REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai pasar keuangan Indonesia masih menunjukkan ketahanan di tengah meningkatnya gejolak ekonomi dan geopolitik global. Data aktivitas transaksi dan aliran dana investor menunjukkan kondisi pasar domestik tetap terjaga.
Pjs Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif dan Bursa Karbon OJK Hasan Fawzi mengatakan, dinamika global saat ini memang dipengaruhi fragmentasi geopolitik dan ketidakpastian ekonomi dunia. Kondisi tersebut memicu volatilitas pasar di berbagai negara, termasuk Indonesia.
Baca Juga
Harga Minyak Turun Tajam, IHSG Menguat Ikuti Bursa Global
BEI Buka Transparansi Daftar Pemegang Saham, IHSG Anjlok 3,5 Persen Lebih
Hasan menjelaskan, eskalasi konflik di Timur Tengah berpotensi mendorong kenaikan harga komoditas global yang dapat menimbulkan dampak lanjutan terhadap perekonomian. Dampak tersebut antara lain dapat memengaruhi tekanan inflasi global hingga posisi fiskal sejumlah negara.
“Kenaikan harga komoditas dan energi tentu sama-sama kita tahu secara langsung akan meningkatkan tekanan posisi fiskal dan juga tentu respons di pasar modal kita,” kata Hasan saat berbincang dengan media di Jakarta, Selasa (10/3/2026).
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Hasan menjelaskan, kondisi tersebut perlu dicermati karena gejolak global sering memunculkan dampak lanjutan atau second round impact terhadap sektor keuangan. Pada fase awal ketidakpastian, investor biasanya akan menyesuaikan strategi investasinya.
Hasan menjelaskan, pada fase awal krisis global investor cenderung mengalihkan portofolio ke instrumen yang dianggap lebih aman. “Biasanya pada saat terjadi kondisi krisis awal yang terjadi adalah kemudian mendorong adanya flight to quality dimana investor menempatkan kembali investasinya pada instrumen-instrumen yang dianggap lebih aman,” kata Hasan.