Investor Tunggu Data Inflasi, Wall Street Ditutup Melemah

katadata.co.id
13 jam lalu
Cover Berita

Indeks bursa Wall Street di Amerika Serikat ditutup turun pada perdagangan Selasa (10/3) waktu setempat, menjelang rilis data inflasi konsumen utama. Di sisi lain, kontrak berjangka saham (stock futures) diperdagangkan mendekati garis datar.

Indeks S&P 500 turun 0,21% ke level 6.781,48. Sementara itu, Dow Jones Industrial Average turun 34,29 poin atau 0,07% menjadi 47.706,51. Adapun Nasdaq Composite nyaris stagnan, menguat tipis 1,16 poin atau 0,01% ke 22.697,10.

Kontrak berjangka Dow Jones Industrial Average turun 16 poin. Sementara itu, kontrak berjangka S&P 500 naik tipis 0,01%, sedangkan kontrak berjangka Nasdaq terkoreksi 0,04%.

Sembilan dari sebelas sektor dalam S&P 500 berakhir di zona negatif, sedangkan sektor layanan komunikasi dan teknologi mencatat kenaikan tipis.

“Saya pikir, kita sedang berada pada periode di mana pasar bearish sudah terjadi di sektor perangkat lunak, saham Magnificent Seven, dan kripto. Menurut saya, hal itu sudah mengurangi banyak spekulasi,” kata Kepala Riset Fundstrat Global Advisors Tom Lee dikutip dari CNBC, Rabu (11/3)

Investor menantikan rilis data indeks harga konsumen atau consumer price index (CPI) Februari yang dijadwalkan keluar hari ini. Data ini dinilai penting untuk melihat kekuatan pasar dan ekonomi Amerika Serikat, terutama setelah muncul tanda-tanda pelemahan pasar tenaga kerja dalam beberapa bulan terakhir. Para ekonom yang disurvei oleh Dow Jones memperkirakan inflasi utama (headline CPI) naik 2,4% secara tahunan (year on year).

Di sisi lain, harga minyak mengalami pergerakan tajam sepanjang pekan ini. Pada Senin, harga minyak sempat melonjak mendekati US$120 per barel di tengah meningkatnya kekhawatiran terkait konflik di Iran. Namun pada Selasa harga minyak turun, dipicu harapan bahwa sejumlah negara akan memanfaatkan cadangan minyak darurat.

Harga energi kembali melemah setelah Menteri Energi AS Chris Wright sempat menulis dalam unggahan media sosial yang kemudian dihapus, bahwa Angkatan Laut AS berhasil mengawal kapal tanker melalui Selat Hormuz. Namun kemudian Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt mengatakan bahwa AS sebenarnya tidak mengawal kapal tanker melalui jalur strategis tersebut.

Kontrak berjangka minyak West Texas Intermediate sempat turun hingga US$ 76,73 per barel, tetapi akhirnya ditutup merosot hampir 12% di level US$ 83,45 per barel. Sementara itu, minyak Brent crude turun lebih dari 11% dan ditutup di level US$ 87,80 per barel.

“Menurut saya, pasar sebenarnya menangani kenaikan harga minyak dengan cukup baik. Kami justru melihat harga minyak yang lebih tinggi bisa berdampak positif bagi pasar saham AS,” ujar Lee.

Ia menambahkan, S&P 500 masih mencatat kenaikan sekitar 0,6% sepanjang pekan berjalan seiring meredanya kekhawatiran pasar terhadap konflik Iran. Kekhawatiran tersebut sedikit mereda setelah Presiden AS Donald Trump pada Senin memberi sinyal bahwa konflik tersebut berpotensi segera berakhir.

Sekitar 25 menit setelah penutupan perdagangan, kontrak berjangka minyak AS kembali melonjak pada perdagangan lanjutan. Kontrak West Texas Intermediate naik lebih dari 4% menjadi US$ 87,20 per barel setelah perdagangan dibuka kembali pada pukul 18.00 waktu setempat.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Prabowo Tegaskan Komitmen Berantas Perusak Ekonomi dan Korupsi di Indonesia
• 11 jam lalusuara.com
thumb
Laporan Masalah IKNB Banjiri Layanan Informasi OJK Malang Awal 2026
• 12 jam lalubisnis.com
thumb
Berkunjung ke Al-Munawwir, Kaesang dan Rombongan PSI Mengecas Batin
• 6 jam lalujpnn.com
thumb
PJLP DKI Keluhkan Potongan THR hingga Rp 1,2 Juta
• 11 jam lalukompas.com
thumb
Menuju Swasembada Energi, Presiden Prabowo Targetkan Akselerasi Elektrifikasi Nasional
• 1 jam lalutvrinews.com
Berhasil disimpan.