Bergelut dengan Akses Layanan Kesehatan di Pesisir Timur Kalimantan

kumparan.com
1 jam lalu
Cover Berita

Bagi warga Jenebora, memperoleh layanan kesehatan memadai bak harapan yang menggantung di cakrawala. Desa di pesisir timur Kalimantan yang dihuni 3.000 jiwa itu tak punya puskesmas induk, tak punya mantri, tak punya dokter, tak punya rumah sakit, bahkan tak punya apotek. Tenaga kesehatan di sana hanya tiga bidan desa.

“Kalau sakit, terutama penyakit-penyakit gawat, umumnya warga ke Balikpapan karena di sini cuma ada puskesmas pembantu, nggak memadai. Beli obat juga harus ke Balikpapan karena di sini nggak ada apotek,” kata Mahmud yang sudah 46 tahun tinggal di Jenebora.

Lelaki 60 tahun itu mengidap gangguan kesehatan layaknya orang seusianya: kadar kolesterol dan asam urat tinggi.

Hari itu, Selasa (17/2), kedua lututnya nyeri, pertanda asam uratnya kambuh. Kadang, ia juga mengalami vertigo, yang diduga terkait tekanan darah tinggi.

Biasanya, Mahmud kontrol 2–3 bulan sekali ke Balikpapan. Namun, terkadang ia menahan-nahan rasa sakit karena soal biaya.

“Namanya juga orang kampung, ekonomi minim. Kalau betul-betul parah, baru [periksa ke dokter],” ujar Mahmud.

Kondisi tak ideal itu tak hanya terjadi di Jenebora, tapi juga dua kelurahan yang bertetangga dengannya—Gersik dan Pantai Lango. Ketiga wilayah itu masuk administrasi Kabupaten Penajam Paser Utara, berjajar pada garis pantai yang sama di sisi barat Teluk Balikpapan, di seberang barat laut Kota Balikpapan.

Seperti Jenebora, Gersik dan Pantai Lango juga hanya memiliki puskesmas pembantu (pustu) tanpa puskesmas induk, sehingga jika ada warga yang mengalami kondisi gawat darurat, ia harus dibawa menyeberang ke Balikpapan.

Keterbatasan akses medis, ditambah ketiadaan biaya, membuat Sabransyah, warga Gersik yang sehari-hari berjualan ikan, membiarkan tumor tumbuh di pipinya selama bertahun-tahun. Bila hendak ke rumah sakit di Balikpapan, Sabransyah harus merogoh kocek cukup dalam.

Untuk transportasi pulang pergi Gersik–Balikpapan saja, ia harus keluar Rp 300 ribu buat naik speedboat yang makan waktu tempuh 20–25 menit. Speedboat jadi moda transportasi laut pilihan karena kapal klotok (perahu kayu bermesin diesel yang berbunyi klotok-klotok-klotok) membutuhkan waktu tempuh lebih lama, mencapai satu jam perjalanan.

Di luar ongkos Rp 300 ribu tersebut, operasi tumor itu sendiri membutuhkan biaya Rp 10 juta, sementara Sabransyah tidak bisa menggunakan kartu BPJS-nya karena menunggak. Itu sebabnya selama ini ia menahan sakit.

“Bingung juga. Tambah lama tambah besar benjolannya. Jadi kepikiran tiap hari. Kalau tidur nggak nyenyak karena terasa sakit. Cuma keadaan ekonomi begini,” kata Risna, istri Sabransyah, Rabu (18/2).

Kepala Puskesmas Pembantu Jenebora, Bidan Rosalin, menyatakan rata-rata penyakit warga setempat adalah tekanan darah tinggi atau hipertensi, kencing manis, dermatitis atau iritasi kulit, dan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).

Dari sekitar 3.000 penduduk Jenebora, setiap bulannya yang berobat ke Pustu berjumlah 175 sampai 200-an orang, yang rata-rata merupakan peserta BPJS. Mayoritas pasien berusia 60 tahun ke atas, disusul mereka yang berumur 45 tahun ke atas.

Bila ada kegawatdaruratan seperti pasien pendarahan atau tenggelam di laut, Pustu segera merujuknya ke rumah sakit di Balikpapan karena fasilitas mereka amat terbatas—tanpa peralatan medis lengkap, tanpa dokter tetap.

“Kami usahakan pasien tidak meninggal di sini. Paling tidak, kami harus merujuknya dulu ke rumah sakit atau puskesmas induk di Penajam,” kata Rosalin di Pustu Jenebora, Jumat (20/2).

Rosalin berharap puskesmas induk—lengkap dengan dokternya—dapat dibangun di wilayah itu untuk menjangkau penduduk Jenebora, Gersik, dan Pantai Lango. Selama ini, warga yang ingin memeriksakan diri ke dokter tanpa menyeberang ke Penajam atau Balikpapan, harus menunggu Puskesmas Keliling yang mendatangi kelurahan mereka tiga bulan sekali.

“Kalau bulan ini di Jenebora, bulan berikutnya mungkin di Gersik, dan bulan berikutnya lagi di Pantai Lango. Jadi satu kelurahan per tiga bulan untuk mengover tiga area ini,” ujar Ahmad Padaelo, Kepala Jaminan Kesehatan Daerah Penajam Paser Utara.

Puskesmas Keliling itu dilengkapi dokter umum, dokter gigi, bidan, perawat, dan apoteker. Namun frekuensi kelilingnya terbatas karena disesuaikan dengan anggaran pemerintah daerah yang tersedia.

Layanan kesehatan tak memadai juga dirasakan warga Kecamatan Sangkulirang dan Sandaran di Kabupaten Kutai Timur. Seperti Penajam Paser Utara, Kutai Timur pun termasuk Provinsi Kalimantan Timur.

Di Sangkulirang dan Sandaran, penduduknya harus berobat ke kabupaten lain yang aksesnya lebih memadai. Kedua wilayah itu masuk kategori Daerah Tertinggal, Perbatasan, dan Kepulauan (DPTK) sehingga tergolong area terpencil.

Tak semua desa di Kecamatan Sandaran dapat diakses via darat dari ibu kota kecamatan. Sebagian lebih bisa dijangkau lewat jalur laut. Sementara desa yang bisa terhubung melalui jalan darat pun jarak tempuhnya makan waktu karena jalan utamanya banyak rusak.

Desa Sandaran, salah satu desa di Kecamatan Sandaran, bahkan tidak terhubung via jalur darat ke ibu kota kecamatannya di Manubar. Alhasil, warga desa yang sakit dan hendak berobat ke puskesmas terdekat yang berada di Manubar, harus menyeberang laut tujuh jam.

Rumah Sakit Kapal, Asa di atas Ombak

Pekan kedua Februari 2026, Risna mendengar kabar dari Kelurahan Jenebora bahwa di wilayah itu bakal digelar program pelayanan medis gratis oleh Rumah Sakit Kapal. Ia tak menyia-nyiakan kesempatan itu, dan mengajak suaminya datang ke Jenebora pada hari pertama pelayanan medis dibuka, Minggu (15/2).

“Pas hari pembukaan, pagi-pagi saya sudah daftar [untuk pemeriksaan tumor suami]. Jam 10 dilayani, konsultasi sama dokter, disuruh puasa, besoknya langsung operasi,” kata Risna yang bertemu kumparan dua hari usai operasi suaminya.

Operasi dilakukan di RS Kapal dr. Lie Dharmawan Bayan Peduli yang merapat ke Dermaga Jenebora. Kapal yang berfungsi sebagai rumah sakit terapung itu dilengkapi dengan instalasi bedah yang terdiri dari ruang pre-operasi, ruang operasi, dan ruang pemulihan.

“Operasinya kurang lebih 3–4 jam. Sebelumnya diinfus dulu sekitar 1 jam, lalu dibius, baru operasi. Setelah 4 jam baru sadar,” ujar Risna, menceritakan penanganan cepat dokter terhadap penyakit suaminya.

“Syukur alhamdulillah, rezekinya [bisa berobat] di sini. Sangat membantu. Tadinya sudah pasrah saja karena mikir biaya,” kata Risna, semringah.

Saat Sabransyah, suami Risna, kontrol pasca-operasi, wajahnya dibebat kencang dari ubun-ubun ke dagu oleh perban kompresi, sementara bibir dan pipi kirinya masih bengkak, membuatnya belum bisa bicara normal.

Dokter memperkirakan bengkak di wajahnya akan pulih dalam 1–2 bulan. Namun luka dalam bekas operasi angkat tumor baru akan kering 5–6 bulan. Proses penyembuhan Sabransyah cukup lama karena tumornya diangkat dari dalam.

Setelah perban kompresi yang melilit wajah Sabransyah dilepas dokter, Risna memotretnya bersama tim dokter untuk kenang-kenangan. Ia tak menyangka suaminya yang tak pernah berobat, kini berhasil menjalani operasi di kapal.

“Kami berharap, program kayak gini nanti ada lagi, karena RS Kapal gratis ini benar-benar membantu warga,” ujarnya sambil menerima obat-obatan untuk suaminya—yang juga gratis.

Ke depannya, Risna berencana untuk bertanya ke pengurus RT di desanya tentang cara mendaftar BPJS Kesehatan PBI (Penerima Bantuan Iuran) agar ia dan suaminya dapat menggunakan BPJS sebagai warga tidak mampu.

Pasien lain di Poli Bedah, seorang ibu yang juga kontrol usai operasi angkat benjolan, merasa bersyukur dengan kedatangan RS Kapal. Sebelumnya, benjolan tumbuh di lengan kiri ibu itu. Tumor jinak itu kini telah hilang berkat bantuan tim dokter RSK.

Yang mengagetkan, usai rawat jalan, sang ibu mencium tangan dokter-dokter di kapal satu per satu sebagai tanda terima kasih. Suasana sontak berubah haru.

Dokter Monica Gloria, Koordinator RS Kapal dr. Lie Dharmawan Bayan Peduli, ikut berpelukan dengan ibu itu. Ia tak mengira rasa terima kasih dari warga bisa sedemikian besarnya.

“Saya pikir beliau cuma mau salaman aja, ternyata cium tangan. Masa orang tua yang salim sama saya. Terus ibunya nangis dan kami pelukan. Padahal dokter-dokter cuma eksisi (bedah) benjolan, tapi menurut beliau mungkin itu bantuan yang bermakna besar,” ujar dr. Monica.

Yang juga mengharukan, sebagian warga yang berobat ke RS Kapal lantas membawa hasil laut, buah-buahan, atau kue-kue untuk diberikan kepada tim medis sebagai tanda terima kasih.

Mereka bak menemukan asa lewat RS Kapal dr. Lie Dharmawan Bayan Peduli yang berlayar dan bersandar di daerah mereka.

RS Kapal ini merupakan kapal keempat yang dioperasikan Yayasan Dokter Peduli (doctorSHARE), dan kali ini berkolaborasi dengan Bayan Resources yang mendukung pembangunan kapal tersebut sejak 2024. Itu sebabnya kapal ini diberi nama “RS Kapal dr. Lie Dharmawan Bayan Peduli”.

Bayan Peduli ialah inisiatif filantropi korporasi dari pemegang saham pendiri Bayan Resources. Bayan Peduli memiliki 4 pilar, yakni pendidikan, kesehatan & kesejahteraan, sosioekonomi & budaya, serta keberlanjutan lingkungan. Di sini, sektor kesehatan menjadi salah satu prioritas.

Dalam hal ini, Bayan Peduli mempunyai visi sama dengan doctorSHARE, yaitu bahwa akses kesehatan adalah hak setiap orang—artinya seluruh masyarakat Indonesia. Dan untuk mewujudkannya, kerja sama antara pemerintah dan sektor swasta adalah keniscayaan.

“Bayan Peduli bersama doctorSHARE membangun roadmap untuk tujuan jangka panjang. Bayan Peduli berperan dalam hal pendanaan, doctorSHARE berperan dalam manajemen operasional dan pelayanan kesehatan. Semua disesuaikan dengan standar praktik sesuai arahan Kementerian Kesehatan,” kata Direktur PT Bayan Resources Tbk., Merlin.

Dengan 3.800 pasien di Kalimantan Timur yang telah ditangani RSK dr. Lie Dharmawan Bayan Peduli pada periode pelayaran November 2025 dan Februari 2026, Bayan Group hendak memastikan keberlanjutan program pelayanan medis gratis ini dengan membangun Rumah Sakit Kapal kedua—yang berdimensi lebih kecil—untuk menyasar area terpencil di jalur sungai.

“Terutama untuk area yang terdampak operasional kami di Kalimantan. Jadi mungkin akan kami fokuskan dulu di Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan,” jelas Merlin di kantornya, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Selasa (24/2).

Dirut PT Bayan Resources Tbk. Dato’ Dr. Low Tuck Kwong menyatakan, tujuan akhir inisiatif itu adalah mewujudkan masa depan lebih cerah yang ditandai dengan meningkatnya peluang dan kesejahteraan masyarakat.

Direktur Pelaksana doctorSHARE Tutuk Utomo Nuradhy berharap inisiatif kolaborasi ini dapat menjadi contoh bagi banyak pihak untuk turut berperan dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat Indonesia.

Perjuangan di Balik Layar

Pengelolaan rumah sakit kapal cukup kompleks karena menggabungkan dua lini operasional, yakni perkapalan-pelayaran dan pelayanan kesehatan—yang keduanya memakan anggaran tak sedikit.

“Dari sisi marine (perkapalan-pelayaran), tantangannya terkait: 1) Biaya bahan bakar industri—yang semakin jauh dari pusat, semakin mahal, bisa 4-5 kali lipat dari di Jakarta; 2) Standar pemeliharaan dan kelayakan kapal, termasuk biaya docking/berlabuh; 3) Regulasi tentang rumah sakit kapal belum masuk ke sistem Kemenhub; yang ada hanya untuk kapal penumpang dan kapal dagang,” papar Tutuk di RS Kapal dr. Lie Dharmawan Bayan Peduli, Rabu (18/2).

Sementara dari sisi pelayanan kesehatan, lanjutnya, manajemen RS Kapal harus bisa: 1) Mengatur jadwal dokter-dokter relawan dan memastikan tenaga medis lengkap agar pelayanan berjalan maksimal; 2) Memastikan bahan medis dan obat-obatan dikirim ke tepat waktu ke lokasi-lokasi strategis agar bisa diakses tim RSK; 3) Melindungi semua instalasi medis di kapal agar bisa berfungsi dengan baik.

Sumber daya manusia di RS Kapal pun mencakup dua sektor operasional tersebut: 7 orang awal kapal, dan sekitar 22 orang kru medis.

“Tujuh orang [awak kapal] meliputi kapten/nakhoda, juru mudi, wakil kapten, KKM (kepala kamar mesin/chief engineer), 2 oiler (juru minyak)—shifting untuk memastikan mesin beroperasi, dan cook (juru masak),” jelas Tutuk.

Sementara tim medis terdiri dari dokter spesialis bedah, spesialis anestesi, spesialis penyakit dalam, spesialis anak, 5 atau lebih dokter umum, 2 dokter sebagai koordinator, 2 apoteker, perawat bedah, perawat/penata anestesi, perawat umum, bidan, dan administrator. Total tim medis RSK dr. Lie Dharmawan Bayan Peduli beranggotakan sekitar 22 orang.

Jumlah itu masih bisa bertambah bila daerah-daerah tertentu yang disinggahi RSK memerlukan tambahan dokter spesialis seperti spesalis kulit, spesialis THT, atau spesialis jiwa/psikiater.

Dokter-dokter relawan yang tergabung dalam tim medis RS Kapal bukan berarti ikut berlayar bersama kapal tersebut, sebab mereka juga bertugas di rumah sakit berbagai wilayah. Biasanya mereka membantu sebagai dokter RSK saat sedang cuti di RS asal. Itu sebabnya angota tim medis bisa berganti-ganti dari satu lokasi ke lokasi lain.

“Jadi saat RS Kapal sudah bersandar di dermaga, barulah dokter-dokter datang. Mereka tiba dengan pesawat, mendarat di bandara terdekat [dari lokasi kapal], lalu berkendara lewat jalan darat ke pesisir,” kata dr. Monica di Kantor Kelurahan Jenebora, Senin (16/2).

Namun, jika daerah yang dituju terlalu jauh dan susah ditempuh via jalan darat, dokter-dokter relawan akan mencari lokasi temu yang paling memungkinkan dengan RS Kapal, misalnya di dermaga besar yang terdekat dengan daerah pelayanan.

Perjuangan tim medis lebih terasa di area pelosok yang bahkan belum bisa menjamin ketersediaan kebutuhan dasar bagi warganya, misalnya daerah yang kesulitan mendapatkan air bersih dan makanan layak.

“Kadang kami harus mengorbankan kenyamanan, seperti nggak bisa mandi karena air bersihnya dipusatkan untuk pelayanan di poli gigi dan ruang operasi. Begitu pun kalau pilihan makanan terbatas, ya kami makan seadanya,” cerita dr. Monica yang sudah biasa menghadapi berbagai situasi di lapangan.

Tutuk menjelaskan, kolaborasi doctorSHARE x Bayan Peduli yang memiliki tujuan jangka panjang sampai 2030 memasang 6 indikator sebagai tolak ukur keberhasilan program, yakni:

  1. Penurunan angka stunting, terutama di wilayah-wilayah yang sulit diakses.

  2. Berkurangnya kasus TBC dan malaria di daerah-daerah yang ditarget pemerintah.

  3. Turunnya angka kematian ibu dan anak di daerah-daerah yang mendapat pelayanan medis doctorSHARE-Bayan Peduli.

  4. Pengakuan atas program RS Kapal sebagai blueprint solution dalam mengatasi isu akses layanan kesehatan di pulau-pulau kecil atau wilayah terpencil.

  5. Peningkatan jumlah layanan pasien di berbagai wilayah pelosok.

  6. Selalu siaga membantu ketika bencana alam terjadi.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Ketika Teknologi Tak Lagi Cukup
• 2 jam lalukumparan.com
thumb
AHY: 47.000 Km Jalan Nasional & 3.115 Km Tol Disiagakan untuk Mudik Lebaran 2026
• 5 jam lalubisnis.com
thumb
Catat, Ini Jadwal Lengkap Pembayaran Dividen BBNI Rp13 Triliun
• 9 jam laluidxchannel.com
thumb
Mengulas Komposisi Penjaga Gawang Timnas Indonesia Hadapi FIFA Series 2026: Lagi Menyala Semua di Level Klub
• 4 jam lalubola.com
thumb
Tips Menghemat Baterai Mobil Listrik Saat Mudik
• 8 jam lalusuarasurabaya.net
Berhasil disimpan.