Bisnis.com, JAKARTA — Ekonom Center Of Reform on Economics (Core) menilai lonjakan aktivitas ekonomi dari momen tahunan mudik relatif terbatas dan tidak merata di seluruh wilayah Indonesia. Umumnya hanya terkonsentrasi di Jawa.
Strategic Research Manager Core Indonesia Yusuf Rendy Manilet menuturkan, daerah yang menjadi tujuan utama mudik, yakni Jawa Tengah dan Jawa Timur, memang mendapat berkah karena otomatis mendorong aktivitas ekonomi lokal.
Utamanya pada sektor perdagangan ritel, kuliner, transportasi lokal, dan pasar tradisional, meski peningkatan ini bersifat jangka pendek karena setelah periode arus balik selesai, aktivitas ekonomi kembali ke level normal.
“Daerah di luar Jawa yang secara struktural membutuhkan stimulus ekonomi justru tidak mendapatkan dorongan konsumsi yang sama kuatnya karena sangat terkonsentrasi di Jawa,” ujarnya kepada Bisnis, Selasa (10/3/2026).
Yusuf memandang, tantangan utama dari dorongan daya beli di momen mudik datang dari perubahan struktur kelas konsumen dalam beberapa tahun terakhir.
Pasalnya terjadi penyusutan kelas menengah dan peningkatan jumlah masyarakat yang berada di kelompok calon kelas menengah. Kelompok ini tetap berkontribusi terhadap konsumsi, tetapi pola belanjanya lebih hati-hati dan defensif.
Baca Juga
- Awas Macet! Puncak Arus Mudik di Tol Trans Jawa Diprediksi 18 Maret
- Tarif Tol Cipali Diskon 30% Selama Arus Mudik Lebaran 2026, Cek Ketentuannya!
- Wamenhub: Realisasi Pemudik Lebaran 2026 Berpotensi Lebih Tinggi dari 143,9 Juta Orang
Akibatnya, pengeluaran saat mudik cenderung difokuskan pada kebutuhan dasar seperti makanan, transportasi, dan bantuan untuk keluarga, sementara belanja yang lebih ekspansif seperti elektronik, renovasi rumah, wisata lokal, atau produk non esensial menjadi lebih terbatas.
“Karena itu kita melihat sebuah paradoks dalam ekonomi mudik. Mobilitas masyarakat sangat tinggi tetapi kualitas stimulus ekonominya tidak sekuat sebelumnya,” tambahnya.
Meski Yusuf tak menampik bahwa jumlah pergerakan masyarakat cukup besar, sayangnya daya beli yang dibawa ke daerah cenderung lebih terbatas. Alhasil, mudik lebih berfungsi menjaga konsumsi dasar di daerah daripada benar-benar mendorong pertumbuhan ekonomi daerah secara signifikan.
Pemerintah sendiri telah menggelontorkan beragam stimulus diskon transportasi kepada masyarakat untuk medukung daya beli.
Mulai dari diskon tarif tiket pesawat rute domestik kelas ekonomi sebesar 17%—18%, diskon tarif jasa kepelabuhanan pada angkutan penyeberangan sebesar 100%, diskon 30% kapal Pelni, dan diskon 30% tiket kereta api.
Belum lagi, pemerintah dan pihak swasta mengadakan program mudik gratis ke berbagai rute di seluruh Indonesia.
Berharap Efek ke PelosokWakil Menteri Perhubungan (Wamenhub) Suntana sebelumnya menyampaikan, mudik bukan sekadar tradisi tahunan, melainkan momentum besar yang menggambarkan mobilitas masyarakat, kesiapan infrastruktur, serta menguji kualitas transportasi Indonesia.
Harapannya, momentum ini turut menggerakkan ekonomi di wilayah-wilayah yang menjadi tujuan mudik.
“Beberapa survei sudah menyatakan, ekonomi di beberapa wilayah dengan pulangnya pemudik itu dapat meningkatkan daya beli masyarakat di wilayah sana,” ungkapnya di Wisma Bisnis Indonesia, Selasa (10/3/2026).
Terlebih, Kemenhub melalui Badan Kebijakan Transportasi (BKT) memprediksikan akan ada 143,9 juta pergerakan masyarakat selama masa Angkutan Lebaran 2026.
Pergerakan terbesar pemudik berasal dari Jawa Barat sebanyak 30,97 juta orang, diikuti DKI Jakarta (19,93 juta) dan Jawa Timur (17,12 juta). Sedangkan dari sisi tujuan, arus terbesar mengarah ke Jawa Tengah sebesar 38,71 juta orang, disusul Jawa Timur (27,29 juta) dan Jawa Barat (25,09 juta).
Kementerian Keuangan (Kemenkeu) sendiri ingin mendorong pertumbuhan ekonomi mencapai 5,6% year on year (YoY) pada kuartal I/2026 dengan mempercepat belanja pemerintah, yakni melalui belanja stimulus ekonomi jelang Idulfitri,





