MAKASSAR, FAJAR – PSM Makassar kembali menghadapi ujian berat. Kali ini, Juku Eja mendapat 3 sanksi dari Komdis Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI).
Ketiga sanksi itu dijatuhkan kepada PSM akibat ulah suporter. Khususnya usai pertandingan melawan Persita Tangerang di Stadion BJ Habibie, 2 Maret 2026 lalu. Kala itu PSM kalah 2-4.
Sanksi pertama terkait aksi sekitar 100 suporter yang masuk ke lapangan untuk melakukan protes setelah pertandingan. Berdasarkan Pasal 70 ayat (1) dan (2) jo Lampiran 1 Nomor 5 Kode Disiplin PSSI 2025, PSM dijatuhi denda sebesar Rp60 juta. Sanksi tersebut tertuang dalam surat Komdis PSSI nomor 181/L1/SK/KD-PSSI/III/2026.
Sanksi kedua tercantum dalam surat nomor 182/L1/SK/KD-PSSI/III/2026. PSM dinilai bertanggung jawab atas perilaku penonton yang menyalakan dua flare serta membakar spanduk di area lapangan. Untuk pelanggaran ini, klub kembali dikenai denda Rp60 juta dengan dasar pasal yang sama dalam Kode Disiplin PSSI.
Sanksi ketiga tertuang dalam surat nomor 183/L1/SK/KD-PSSI/III/2026. Komdis PSSI menilai terjadi pelemparan botol air minum kemasan di area belakang bangku cadangan PSM saat laga melawan Persita. Atas kejadian tersebut, PSM dikenai denda tambahan sebesar Rp30 juta.
Secara keseluruhan, PSM Makassar harus membayar denda sebesar Rp150 juta akibat tiga pelanggaran tersebut.
Media Officer PSM, Sulaiman Abdul Karim, membenarkan adanya sanksi tersebut. “PSM Makassar kembali menerima sanksi dari Komdis PSSI. Ada tiga sanksi yang kami terima sekaligus,” ujarnya, Selasa (10/3/2026).
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Red Gank, Muhammad Alfajri, menilai aksi suporter tersebut merupakan bentuk kekecewaan terhadap performa tim yang belum juga membaik.
“Pastinya hasil kemarin lawan Persita yang membuat kami sangat kecewa kepada semua pihak yang ada di tim. Kita main di kandang tapi serasa kita yang tamu,” ujarnya.
Ia menambahkan, manajemen memang berhak kecewa atas sanksi tersebut, namun di sisi lain juga perlu memahami perasaan suporter yang terus memberikan dukungan.
“Suporter meluapkan kekecewaannya, itu hal yang wajar melihat 11 pertandingan tanpa kemenangan. Di mana tanggung jawab pelatih dan pemain? Manajemen juga harus memikirkan perasaan suporter,” tegasnya. (*)





