Bisnis.com, JAKARTA – Pelemahan indeks harga saham gabungan (IHSG) sejak awal 2026 oleh sejumlah faktor eksternal dan internal seperti MSCI sampai konflik geopolitik global, membuka peluang akumulasi saham-saham berkualitas yang harganya telah terdiskon.
Biasanya, untuk membidik saham murah meriah ini investor bisa melakukan pendekatan price to earnings ratio atau PE. Rasio ini menggambarkan harga saham saat ini dengan laba bersih per saham (EPS). Saat ini terdapat sejumlah emiten yang memiliki PE di bawah rata-rata 5 tahun mereka sehingga dinilai masuk dalam daftar saham diskon.
Analis Infovesta Kapital Advisori, Ekky Topan mengingatkan bahwa untuk memilih deretan saham harga diskon saat ini, penting untuk mempertimbangkan fundamental dan sektornya.
"Saham dengan rasio PE rendah belum tentu otomatis memiliki peluang kenaikan yang besar. Valuasi murah bisa menjadi indikator awal, tetapi tetap perlu dilihat apakah didukung oleh prospek bisnis, momentum sektoral, serta kualitas fundamental perusahaan," kata Ekky kepada Bisnis, Selasa (10/3/2026).
Dari daftar saham harga diskon sekarang, menurutnya LSIP dan AKRA cukup menarik untuk dicermati karena didukung oleh momentum sektoral yang relatif positif. LSIP misalnya, masih mendapat dukungan dari prospek komoditas CPO, sementara AKRA memiliki katalis dari aktivitas perdagangan energi dan kawasan industri yang masih bertumbuh.
Jika melihat kondisi saat ini, sambung dia, banyak saham terlihat undervalued lebih karena kondisi pasar yang sedang kurang kondusif. Sentimen global yang masih bergejolak membuat investor cenderung bersikap risk-off dan lebih memilih meningkatkan porsi kas, sehingga terjadi tekanan jual di pasar saham secara luas.
Baca Juga
- Saham Big Banks dan Konglomerasi Diskon Maret 2026, Ada BBCA hingga ASII Cs
- Pilah-pilih Saham Andalan Asing di Tengah IHSG yang Sedang Lesu
- Rapor Emiten Batu Bara AADI vs ITMG Cs, Siapa Paling Moncer?
"Jadi dalam banyak kasus, valuasi yang terlihat murah saat ini bukan semata-mata karena kinerja perusahaan melemah, tetapi lebih dipengaruhi oleh faktor sentimen pasar dan arus dana yang keluar dari aset berisiko," ujarnya.
Ekky menambahkan saran, penting bagi investor untuk tidak hanya berfokus pada valuasi semata. Selain melihat rasio seperti PE atau return on equity (ROE), investor juga perlu mempertimbangkan prospek pertumbuhan ke depan, kondisi sektor, serta momentum pergerakan harga sahamnya.
"Saham yang terlihat murah belum tentu memiliki potensi kenaikan jika tidak didukung oleh katalis yang jelas. Oleh sebab itu pendekatan yang lebih bijak adalah mengombinasikan analisis valuasi dengan analisis fundamental dan momentum pasar, sehingga keputusan investasi bisa lebih terukur dan tidak hanya bergantung pada satu indikator saja," tandasnya.
Berdasarkan data yang dihimpun dari Stockbit Sekuritas melalui sortir saham-saham paling murah dengan PE di bawah rata-rata 5 tahun terakhir dari harga yang terbentuk per penutupan pasar Senin (9/3/2026), sejumlah daftar saham diskon ini berisi antara lain PT Media Nusantara Citra Tbk. (MNCN) dengan PE 3,44 kali. Menilik fundamentalnya, emiten afiliasi Hary Tanoesoedibjo ini membukukan laba bersih Rp753,68 miliar sepanjang 9 bulan pertama 2025, turun 17,88% YoY. Pendapatan perseroan juga susut 0,96% yoy menjadi Rp5,90 triliun.
Selain itu, ada pula PT Unilever Indonesia Tbk. (UNVR) dengan PE 9,39 kali. Di sisi fundamental, UNVR meraup pertumbuhan laba bersih 126,8% YoY menjadi Rp7,64 triliun sepanjang 2025. Pendapatan perseroan juga tumbuh 4,3% YoY menjadi Rp31,94 triliun.
Berikutnya, ada saham PT AKR Corporindo Tbk. (AKRA) dengan PE 10,51 kali. Dari sisi fundamental, emiten kawasan industri dan perdagangan BBM ini membukukan kenaikan pendapatan 13,2% YoY menjadi Rp32,39 triliun dalam 9 bulan pertama 2025. Laba bersih perseroan juga tumbuh 12,3% YoY menjadi Rp1,65 triliun.
Sementara itu, bila menggunakan screener saham big caps dengan PE di bawah 10 kali dan return on equity (ROE) di atas 7%, maka didapatkan daftar saham yang berisi PT Adaro Andalan Indonesia Tbk. (AADI) dengan PE 6,50 kali, PT Indofood Sukses Makmur Tbk. (INDF) PE 6,84 kali, PT Astra International Tbk. (ASII) PE 7,23 kali, PT United Tractors Tbk. (UNTR) PE 7,45 kali, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) PE 7,95 kali, PT Alamtri Resources Indonesia Tbk. (ADRO) PE 9,36 kali, dan PT Unilever Indonesia Tbk. (UNVR) dengan PE 9,39 kali.
____
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.


:strip_icc()/kly-media-production/medias/5489576/original/078791800_1769907622-Ansyari_Lubis.jpg)


