Bisnis.com, JAKARTA — Mayoritas emiten yang bernaung di bawah bendera Grup Sinar Mas mencatatkan kinerja keuangan yang melandai sepanjang 2025.
Penurunan laba bersih tersebut terlihat merata di sejumlah sektor andalan grup, mulai dari properti, kawasan industri, hingga pertambangan batu bara.
Berdasarkan laporan keuangan akhir Desember 2026, lini bisnis properti Sinar Mas menjadi salah satu yang paling tertekan. PT Duta Pertiwi Tbk. (DUTI) tercatat mengalami koreksi laba bersih paling tajam dengan penurunan hingga 50,45% secara tahunan (year on year/YoY) menjadi Rp1,29 triliun pada 2025.
Koreksi signifikan juga dialami oleh, PT Bumi Serpong Damai Tbk. (BSDE). Emiten pengelola kawasan BSD City tersebut membukukan laba bersih senilai Rp2,58 triliun pada 2025. Perolehan itu menyusut 40,79% YoY dibandingkan dengan capaian tahun sebelumnya yang menembus Rp4,35 triliun.
Sementara itu, pengelola kawasan industri Kota Deltamas, PT Puradelta Lestari Tbk. (DMAS), juga tidak luput dari tren penurunan. DMAS melaporkan laba bersih sebesar Rp724,98 miliar sepanjang 2025, atau melorot 39,99% jika dibandingkan dengan perolehan tahun 2024 yang mencapai Rp1,20 triliun.
Tidak hanya di sektor properti, tekanan kinerja juga membayangi lini bisnis energi dan pertambangan. PT Golden Energy Mines Tbk. (GEMS) melaporkan laba bersih senilai US$258,23 juta pada 2025 atau turun 45,50% YoY.
Baca Juga
- Emiten Grup Sinar Mas GEMS Raih Laba Bersih US$268 Juta pada 2025, turun 43,39%
- Emiten CPO Sinar Mas SMAR Cetak Laba Bersih Rp2,58 Triliun pada 2025, Melejit 102%
- Minta Izin Stock Split, Emiten Sinar Mas DSSA Gelar RUPSLB 11 Maret 2026
Di tengah tren penurunan mayoritas emiten grup, PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk. (SMAR) justru tampil sebagai satu-satunya anomali. Laba bersih emiten agribisnis ini melesat 102,23% YoY menjadi Rp2,58 triliun, kontras dengan performa rekan-rekan satu grupnya yang mayoritas melemah.
Padahal, SMAR melaporkan penurunan volume produksi sepanjang tahun buku 2025. Meski demikian, kenaikan harga jual rata-rata berhasil membawa perseroan mencatatkan lonjakan laba bersih sepanjang tahun lalu.
Berdasarkan keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), manajemen SMAR mengungkapkan penurunan produksi kebun dipengaruhi oleh kegiatan persiapan lahan untuk peremajaan (replanting) tanaman tua.
Sepanjang 2025, SMAR membukukan produksi Tandan Buah Segar (TBS) sebanyak 2,21 juta ton, atau terkoreksi 1% dibandingkan capaian 2024 sebesar 2,24 juta ton. Secara terperinci, produksi TBS inti turun 0,5% menjadi 1,73 juta ton, sementara produksi TBS plasma menyusut 4% menjadi 480.000 ton.
Sejalan dengan itu, total produksi produk sawit perseroan juga mengalami koreksi sebesar 2% menjadi 665.000 ton. Penurunan tersebut didorong oleh produksi crude palm oil (CPO) yang turun 1% ke level 525.000 ton, serta produksi palm kernel (PK) yang merosot 4% menjadi 140.000 ton.
Meskipun secara operasional melandai, dari sisi kinerja keuangan SMAR tetap mencatatkan pertumbuhan top line. Penjualan bersih perseroan terpantau melesat 10,28% secara tahunan (year-on-year/YoY) menjadi Rp86,94 triliun.
Secara rinci, realisasi itu didorong oleh kontribusi pasar domestik sebesar Rp46,04 triliun (53%) dan pasar ekspor senilai Rp40,9 triliun (47%).
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.





