Konflik Timur Tengah Bisa Tekan Ekonomi Indonesia, Ini Peringatan Kemenkeu

republika.co.id
4 jam lalu
Cover Berita

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Ketegangan geopolitik di Timur Tengah mulai menimbulkan kekhawatiran terhadap kondisi ekonomi Indonesia. Jika konflik meluas dan mengganggu jalur pelayaran minyak di Selat Hormuz, dampaknya dapat terasa langsung bagi masyarakat, terutama melalui kenaikan harga energi dan tekanan terhadap daya beli.

Pemerintah mengingatkan Selat Hormuz merupakan salah satu jalur utama distribusi minyak dunia. Gangguan di kawasan tersebut berpotensi memicu lonjakan harga minyak global yang kemudian merembet ke berbagai sektor ekonomi.

Baca Juga
  • Donasi Pegawai PLN Hadirkan Sambung Listrik Gratis bagi 2.533 Keluarga Prasejahtera
  • Pelni Beri Diskon Tiket 30 Persen, Pemudik Laut ke Semarang Diprediksi Naik Tipis
  • Restrukturisasi Whoosh, AHY Ungkap Nasib Pembangunan Kereta Cepat Sampai Jawa Timur

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan ketidakpastian geopolitik saat ini sudah tercermin di pasar keuangan internasional. Investor cenderung menahan risiko dan memindahkan dana ke aset yang dianggap lebih aman.

“Ketidakpastian ini terlihat dari meningkatnya sentimen risk off di pasar global, ditandai volatilitas tinggi di berbagai indeks pasar, penguatan dolar AS, serta kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat,” kata Purbaya dalam konferensi pers APBN KiTa edisi Maret 2026 di Jakarta, Rabu (11/3/2026).

.rec-desc {padding: 7px !important;}

Menurut dia, gejolak global tersebut dapat merambat ke perekonomian Indonesia melalui beberapa jalur. Salah satunya melalui perdagangan. Kenaikan harga minyak dunia berpotensi meningkatkan biaya impor energi Indonesia.

Jika kondisi itu terjadi, surplus neraca perdagangan bisa tertekan dan berdampak pada stabilitas neraca pembayaran. Pada akhirnya, tekanan tersebut bisa memengaruhi harga barang dan jasa di dalam negeri.

Selain itu, tekanan juga bisa muncul dari sektor keuangan. Ketidakpastian global biasanya membuat investor asing menarik dana dari negara berkembang, termasuk Indonesia.

 

Loading...
.img-follow{width: 22px !important;margin-right: 5px;margin-top: 1px;margin-left: 7px;margin-bottom:4px}
Ikuti Whatsapp Channel Republika
.img-follow {width: 36px !important;margin-right: 5px;margin-top: -10px;margin-left: -18px;margin-bottom: 4px;float: left;} .wa-channel{background: #03e677;color: #FFF !important;height: 35px;display: block;width: 59%;padding-left: 5px;border-radius: 3px;margin: 0 auto;padding-top: 9px;font-weight: bold;font-size: 1.2em;}
sumber : ANTARA
Advertisement

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Fakta Mengejutkan Kasus Wanita Tewas Tinggal Tulang di Depok: Sempat Minta Cerai dan Tolak Hubungan Badan
• 1 jam laluviva.co.id
thumb
Ini Alasan Hakim Tolak Gugatan Praperadilan Yaqut
• 3 jam lalurealita.co
thumb
Rekomendasi SUV Tangguh untuk Mudik Lebaran 2026? Begini Kekuatan JETOUR T2 Hadapi Jalan Panjang dan Beragam Medan
• 20 jam lalutvonenews.com
thumb
ENHYPEN Umumkan Kepergian Heeseung, Grup Lanjut dengan 6 Member
• 10 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
KP2MI Segel PT Panca Banyu Aji Sakti di Jakarta Timur: Tak Boleh Lagi Tampung CPMI
• 22 jam laludisway.id
Berhasil disimpan.