Bisnis.com, JAKARTA — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat penyaluran pembiayaan kendaraan listrik pada Januari 2026 tumbuh sebesar 39,13% (year on year/YoY).
Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, LKM, dan LJK Lainnya OJK Agusman mengatakan nilai itu setara dengan Rp21,05 triliun.
“Ini didorong peningkatan penjualan kendaraan listrik dan diperkirakan akan tetap tumbuh positif pada 2026 sejalan tren elektrifikasi kendaraan,” katanya dalam jawaban tertulis RDK OJK Februari 2026, dikutip pada Senin (9/3/2026).
Agusman berpendapat perbaikan pasar otomotif pada awal tahun menjadi sinyal positif bagi pembiayaan kendaraan, dengan prospek pertumbuhan positif pada 2026.
Oleh sebab itu, dia turut menilai bahwa proyeksi pertumbuhan piutang pembiayaan 6%—8% pada 2026 menjadi realistis dengan mempertimbangkan target industri dan kondisi perekonomian.
“Untuk mencapainya, perusahaan perlu mengoptimalkan potensi sektor dan wilayah yang prospektif dengan tetap menjaga kualitas aset dan manajemen risiko,” sebutnya.
Baca Juga
- Tips dan Cara Beli Mobil Bekas dengan Skema Kredit, Untuk Ganti Kendaraan saat Lebaran
- BRI Finance Ramal Momentum Lebaran Kerek Pembiayaan Kendaraan Bekas
Di lain sisi, praktisi dan pengamat industri pembiayaan Jodjana Jody menuturkan masih ada tantangan yang perlu dihadapi industri dalam menyalurkan pembiayaan mobil listrik.
“Tantangan battery electric vehicle [BEV] ini tentu masih seputar nilai jual kembali [resale value] dan juga kepastian merek baru ini bisa bertahan tidak dalam kompetisi yang sangat berat di Indonesia,” katanya kepada Bisnis, Senin (22/12/2025).
Menurut Jodjana, pemain BEV saat ini hampir semuanya pemain baru dari China. Hal ini terlihat dari jumlah merek yang sudah dipasarkan di Indonesia mencapai lebih dari 20 merek, sementara kue bisnisnya kecil yakni hanya sekitar 11%.
“Itu pun sudah di-support dengan policy pemerintah yang gila-gilaan seperti bebas bea import, bebas PPnBM, bebas BBNKB dan juga bebas PPN 10%, sehingga harganya jadi murah,” tuturnya.
Sebagai informasi, pada Januari 2026 OJK mencatat piutang pembiayaan sebesar Rp508,27 triliun, naik 0,78% (YoY) dari Rp506,50 triliun.
Sementara itu, Non-Performing Financing (NPF) gross sebesar 2,72% dan NPF net sebesar 0,82%. Adapun, gearing ratio perusahaan pembiayaan sebesar 2,11 kali.





