Profil Ayatollah Ali Reza, Penerus Ali Khamenei yang Wafat Sehari Usai Ditunjuk

katadata.co.id
8 jam lalu
Cover Berita

Situasi politik Iran kembali menjadi perbincangan masyarakat dunia setelah wafatnya Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Pemimpin yang telah berkuasa selama lebih dari tiga dekade tersebut dilaporkan tewas akibat serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel di Teheran pada Sabtu (28/2/2026).

Pasca-peristiwa tersebut, Iran bergerak cepat untuk memastikan stabilitas negara tetap terjaga. Pemerintah kemudian menunjuk Ayatollah Ali Reza sebagai pemimpin sementara atau pemimpin transisi guna mengisi kekosongan jabatan, sebelum kemudian digantikan oleh Mojtaba Khamenei.

Profil Ayatollah Ali Reza, Pengganti Ali Khamenei
Profil Ayatollah Ali Reza (ihram.co.id)
 

Penunjukan Ayatollah Ali Reza menjadi perhatian internasional karena posisi pemimpin tertinggi di Iran memiliki kekuasaan sangat besar. Jabatan tersebut memegang kendali atas kebijakan politik, militer, keamanan nasional, serta arah ideologi negara.

Namun, situasi semakin dramatis setelah Ayatollah Ali Reza meninggal dunia hanya sehari setelah penunjukan tersebut. Peristiwa tersebut memperbesar ketidakpastian politik Iran yang sedang berada dalam situasi konflik geopolitik yang memanas di Timur Tengah.

Mekanisme Penunjukan Pemimpin Tertinggi Iran

Sistem politik Iran memiliki mekanisme khusus dalam menentukan pemimpin tertinggi. Berdasarkan konstitusi negara tersebut, pemimpin tertinggi dipilih oleh Majelis Pakar, sebuah lembaga yang terdiri dari sekitar 90 ulama senior.

Majelis Pakar dipilih melalui pemilu setiap delapan tahun dan memiliki kewenangan penuh untuk menentukan serta mengawasi kepemimpinan tertinggi Republik Islam Iran.

Dalam situasi darurat seperti wafatnya pemimpin tertinggi, konstitusi memungkinkan pembentukan Dewan Kepemimpinan sementara. Ayatollah Ali Reza ditunjuk sebagai anggota ahli hukum dalam dewan tersebut.

Dewan kepemimpinan sementara terdiri dari beberapa tokoh penting negara, antara lain:

  • Presiden Iran Masoud Pezeshkian.
  • Ketua Mahkamah Agung Gholamhossein Mohseni Ejei.
  • Ayatollah Ali Reza sebagai ahli hukum senior.

Dewan tersebut bertugas menjalankan fungsi pemimpin tertinggi hingga Majelis Pakar menetapkan pemimpin baru secara permanen.

Latar Belakang Ayatollah Ali Reza

Ayatollah Ali Reza lahir pada tahun 1959 di Meybod, sebuah kota di Provinsi Yazd, Iran. Ia berasal dari keluarga ulama yang memiliki pengaruh besar dalam lingkungan keagamaan.

Ayahnya, Ayatollah Mohammad Ibrahim Arafi, dikenal sebagai ulama yang memiliki hubungan dekat dengan pendiri Republik Islam Iran, Ayatollah Ruhollah Khomeini. Latar belakang keluarga tersebut membuat Ayatollah Ali Reza tumbuh dalam tradisi keilmuan Islam yang kuat.

Sejak usia muda, ia kemudian pindah ke kota Qom untuk menempuh pendidikan keagamaan. Qom merupakan pusat pendidikan teologi Syiah yang menjadi tempat lahirnya banyak ulama berpengaruh di Iran.

Lingkungan pendidikan dan keluarga tersebut membentuk Ayatollah Ali Reza sebagai tokoh ulama yang memiliki pengaruh kuat di kalangan institusi keagamaan Iran.

Pendidikan dan Status Mujtahid

Dalam tradisi ulama Syiah, posisi keilmuan seseorang diukur melalui jenjang pendidikan dan pengakuan keilmuan dari ulama lainnya. Ayatollah Ali Reza diketahui telah mencapai tingkat Mujtahid.

Gelar Mujtahid merupakan tingkat tertinggi dalam hierarki keilmuan Islam Syiah. Status ini memberikan otoritas kepada seorang ulama untuk menafsirkan hukum Islam secara independen serta mengeluarkan fatwa.

Selama menjalani pendidikan di Qom, Ayatollah Ali Reza mempelajari berbagai disiplin ilmu keislaman, antara lain:

  • Fikih Islam.
  • Filsafat Islam.
  • Hukum Islam.
  • Tafsir Al-Qur’an.
  • Teologi Syiah.

Pencapaian tersebut menjadikan Ayatollah Ali Reza sebagai salah satu otoritas keagamaan yang memiliki legitimasi kuat dalam sistem Republik Islam Iran.

Karier Ayatollah Ali Reza

Berbeda dengan sebagian tokoh politik Iran yang dikenal melalui aktivitas politik elektoral, Ayatollah Ali Reza lebih banyak membangun pengaruh melalui jalur kelembagaan.

Karirnya berkembang pesat setelah Ali Khamenei menjadi pemimpin tertinggi pada tahun 1989. Dalam periode tersebut, Ayatollah Ali Reza dipercaya mengisi sejumlah posisi strategis dalam institusi keagamaan.

Beberapa jabatan penting yang pernah dipegang Ayatollah Ali Reza antara lain:

  • Imam salat Jumat di Meybod dan Qom.
  • Presiden Universitas Internasional Al-Mustafa pada periode 2009–2018.
  • Anggota Dewan Penjaga sejak tahun 2019.
  • Ulama senior dalam struktur keagamaan Iran.
  • Tokoh pendidikan Islam internasional.
  • Wakil ketua kedua Majelis Pakar pada pemilu 2024.

Universitas Al-Mustafa di Qom dikenal sebagai institusi pendidikan yang menerima mahasiswa dari berbagai negara. Lembaga tersebut berperan penting dalam penyebaran pemikiran keagamaan Iran di tingkat global. Dalam salah satu pernyataannya, Ayatollah Ali Reza pernah menyebut jaringan lembaga tersebut memiliki misi global untuk memperluas pengaruh ajaran Syiah.

Meskipun sempat gagal dalam pemilu Majelis Pakar 2016 di Teheran, Ayatollah Ali Reza kemudian berhasil masuk melalui pemilihan sela pada tahun 2021. Pada pemilu Majelis Pakar tahun 2024, ia bahkan menjadi peraih suara terbanyak di Teheran.

Sikap Politik terhadap Amerika Serikat

Dalam sejumlah pernyataan publik, Ayatollah Ali Reza dikenal memiliki sikap keras terhadap Amerika Serikat. Ia pernah menyebut Amerika sebagai pusat pelanggaran hak asasi manusia dalam salah satu pidatonya. Pernyataan tersebut mencerminkan posisi politik yang sejalan dengan garis kebijakan keras Republik Islam Iran terhadap negara Barat.

Dalam pidato lain, Ayatollah Ali Reza juga menegaskan bahwa tekanan internasional tidak akan membuat Iran menghentikan pengembangan kemampuan militernya. Sikap politik tersebut membuatnya dikenal sebagai tokoh yang memiliki pandangan tegas dalam isu geopolitik.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Rekomendasi Tempat Bukber Daerah Jabodetabek, Mana Favorit teman kumparan?
• 10 menit lalukumparan.com
thumb
Hakim Pertanyakan Julukan “Mas Menteri”, Nadiem Makarim Sebut Berawal dari Jokowi
• 11 jam laluokezone.com
thumb
International Women’s Day 2026 Soroti Pentingnya Ruang Aman bagi Perempuan
• 3 jam lalukumparan.com
thumb
Indonesia Dorong ASEAN Lebih Tangguh dan Inklusif dalam Forum ASCC 2026
• 21 jam lalutvrinews.com
thumb
Bojan Hodak: Teja Paku Alam Layak Dipanggil Timnas
• 4 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.