BRIN kembangkan AI untuk dukung ketahanan pangan nasional

antaranews.com
6 jam lalu
Cover Berita
Jakarta (ANTARA) - Pusat Riset Sains Data dan Informasi (PRSDI), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk mendukung pertanian presisi dan ketahanan pangan nasional.

Kepala PRSDI BRIN, Esa Prakasa menegaskan pentingnya penguatan sistem manajemen dan pemantauan fenologi padi guna menjaga stabilitas produksi di tengah tantangan perubahan penggunaan lahan dan variabilitas iklim.

Baca juga: Pupuk Indonesia: Hasil pertanian meningkat dengan teknologi "PreciX"

"Integrasi data multi dimensi dan teknologi berbasis AI federated learning membuka peluang untuk membangun sistem pertanian yang lebih adaptif, kolaboratif, dan berbasis data," katanya dalam diskusi yang digelar secara daring di Jakarta, Selasa.

Esa menyebut inovasi ini tidak hanya mendukung pengambilan keputusan yang cepat dan akurat, tetapi juga memperkuat ketahanan pangan nasional secara berkelanjutan.

Ia menjelaskan pemantauan fenologi padi, mulai dari tahap penanaman, perkembangan vegetatif, fase reproduktif, hingga panen, merupakan komponen krusial dalam perencanaan pertanian.

Menurut Esa, selama ini metode konvensional berbasis survei lapangan memiliki keterbatasan cakupan spasial, biaya tinggi, dan tidak mampu memberikan informasi secara real-time.

Ia memaparkan perkembangan teknologi penginderaan jauh membuka peluang baru melalui analisis citra satelit optik dan radar, termasuk indeks vegetasi (NDVI) dan polarisasi radar (VV, VH), dapat dikombinasikan dengan pendekatan data multi dimensi untuk mengotomatisasi klasifikasi tahap pertumbuhan tanaman.

"Integrasi teknologi ini memungkinkan pemantauan fenologi yang lebih akurat secara spasial dan temporal, mendukung pengembangan sistem pertanian presisi," ujarnya.

Baca juga: Unej luncurkan teknologi "handheld-drone" dukung pertanian presisi

Baca juga: Kementan percepat rehabilitasi irigasi tersier perkuat produksi pangan

Sementara itu, Federated Learning (FL) hadir sebagai paradigma pembelajaran mesin terdistribusi yang memungkinkan petani, pemerintah, dan institusi riset melatih model AI secara kolaboratif tanpa harus memusatkan atau membagikan data mentah.

Dengan konsep “membawa kode ke data”, FL memungkinkan pengembangan model AI yang aman dan terdesentralisasi.

"Ketika dipadukan dengan data multidimensi, seperti data citra satelit, data kondisi di lapangan, dan algoritma yang dikembangkan dengan menggunakan tool GeoAI, pendekatan ini berpotensi menghasilkan sistem pemodelan fenologi padi yang lebih adaptif, skalabel, dan partisipatif untuk berbagai wilayah pertanian di Indonesia," tutur Esa Prakasa.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
BGN Menonaktifkan Sementara 1512 SPPG di Pulau Jawa
• 5 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Saksi Bisu Pembunuhan Ermanto Usman di Bekasi: Gunting hingga Linggis
• 5 jam laludetik.com
thumb
KSAD Luncurkan Program 200 Jembatan Garuda di Wilayah Terdampak Bencana
• 21 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Polbangtan Dukung Program Cetak Sawah di Gowa, Kapusdiktan Dorong Mahasiswa Terlibat Wujudkan Swasembada Pangan
• 9 jam laluterkini.id
thumb
Mahfud MD Desak DPR Rampungkan RUU Pemilu Tahun Ini
• 15 jam laluokezone.com
Berhasil disimpan.