- BGN mengklarifikasi video viral menu MBG di Pamekasan menunjukkan hanya sebagian paket makanan, bukan seluruhnya.
- Paket makanan lengkap terdiri dari lele marinasi, tahu, tempe, roti pizza, telur rebus, susu, dan buah naga.
- SMA Negeri 2 Pamekasan menolak 1.022 porsi makanan karena dinilai mentah, berbau amis, dan tidak layak konsumsi.
Suara.com - Badan Gizi Nasional (BGN) memberikan klarifikasi terkait video viral yang menampilkan menu Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di salah satu sekolah di Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur. Video tersebut memperlihatkan paket makanan berisi lele dan tempe marinasi yang menjadi jatah MBG siswa pada Senin (9/3).
BGN menyatakan potongan video yang beredar di media sosial tidak menampilkan keseluruhan isi paket makanan sehingga memunculkan persepsi yang tidak utuh mengenai menu yang disiapkan.
Wakil Kepala BGN, Nanik Sudaryati Deyang, mengatakan berdasarkan laporan yang diterima pihaknya, paket makanan yang disiapkan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Pamekasan Pademawu Buddagan sebenarnya terdiri dari sejumlah komponen menu.
Ia menjelaskan paket makanan tersebut meliputi lele marinasi, tahu dan tempe ungkep, roti pizza, telur rebus, susu full cream, serta buah naga.
“Berdasarkan laporan yang kami terima, menu yang disiapkan SPPG sebenarnya lengkap. Namun dalam video yang beredar hanya terlihat sebagian menu karena pihak sekolah menolak mengeluarkan paket makanan dari kendaraan distribusi,” kata Nanik dalam keterangannya, Selasa (10/3/2026).
Menurut Nanik, video yang beredar hanya menampilkan sebagian menu sehingga menimbulkan kesan seolah paket makanan yang disiapkan tidak memadai.
BGN menegaskan bahwa menu dalam program MBG disusun dengan memperhatikan keseimbangan gizi serta standar keamanan pangan. Lembaga tersebut juga memastikan setiap polemik yang muncul di lapangan akan ditindaklanjuti melalui koordinasi dan evaluasi.
“Program MBG menempatkan keamanan pangan dan kualitas gizi sebagai prioritas utama. Kami terus melakukan pemantauan serta evaluasi agar seluruh proses penyiapan hingga distribusi makanan berjalan sesuai standar yang telah ditetapkan,” ujar Nanik.
Di sisi lain, Ahli Gizi SPPG Pamekasan Pademawu Buddagan, Fikri Kuttawakil, menjelaskan penggunaan lele marinasi dalam menu MBG didasarkan pada pertimbangan gizi serta ketahanan pangan.
Baca Juga: Kalang Kabut! Purbaya Terhimpit, Bahlil Terjepit
Ia mengatakan proses marinasi bertujuan menjaga kandungan gizi pada ikan sekaligus membantu mempertahankan kualitas bahan pangan.
“Mengapa kami menggunakan lele marinasi? Pertama, untuk mencegah berkurangnya gizi di lele itu dan menambah protein di hari itu. Ketika dimarinasi, lele juga bisa bertahan sampai satu hari,” kata Fikri.
SPPG Pamekasan Pademawu Buddagan diketahui melayani sebanyak 3.329 penerima manfaat. Mereka terdiri dari siswa SMA/SMK/MA, SMP/MTs, PAUD/TK, SLB, tenaga pendidik, serta kelompok ibu hamil, ibu menyusui, dan balita di wilayah tersebut.
Sebelumnya, SMA Negeri 2 Pamekasan dilaporkan menolak sekitar 1.022 porsi paket MBG yang didistribusikan pada Senin (9/3). Paket makanan tersebut merupakan jatah siswa untuk beberapa hari ke depan.
Kepala SMAN 2 Pamekasan, Moh Arifin, mengatakan penolakan dilakukan karena menu yang diterima dinilai tidak layak dikonsumsi. Ia menyebut ikan lele dalam paket makanan masih mentah dan menimbulkan bau amis. Selain ikan lele, juga terdapat dua iris tempe dan tahu.
Menurut Arifin, pihak sekolah memutuskan mengembalikan paket makanan tersebut karena khawatir dapat membahayakan kesehatan siswa. Selain itu, makanan yang tidak dikonsumsi dikhawatirkan menimbulkan bau dan mencemari lingkungan sekolah.




