Selasa (10/3/2026).
Walau operasi SAR telah ditutup, aparat kepolisian terutama dari Polsek Bantargebang tampak masih berjaga jika sewaktu-waktu ada laporan kehilangan dari warga. Selain itu, sejumlah ekskavator juga terlihat masih merapikan longsoran sampah yang ditonton sejumlah warga yang penasaran.
Dengan ditutupnya operasi SAR ini, kata Desiana, artinya terdapat 13 korban yang terkena longsoran sampah di TPST Bantargebang dan tujuh di antaranya tewas. Tujuh korban tewas yakni Enda Widayanti (25), Sumine (60), Dedi Sutrisno, Irwan Supriatin, Jussova Situmorang (38), Hardianto dan Riki Supriadi (40).
Sementara korban yang selamat adalah Budiman, Johan, Safifudin, Slamet, Ato dan Dofir. "Korban selamat sudah kembali ke rumahnya masing-masing," ucap Desiana.
Desiana menyampaikan, dalam proses pencarian yang berlangsung sejak Minggu (8/3/2026), para personel SAR yang berjumlah 336 orang mengandalkan ekskavator untuk membuka akses yang telah tertutup akibat tertimbun sampah. "Kami juga meminta bantuan anjing pelacak untuk mendeteksi keberadaan korban," kata Desiana.
Tidak hanya itu, personel juga memanfaatkan drone pendeteksi panas untuk mencari korban yang tertimbun. Para korban yang ditemukan tewas langsung dibawa ke RS Polri Kramat Jati, Jakarta Timur untuk diidentifikasi.
Longsor di TPST Bantargebang, Kota Bekasi, terjadi di Zona 4 pada Minggu (8/3/2026) sekitar pukul 14.00 WIB. Musibah terjadi ketika truk-truk sedang mengantre giliran membongkar sampah. Longsor tersebut salah satunya dipicu hujan lebat yang berlangsung dalam waktu lama.
Jaka (58) merupakan saksi mata utama yang melihat langsung kejadian longsor tersebut. "Saya melihat longsoran itu meluncur dengan sangat cepat. Bahkan Bu Sumine dan menantunya Enda tidak bisa menyelamatkan diri saking cepatnya longsoran tersebut," kata Jaka mengingat insiden tersebut.
Adapun tiga korban lain merupakan pengemudi truk yang sedang menunggu antrean truk untuk membongkar sampah. "Tiga korban waktu itu sedang ngopi di warung Bu Sumine," ujar Jaka.
Longsoran terjadi setelah hujan deras mengguyur sejak Sabtu (7/3/2026) hingga Minggu (8/3) pagi. "(Minggu) siang baru terjadi longsor," kata Jaka.
Karena Jaka melihat secara detail peristiwa tersebut, ia pun turut membantu petugas untuk menemukan jenazah korban. "Kebanyakan dari korban jatuh di sungai kecil yang tak jauh dari gunungan sampah," ujar Jaka.
Murni Sinambela (47) saksi mata yang lain menuturkan, dia sempat berbincang dengan Jussova Situmorang sebelum longsoran terjadi. "Waktu itu saya bertanya, kamu gak gereja," kata Murni.
Jussova pun menjawab, "Nanti saja, saya sedang mengumpulkan barang bekas mumpung gak ada saingan," kata Murni menirukan perkataan Jussova saat itu. Tak lama setelah perbincangan itu, longsor pun terjadi.
Murni yang sudah 20 tahun berjualan makanan di sekitar gunungan sampah di TPST baru kali ini menyaksikan longsor yang sedemikian besar. Dua bulan lalu di titik yang hampir sama, juga terjadi longsor yang menimpa tiga truk. "Namun saat itu tidak ada korban," ucap Murni.
Kejadian ini sempat membuat Murni trauma, namun ia tetap harus bekerja untuk menyambung hidup keluarganya."Trauma memang tapi ya saya akan tetap jualan. Kalau tidak, saya makan apa," kata Murni.
Di TPST Bantargebang saat ini, longsoran sampah masih tampak di badan sungai. Penanganan akan dilakukan dengan mengangkut sampah tersebut ke Zona 4 kecil dan Zona 4 besar. "Selanjutnya dirapikan dengan target Selasa ini aliran sungai sudah lancar dan tidak ada luapan ke jalan," ujar Kepala Dinas Lingkungan Hidup Jakarta, Asep Kuswanto.
Langkah lainnya, menurut Asep, adalah menjaga kondisi jalan lingkungan yang terdampak luapan air kali saat longsor. Bakal dilakukan perbaikan turap kali pada 2 titik agar tidak menimbulkan masalah baru.





