Demi Sekuel "Rambo II" di Iran, Amerika Pilih Main Keroyokan

kumparan.com
8 jam lalu
Cover Berita

Dalam mitologi pop Pentagon, Amerika Serikat selalu membayangkan dirinya sebagai John Rambo: otot kawat tulang besi, ikat kepala merah, dan kemampuan melumat satu batalion musuh sendirian.

Namun, menyaksikan agresivitas Washington di tanah Persia sepanjang Februari hingga awal Maret 2026 ini, kita dipaksa melihat realitas yang kontradiktif.

Di bawah komando Donald Trump yang ambisius, Amerika tidak lagi datang sebagai "pahlawan tunggal". Lewat Operasi Epic Fury, Paman Sam justru datang dengan strategi yang jauh dari kesan ksatria: mereka main keroyokan.

Paradoks Sang "One-Man Army"

Ada alasan psikologis mengapa judul film Rambo: First Blood Part II kembali relevan. Di film itu, Rambo bertanya, "Do we get to win this time?" (Apakah kita diizinkan menang kali ini?).

Setelah kegagalan memalukan di masa lalu dan kebuntuan geopolitik bertahun-tahun, Amerika seperti sedang memaksakan sebuah akhir cerita yang heroik di Iran. Mereka ingin menghapus memori kegagalan dengan sebuah kemenangan mutlak.

Namun, ironinya adalah: untuk menghidupkan fantasi "Rambo" yang menang perang itu, Amerika justru harus membuang identitas "pahlawan tunggal"-nya.

Washington sadar, Iran 2026 bukan lagi Iran 1979. Iran hari ini adalah labirin pertahanan udara yang canggih dan jaringan proxy yang menggurita. Maka, dimulailah strategi keroyokan itu. Amerika menyeret Israel ke garis depan, menggandeng logistik Inggris, dan menuntut solidaritas paksa dari NATO.

Ini bukan lagi perang antar-negara; ini adalah pengeroyokan global terhadap satu kedaulatan.

Pengeroyokan Militer dan Cekikan Ekonomi

Strategi keroyokan ini dimainkan di dua papan catur sekaligus. Secara kinetik, serangan udara ke Teheran dan Isfahan yang kita saksikan sejak 28 Februari lalu adalah hasil kerja sama intelijen lintas negara.

Laporan tentang wafatnya Ayatollah Ali Khamenei dan lumpuhnya infrastruktur garda revolusi adalah buah dari koordinasi serangan yang sangat rapi; terlalu rapi untuk dilakukan oleh satu negara sendirian.

Namun, yang lebih kejam adalah pengeroyokan ekonomi. Amerika memaksa dunia untuk menjadi algojo bagi Iran.

Dengan tekanan diplomatik yang brutal, mereka memastikan sekutu-sekutu di Asia hingga Eropa benar-benar memutus keran devisa Teheran. Iran tidak hanya dihujani rudal dari langit, tapi juga dikepung dari meja-meja perundingan internasional.

Amerika ingin memastikan bahwa saat rakyat Iran lapar dan gelap gulita karena sanksi, mereka akan bangkit melakukan revolusi; sebuah skenario "penyelamatan" yang sudah disiapkan skripnya di Hollywood.

Harga yang Harus Dibayar Rakyat Kecil

Sebagai pengamat yang sering melihat kebijakan dari kacamata "rakyat kecil", saya melihat ada kemunafikan besar di sini.

Amerika mungkin merasa sedang melakukan operasi bedah yang presisi, namun faktanya, "sengatan" dari strategi keroyokan ini telah sampai ke dapur-dapur warga di belahan dunia lain, termasuk kita di Indonesia.

Per 7 Maret 2026, harga emas global yang menyentuh $5.500 per troy ons dan Rupiah yang terseok-seok di angka Rp16.900-an adalah bukti otentik.

Setiap ledakan di Teheran adalah kenaikan harga logistik di Nias. Setiap rudal yang diluncurkan koalisi adalah beban tambahan bagi APBN kita untuk menambal subsidi energi yang membengkak akibat ancaman penutupan Selat Hormuz.

Amerika sedang bermain film aksi, sementara dunia menanggung biaya produksinya yang terlampau mahal.

Finalitas: Akhir yang Tak Akan Pernah Sama

Sejarah tidak pernah ditulis oleh mereka yang dikeroyok, tapi sejarah selalu mencatat bahwa api yang dinyalakan dengan cara keroyokan biasanya akan membakar rumah si penyulutnya sendiri.

Harapan Washington agar terjadi pemberontakan rakyat di Iran pasca-kematian tokoh-tokoh kunci mereka adalah sebuah perjudian kosong.

Sejarah Timur Tengah mengajarkan bahwa agresi asing justru sering kali menjadi lem perekat nasionalisme yang paling kuat.

Amerika mungkin bisa menghancurkan instalasi nuklir Iran dengan bantuan "geng"-nya. Mereka mungkin bisa memenangkan pertempuran di udara. Namun, mereka tidak akan pernah bisa memenangkan hati rakyat yang melihat rumah dan sekolah mereka hancur oleh bom koalisi.

Pada akhirnya, ambisi untuk menciptakan sekuel "Rambo II" di Iran hanya akan melahirkan tragedi baru yang lebih panjang.

Amerika boleh saja bangga dengan strategi keroyokannya hari ini, tetapi mereka lupa satu hal: dalam kehidupan nyata, tidak ada sutradara yang bisa meneriakkan kata "Cut!" ketika situasi mulai tak terkendali.

Perang ini bukan film, dan penontonnya (rakyat kecil di seluruh dunia) sudah terlalu lelah untuk bertepuk tangan.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Rupiah Menguat Usai Trump Sebut Perang di Iran Segera Berakhir
• 17 jam lalukatadata.co.id
thumb
Ketua F-PKB MPR Gelar Iftar, Tekankan Pentingnya Berbagi di Bulan Ramadan
• 6 jam laludetik.com
thumb
Revitalisasi 1.408 Madrasah Disiapkan Pemerintah pada 2026 untuk Tingkatkan Fasilitas Pendidikan Keagamaan
• 22 jam lalupantau.com
thumb
Rupiah Tembus 17 Ribu, Menkeu: Fondasi Ekonomi Kita Kuat 
• 8 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Profil Bahtiar Baharuddin, Mantan Pj Gubernur Sulsel yang Terseret Dugaan Korupsi Nanas Rp60 Miliar
• 11 jam lalugrid.id
Berhasil disimpan.