Badan Pengurus Pusat (BPP) Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) mengakui perang antara Israel dan Amerika Serikat (AS) dengan Iran membuat ekonomi menjadi tidak menentu.
Ketua Umum BPP Hipmi, Akbar Himawan Buchari, menilai saat ini diperlukan konsolidasi dari semua pihak terkait mengenai dampak perang di Timur Tengah tersebut, khususnya ke ekonomi.
"Ke depan kita harus lebih kompak karena menghadapi tantangan ekonomi global yang semakin tidak menentu. Satu-satunya cara adalah kita tetap solid untuk bisa menghadapi ini," kata Akbar saat buka puasa bersama Hipmi di Hotel Bidakara, Jakarta Selatan, Selasa (10/2).
Akbar menegaskan Hipmi mendukung respons pemerintah yang selalu update dan berupaya mengintervensi terhadap situasi global. Apalagi, kata Akbar, saat ini pengusaha yang bergantung pada bahan baku dari luar negeri sudah terkena dampak perang tersebut.
"Kita mau ekspansi, mau investasi, kita mau melaksanakan kegiatan operasional bisnis. Saat ini, bahan baku yang bergantung pada impor sudah terkena dampaknya," ungkap Akbar.
Akbar mengakui dengan dolar yang sempat menyentuh Rp 17 ribu per dolar AS dan harga minyak yang mencapai USD 100 dolar AS per barel, efeknya pasti akan terasa. "Untuk itu, kita harus antisipasi, kita harus adaptif, dan berharap konflik ini cepat selesai," ujar Akbar.
Akbar mengungkapkan pihaknya juga sudah bertemu Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara pada Rabu (4/3). Saat itu, Prabowo mengarahkan agar dunia usaha tetap solid menghadapi ketidakpastian global ini.
"Kita pelaku usaha, pemerintah, dan seluruh stakeholders harus bersatu, harus solid menghadapi situasi global ini," tutur Akbar.





