Jakarta, tvOnenews.com – Lonjakan harga minyak dunia akibat memanasnya konflik di Timur Tengah memicu kekhawatiran terhadap pasokan energi dalam negeri.
Namun pemerintah memastikan ketersediaan bahan bakar minyak (BBM) tetap aman hingga periode Lebaran.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan stok BBM nasional masih mencukupi meskipun harga minyak global sempat melonjak di atas US$100 per barel.
Pernyataan tersebut disampaikan Bahlil usai memenuhi panggilan Presiden Prabowo Subianto di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Selasa (10/3/2026).
Pertemuan tersebut antara lain membahas kesiapan pemerintah menghadapi momentum Lebaran serta dampak ketegangan geopolitik global terhadap sektor energi dan pangan.
Menurut Bahlil, fluktuasi harga minyak dunia memang terjadi dalam beberapa hari terakhir. Setelah sempat melonjak tajam, harga minyak kembali mengalami penurunan pada perdagangan terbaru.
Meski demikian, pemerintah telah menyiapkan langkah antisipasi untuk menjaga stabilitas pasokan energi nasional.
“Saya juga dapat memastikan untuk menyangkut subsidi BBM sampai dengan hari raya insyaallah tidak ada kenaikan apa-apa. Jadi, negara hadir untuk memastikan bahwa sekalipun ada kenaikan harga minyak mentah dunia, tapi subsidi tetap sama,” kata Bahlil.
Ia juga meminta masyarakat tidak melakukan pembelian BBM secara berlebihan di tengah situasi global yang tidak menentu.
“Saya menyarankan dan meminta agar tidak perlu ada panic buying karena memang stok BBM kita cukup,” ujarnya.
Bahlil menjelaskan bahwa cadangan BBM nasional saat ini berada pada tingkat yang aman, dengan kapasitas penyimpanan yang mampu menopang kebutuhan energi hingga tiga minggu ke depan.
“Stok BBM cukup sampai dengan kapasitas atau storage penuh hingga 21 hari sampai 25 hari ke depan,” jelasnya.
Menurut dia, ketersediaan energi nasional tetap terjaga karena rantai pasok berjalan normal. Aktivitas industri energi domestik juga terus beroperasi, sementara impor minyak mentah tidak mengalami hambatan berarti.
“Tapi itu kan dia pergi dan datang lagi. Industri kita jalan terus dan impor kita enggak ada masalah, apalagi di Timur Tengah itu kita cuma impor crude minyak mentahnya,” kata Bahlil.



