JAKARTA, KOMPAS.com - Suku Dinas Sumber Daya Air (SDA) Jakarta Barat membenarkan banjir bercampur lumpur tanah merah yang melanda kompleks Taman Permata Buana, Kembangan, Jakarta Barat, disebabkan oleh kebocoran proyek tanggul yang belum rampung.
Kasudin SDA Jakarta Barat, Purwanti Suryandari, menjelaskan, air meluap ke permukiman warga karena tanggul sementara tidak mampu menahan tingginya debit air Kali Angke.
"Itu kan sedang proses pembangunan sheet pile, supaya Kali Angke-nya tertanggul gitu. Nah, pada saat pembangunan ini, kan sebenarnya kita sudah antisipasi dengan buat tanggul pakai geobag dan tanah gitu kan," kata Purwanti saat dikonfirmasi Kompas.com, Senin (9/3/2026).
Baca juga: Seluruh Titik Banjir di Jakarta Barat Sudah Surut Hari Ini
Purwanti menyebut, pihaknya harus menunggu debit air kali turun untuk melakukan penyedotan.
"Kalau udah meluap itu untuk penanganannya ya kita harus nunggu kali itu surut dulu sedikit, baru bisa kita operasiin pompa," ucapnya.
Purwanti menambahkan, pengerjaan turap beton di sisi aliran Kali Angke ini telah dimulai sejak 2025 dan ditargetkan selesai pada 2027.
Selama masa pengerjaan, Sudin SDA Jakbar fokus menangani potensi banjir dengan mengandalkan pompa stasioner maupun pompa bergerak di area rawan banjir, termasuk di sekitar Kompleks Permata Buana yang berbatasan langsung dengan aliran Kali Angke.
Selain itu, pengurasan dan pengerukan lapisan tanah di saluran air juga akan terus dilakukan secara berkala.
"Kita juga akan memastikan tali-tali air berfungsi dengan baik, kemudian pengurasan dan pengerukan tanah di kali juga akan terus dilakukan secara berkala," kata Purwanti.
Bukan jebol, tapi bocorSenada, petugas keamanan kompleks Taman Permata Buana, Supriadi juga mengakui bahwa banjir di permukiman tersebut berasal dari luapan Kali Angke yang bocor dari tanggul.
Menurutnya, air meluap karena proyek tanggul memang belum selesai dibangun.
"Ini kan lagi pemasangan turap kan itu. Kalau dinamakan jebol ini berarti turapnya roboh. Tapi ini kan turapnya tidak ada yang roboh, hanya bocor aja, tapi deras," jelas Supriadi saat ditemui Kompas.com di lokasi, Senin.
Baca juga: Banjir di Periuk Tangerang Berangsur Surut, Masih Ada yang Terendam 4 Meter
Supriadi mengungkapkan, banjir menerjang permukiman secara tiba-tiba pada Sabtu (7/3/2026) malam.
"Kejadian banjir di sini kejadiannya malam, malam Minggu, tiba-tiba aja banyak air, deres banget," ucapnya.
Luapan air itu turut menyeret material tanah merah dari area proyek hingga meluber ke jalanan aspal di area kompleks.
"Langsung dia banjir, sekitar 50 sampai 60 sentimeter (cm), yang kena sekitaran RW 09 dan RW 11, air sampai masuk ke pelataran rumah-rumah," ujar Supriadi.
Area jalanan kompleks pun sempat tertutup tanah merah tebal yang licin. Padahal, kata Supriadi, wilayah itu sebelumnya tidak pernah banjir.





