REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Visinema Studios mempersembahkan film keluarga terbaru Na Willa yang akan meramaikan momen libur Lebaran 2026. Disutradarai Ryan Adriandhy, film berdurasi 118 menit ini berhasil menggambarkan dunia anak-anak yang hangat, sederhana, dan penuh keajaiban.
Republika berkesempatan menonton film ini pada Selasa (10/3/2026). Film yang diadaptasi dari novel berjudul sama karya Reda Guadiamo ini menyajikan cerita yang cukup sederhana, mengikuti keseharian anak perempuan yang cerdas dan gemar mengeksplorasi banyak hal bernama Na Willa (Luisa Adreena).
Baca Juga
Sutradara Ryan Andriandhy Dedikasikan Film Na Willa untuk Anak Indonesia
Ben Stiller 'Ngamuk' Gedung Putih Catut Filmnya untuk Video Perang AS-Iran
Artis Kanada Balikin Penghargaan Setelah Pidatonya tentang Palestina Dipotong
Willa tumbuh dengan imajinasi yang kuat, penuh rasa ingin tahu, dan selalu penasaran terhadap dunia di sekitarnya. Menonton Na Willa seperti diajak kembali ke masa kecil di mana hal-hal sederhana seperti pergi ke pasar, melihat anak ayam, hingga membaca papan nama toko, terasa begitu seru. Terlebih latar waktu tahun 1960-an terasa kian menarik, karena penonton bisa melihat bagaimana serunya dunia anak-anak sebelum ada gawai.
Potongan adegan film Na Willa. - (Dok. Visinema Studio)
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Untuk bisa menikmati film Na Willa, kita perlu melihat cerita ini dari sudut pandang anak-anak. Jika menontonnya dengan perspektif orang dewasa, film ini mungkin terasa biasa saja. Namun ketika kita ikut masuk ke cara pandang Na Willa, film ini justru terasa hangat dan menyenangkan, seperti kembali ke masa kecil.
Kehangatan itu juga terasa lewat interaksi Na Willa dengan Gank Krembangan yakni Farida (Freya Mikhayla), Dul (Azamy Syauki), dan Bud (Arsenio Rafisay). Pertemanan mereka terasa polos dan tulus, khas dunia anak-anak.
Film Na Willa tetap mempertahankan elemen penting dalam novel, termasuk latar belakang etnis karakter utama yang beragam. Willa lahir dari orang tua yang berbeda etnis, Mak (Irma Rihi) yang berasal dari Nusa Tenggara Timur adapun Pak (Junior Liem) berdarah China. Pesan keberagaman ini juga menambah makna dari film tersebut.