JAKARTA, KOMPAS.com – Menjelang Lebaran Idul Fitri 2026, media sosial ramai membicarakan satu model busana muslim yang namanya cukup unik, yakni gamis “bini orang”.
Istilah tersebut dengan cepat menyebar di berbagai platform dan membuat model gamis itu banyak dicari pembeli.
Fenomena ini bahkan mulai terlihat di pasar-pasar busana. Model baju itu disebut menjadi salah satu yang paling sering ditanyakan pembeli dalam beberapa pekan terakhir.
Namun, pengamat mode sekaligus perancang busana Lisa Fitria menilai tren itu kemungkinan besar hanya bersifat sementara dan muncul karena momentum menjelang Lebaran.
Baca juga: Tren Gamis Bini Orang”, Sosiolog: FOMO dan Strategi Marketing
“Ini hanya musiman saja gitu. Jadi nanti setelah hari raya itu mah sudah enggak. Karena ini memang apa ya, kalau istilahnya tuh kayak digoreng lah ya. momentum aja gitu,” ujar Lisa saat dihubungi Kompas.com, Selasa (10/3/2026).
Menurut dia, tren seperti ini biasanya hanya bertahan singkat, terutama di periode sebelum dan saat Lebaran.
“Bukan sesuatu yang akan menjadi trend lama gitu. Paling tidak ini di dua bulan ini aja. Di sebelum lebaran sama pas di lebaran. Nanti pas setelah ke lebaran tuh udah hilang itu pasti,” kata Lisa.
Tren yang lahir dari pasarLisa menjelaskan, tren busana muslim di Indonesia sering kali dipengaruhi oleh dinamika pasar, terutama dari pusat perdagangan seperti Tanah Abang.
Menurut dia, kawasan tersebut merupakan salah satu produsen besar yang menyuplai pakaian muslim untuk segmen menengah ke bawah, yang juga menjadi pasar terbesar di Indonesia.
Baca juga: Sosiolog: Tren Gamis Bini Orang” Tak Lepas dari Konsumsi Jelang Lebaran
Lisa mencontohkan tren busana “shimmer-shimmer” yang sempat viral beberapa tahun lalu. Tren tersebut muncul secara cepat dan ramai digunakan masyarakat meski sebenarnya tidak mengikuti prediksi tren fesyen global.
“Padahal sebenarnya waktu itu diciptakannya itu jadi tidak mengikutin aturan trend forecasting global gitu,” ujar dia.
Menurut Lisa, tren seperti itu biasanya muncul untuk menarik perhatian publik dalam waktu singkat.
“Jadi ini sebenarnya siklus content creator yang membuatnya gitu. Di tiap lebaran gitu. Jadi istilahnya apalagi nih di apa namanya tahun depan gitu,” kata dia.
Peran media sosial dan strategi pemasaranSosiolog Universitas Gadjah Mada (UGM) Andreas Budi Widyanta melihat fenomena gamis “bini orang” tidak bisa dilepaskan dari meningkatnya konsumsi masyarakat selama Ramadhan.
Menurut Andreas, momen Ramadhan dan Lebaran kerap dimanfaatkan pelaku usaha untuk mendorong minat belanja masyarakat.
Baca juga: “Istri Sah” vs “Bini Orang”, Adu Pamor Model Gamis Lebaran 2026 di Tanah Abang





