JAKARTA, DISWAY.ID-- Anjloknya Rupiah hingga 76 poin atau 0,45 persen hingga menyentuh angka Rp 17.001 per Dolar AS kian menjadi sorotan banyak pihak, baik dari pasar maupun dari masyarakat umum. Pasalnya, pelemahan Rupiah ini sendiri dinilai sebagai batas psikologis penting bagi pelaku pasar.
Kendati begitu, sejumlah Analis sendiri menilai bahwa kondisi perekonomian Indonesia sendiri masih memiliki peluang yang kuat untuk kembali bangkit, hingga membuka peluang bagi rupiah untuk kembali menguat ketika gejolak global mereda.
BACA JUGA:Bos BGN Sebut Negara Hanya Tanggung Sepertiga Gizi Anak dari MBG, Sisanya Jadi Beban Orang Tua
BACA JUGA:Berapa Saldo e-Toll yang Harus Disediakan saat Mudik Lebaran 2026? Pastikan Cukup sampai Tujuan
Hal serupa sendiri juga turut dikatakan oleh Ketua Umum Perkumpulan Analis Efek Indonesia (PAEI), David Sutyanto.
Menurutnya, pandangan otoritas moneter terdapat nilai tukar Rupiah saat ini belum sepenuhnya mencerminkan kondisi ekonomi Indonesia memiliki dasar yang kuat.
"Beberapa indikator makro menunjukkan ekonomi nasional masih berada pada jalur yang relatif stabil. Artinya secara makro tidak ada perubahan drastis yang menjelaskan pelemahan rupiah sedalam ini," jelas David kepada Disway secara daring, pada Selasa (10/03).
Dalam hal ini, David juga turut menyoroti tingkat inflasi, yang masih berada dalam kisaran sasaran sekitar 2,5 persen untuk periode 2026–2027.
BACA JUGA:Bupati Rejang Lebong Terjaring OTT KPK di Bengkulu
BACA JUGA:Detik-Detik Bupati Rejang Lebong Kena OTT KPK, Dibidik saat Acara Seremoni hingga Ditangkap di Rumah
Selain itu di sektor keuangan, penyaluran kredit perbankan pada Januari 2026 tercatat tumbuh sekitar 9,96 persen secara tahunan.
Di sisi lain, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2025 mencapai sekitar 5,11 persen.
"Analogi sederhananya, rumahnya masih berdiri dengan struktur yang kuat, tetapi harga pasarnya sedang turun karena sentimen global dan kondisi lingkungan sedang bergejolak," tegas David.
Sementara itu hingga artikel ini ditulis, pihak Disway sendiri masih belum mendapatkan tanggapan apapun dari pihak Bank Indonesia (BI) terkait dengan jatuhnya nilai tukar Rupiah hingga ke angka Rp 17.001 tersebut.
Devisa Hasil Ekspor jadi Penguat Stabilitas
- 1
- 2
- »





