Kemarau di Jatim Lebih Kering, BMKG Ingatkan Antisipasi Dini

kompas.id
5 jam lalu
Cover Berita

MALANG, KOMPAS - Musim kemarau di wilayah Jawa Timur pada tahun ini diprediksi lebih kering dari tahun lalu dengan curah hujan di bawah normal. Pemangku kepentingan diingatkan untuk merencanakan langkah antisipasi dini, mulai dari menjaga ketahanan pangan, mencegah krisis air bersih, hingga mengantisipasi bencana alam kebakaran hutan dan lahan.

Perkiraan kondisi kemarau tahun ini disampaikan Kepala Stasiun Klimatologi Kelas II Jawa Timur di Malang, Anung Suprayitno, dalam konferensi pers prediksi musim kemarau 2026 yang digelar secara virtual, Selasa (10/3/2026).

Menurut Anung, sebagian besar wilayah Jatim mulai memasuki musim kemarau pada Mei 2026. Dari 74 zona musim (ZOM) di Jatim, sebanyak 43 ZOM (56,9 persen) memasuki kemarau pada bulan ke lima. Sisanya, 26 ZOM pada April dan 5 ZOM pada Juni.

Dibanding kondisi normal, perbandingan awal musim kemarau di sebagian wilayah Jatim itu sedikit mundur. Namun, ada juga beberapa daerah yang awal musim kemaraunya maju. Ini terjadi pada daerah-daerah yang memiliki iklim relatif basah.

“Namun, kembali lagi, perbandingan awal musim kemarau 2026 dengan normalnya (1991-2020), yang awal awal musim hujannya diprediksi mundur ada 36 ZOM (46,2 persen). Sedangkan 23 ZOM sama waktunya dan 15 ZOM maju,” papar Anung.

Berdasarkan perkembangan dinamika atmosfer, menurut Anung, kondisi El Nino Southern Oscillation (Enzo) dan Indian Ocean Dipole (IOD) di Jatim sampai pertengahan tahun diprediksi normal. Selanjutnya, el nino akan menguat dan masuk kategori lemah-moderat hingga akhir 2026. Namun, prediksi tersebut masih 50-60 persen.

Menurut Anung, sifat curah hujan di sepanjang musim kemarau 2026 bakal lebih kering dibanding normal. Hanya 18 ZOM (25 persen) yang kondisinya normal. Sisanya, sebanyak 56 ZOM atau 75 persen di bawah normal.  

Baca JugaMusim Kemarau Diprediksi Datang Lebih Awal, Lebih Lama, dan Lebih Kering

Lantas kapan puncak musim kemarau terjadi? Puncak kemarau dominan berlangsung pada Agustus. Ada 53 ZOM yang mengalami puncak kemarau di bulan tersebut, khususnya di wilayah tengah Jatim, mulai dari Malang, Probolinggo, Jember, hingga sebagian Madura.   

Adapun mengenai durasi musim kemarau, ada daerah-daerah yang hanya mengalami 10-12 dasarian (4 bulan), tetapi ada juga daerah yang mengalami hingga 9 bulan. Daerah dengan durasi panjang biasanya mengawali musim kemarau lebih dulu dan baru berakhir di akhir tahun. Namun, rata-rata durasi terbesar kemarau kali ini berlangsung 6-7 bulan.

“Yang harus diwaspadai untuk daerah-daerah yang mengalami durasi musim kemarau lebih dari 6 bulan, perencanaan antisipasi harus secara dini dipersiapkan. Durasi-durasi lebih panjang ini terjadi di Jatim sisi selatan, juga sebagian Madura, Tuban, Bojonegoro, Jember, Situbondo, Probolinggo,” katanya.

Sementara itu, Deputi Klimatologi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Ardhasena Sopaheluwakan mengatakan, kemarau di Jatim berpotensi lebih kering di sebagian besar wilayah. Kondisi ini tentu saja menuntut kewaspadaan bersama terkait dampak kekeringan dan turunannya.

Namun, di sisi lain, kata Ardhasena, kemarau yang panjang juga mengandung peluang positif, antara lain, di sektor produksi garam. Curah hujan rendah dan cuaca terik mendukung proses penguapan sehingga berpotensi meningkatkan produksi garam dan mempercepat panen dengan hasil berkualitas.

Baca JugaKemarau Lebih Kering, Risiko Kebakaran Lahan Meningkat

Adapun tanaman hortikultura, seperti cabai, bawang, tomat, dan lainnya, akan tumbuh sehat jika didukung oleh irigasi yang baik dan drainase yang tepat. Intensitas sinar matahari yang tinggi akan meningkatkan kualitas hasil panen pada buah-buahan dan sayuran tertentu.

“Demikian pula tembakau yang jadi andalan petani di berbagai kabupaten di Jatim akan diuntungkan oleh kondisi kemarau tahun ini. Tembakau tidak membutuhkan banyak air dan akan tumbuh baik di cuaca panas dengan curah hujan rendah,” katanya.

Selain dampak positif, menurut Ardhasena, dampak negatif kemarau yang lebih kering tentu saja perlu diantisipasi. Di antaranya penurunan produksi pangan di lahan tadah hujan, keterlambatan atau kegagalan tanam, hingga penurunan hasil panen akibat kekurangan irigasi. Krisis air bersih dan potensi risiko kebakaran lahan akibat vegetasi kering dan angin kencang saat puncak kemarau juga berpotensi terjadi.

Untuk mengantisipasi dan meminimalisir risiko tersebut, ada beberapa rekomendasi yang perlu segera diimplementasikan, di antaranya memanfaatkan peta prediksi awal kemarau di masing-masing ZOM untuk menyesuaikan jadwal tanam secara tepat. Prioritaskan tanaman tahan kering serta terapkan irigasi hemat air sejak Mei-Juni guna menjaga produktivitas di tengah curah hujan di bawah normal.

Yang harus diwaspadai untuk daerah-daerah yang mengalami durasi musim kemarau lebih dari 6 bulan, perencanaan antisipasi harus secara dini dipersiapkan

Selain itu, manfaatkan informasi soal durasi kemarau dan curah hujan rendah untuk pengisian maksimal embung/waduk dan percepatan konservasi daerah tangkapan air, serta perbaikan irigasi di ZOM yang curah hujannya di bawah normal.

“Kita juga perlu antisipasi kebakaran hutan dengan memperkuat pemantauan titik panas, patroli preventif, edukasi masyarakat, serta siapkan posko dan koordinasi antisipasi lainnya untuk menjaga cadangan air,” kata Ardhasena.

Pada level masyarakat dan rumah tangga, dia menambahkan, perlu disosialisasikan soal informasi kemarau agar mereka bisa mulai berhemat air bersih, memperbaiki kebocoran, hingga menyiapkan stok pangan minimal dua-tiga bulan di awal kemarau.

 


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Bazar Ramadhan di Jantung Tahura Bunder, Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta Jadi Wujud Nyata Kepedulian kepada Masyarakat Sekitar Hutan
• 21 jam lalutvonenews.com
thumb
Isu Tunggakan Parkir RS Unhas Terjawab, Mitra Swasta Selesaikan Kewajiban Pajak
• 9 jam laluterkini.id
thumb
KPK Sita Duit Ratusan Juta Saat OTT Bupati Rejang Lebong
• 42 menit laludetik.com
thumb
Kabur dari Tim, Lima Pemain Timnas Wanita Iran Dapat Suaka dari Australia
• 8 jam lalukumparan.com
thumb
Ziarah ke Makam, Ria Ricis Ungkap Kenangan Pertemuan Terakhir dengan Vidi Aldiano
• 6 jam lalugrid.id
Berhasil disimpan.