PADANG, KOMPAS — Jumlah pemudik di Sumatera Barat pada masa Lebaran tahun ini diprediksi akan lebih banyak dibanding tahun lalu. Peningkatan ini berpotensi memicu kepadatan lalu lintas di tengah kondisi sejumlah jalan utama di Sumbar yang belum sepenuhnya pulih dari bencana pada akhir November 2025.
Kepala Dinas Perhubungan Sumbar Dedy Diantolani, Rabu (11/3/2026), mengatakan, kepadatan lalu lintas pada libur Lebaran di Sumbar tahun ini diperkirakan lebih tinggi daripada tahun lalu.
“Tahun lalu pada masa libur Lebaran, jumlah kendaraan melintas di Sumbar sekitar 833.000 unit. Kami perkirakan itu akan naik sekitar 10 persen pada Lebaran tahun ini,” kata Dedy.
Selain libur panjang dan kebijakan work from home (WFH) di sejumlah instansi, Dedy menyebut, peningkatan jumlah pemudik juga disebabkan oleh bencana yang melanda 16 kabupaten/kota di Sumbar akhir November 2025.
“Orang dari rantau ingin pun ingin tahu bagaimana kondisi saudara dan kampungnya. Antusiasme orang untuk pulang pasti ramai,” ujarnya.
Potensi kenaikan jumlah kendaraan itu pun menjadi tantangan dalam penanganan lalu lintas di Sumbar saat puncak arus mudik ataupun arus balik. Sebab, sejumlah jalur utama ataupun penopangnya belum pulih dari bencana.
Jalur Malalak yang biasanya jadi alternatif untuk mengatasi kepadatan rute Padang-Bukittinggi di Jalur Lembah Anai hingga kini belum dapat dilewati. Jalan provinsi yang perbaikannya ditangani pemerintah pusat itu terputus di sembilan titik pada banjir bandang dan longsor akhir November lalu.
Kepala Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Sumbar Elsa Putra Friandi mengatakan, progres perbaikan jalur Malalak baru sekitar 8 persen dan diperkirakan tuntas pada Desember 2026. Meski semua ruas jalan sudah tersambung kembali, kondisinya belum ideal untuk lalu lintas.
“Ada beberapa titik masih rawan longsor, terutama saat curah hujan tinggi. Jadi, secara resmi belum dibuka untuk kendaraan,” kata Elsa melalui siaran pers, Minggu (8/3/2026).
Elsa menambahkan, progres perbaikan jalur Lembah Anai yang juga rusak parah akibat banjir bandang akhir November 2025 mencapai sekitar 44 persen. Penanganan permanen ditargetkan rampung pada Juli 2026.
Meski jalur Lembah Anai belum tuntas, kendaraan sudah dapat melintasi jalur utama Padang-Bukittinggi itu secara terbatas hanya pada sore hingga pagi sejak 16 Desember 2025 bagi kendaraan roda empat.
Untuk mendukung kelancaran arus mudik dan balik Lebaran, Elsa menyebut, BPJN Sumbar akan membuka jalur Lembah Anai selama 24 jam bagi kendaraan roda dua dan empat. Jalur itu akan dibuka dengan dua lajur mulai H-10 hingga H+10 Lebaran. Lalu lintas diatur oleh kepolisian dan dinas perhubungan.
Dengan situasi demikian, jalur Lembah Anai yang belum optimal menjadi tulang punggung lalu lintas di rute padat Padang-Bukittinggi saat libur Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah.
Dedy Diantolani menyebut, belum dapat difungsikannya jalur Malalak memang menambah beban jalur Lembah Anai saat libur Lebaran. Biasanya, jalur Malalak menjadi bagian penting dalam sistem satu arah (one way) rute Padang-Bukittinggi yang diterapkan Sumbar sejak Lebaran tahun 2023.
Melalui sistem satu arah di jalur Lembah Anai dan jalur Malalak pada Lebaran tahun lalu, Dedy mengatakan, waktu tempuh rute Padang-Bukittinggi saat puncak arus lalu lintas Lebaran maksimal hanya 4 jam. Adapun tanpa rekayasa lalu lintas itu, waktu tempuh rute Padang-Bukittinggi lewat Lembah Anai saat masa puncak bisa 9-10 jam.
Dedy pun mengakui, upaya mengatur lalu lintas di jalur Lembah Anai memang akan lebih rumit dibanding Lebaran tahun lalu, apalagi dengan potensi peningkatan pemudik. Namun, Dishub Sumbar bersama Polda Sumbar telah menyiapkan rekayasa lalu lintas.
Sistem satu arah kembali diadakan di jalur Lembah Anai tanpa melibatkan jalur Malalak. Kata Dedy, sistem satu arah diadakan pada 19-20 Maret 2026 atau H-2 hingga H-1 Lebaran dan 22-24 Maret 2026 atau H+1 hingga H+3 Lebaran.
Pada hari-hari tersebut, jalan nasional Padang-Bukittinggi hanya dibuka satu arah bagi kendaraan dari Padang ke arah Padang Panjang/Bukittinggi selama pukul 10.00-14.00. Kemudian, pada pukul 14.00-18.00, giliran kendaraan dari arah Padang Panjang/Bukittinggi melintas satu arah munuju Padang.
“Pelaksanaan one way itu supaya memberi kepastian kepada pengendara agar dapat lewat di sana. Jangan sampai nanti terjebak macet di tengah Lembah Anai. Makanya kami atur di jam-jam sibuk,” kata Dedy.
Jika tetap ingin berkendara saat jadwal sistem satu arah itu, Dedy menuturkan, pengendara bisa melewati rute Padang-Bukittinggi ke jalur alternatif Solok via Danau Singkarak-Sitinjau Lauik. Walakin, jarak tempuh rute ini tentunya lebih panjang dibanding jalur Lembah Anai.
Sementara itu, Direktur Lalu Lintas Polda Sumbar Komisaris Besar Reza Chairul Akbar Sidiq mengatakan, polisi akan memberlakukan clearance time atau waktu steril selama 30 menit sebelum perpindahan arus dalam sistem satu arah tersebut.
Ada beberapa titik masih rawan longsor, terutama saat curah hujan tinggi. Jadi, secara resmi belum dibuka untuk kendaraan
“Selama masa (steril) tersebut, jalur sepanjang 20 kilometer akan dikosongkan untuk memastikan keamanan dan mencegah benturan kendaraan dari arah berlawanan,” kata Reza dalam keterangannya di situs web korlantas.polri.go.id, Sabtu (7/3/2026).
Polda Sumbar, kata Reza, juga mendirikan pos pantau di titik-titik krusial, seperti di Lembah Anai dan Padang Panjang. Tidak hanya secara manual, pemantauan juga mengandalkan teknologi modern.
“Pemantauan 24 jam melalui sistem Regional Traffic Management Center (RTMC) serta patroli udara menggunakan drone untuk memantau titik kepadatan secara real-time,” kata Reza.
Dedy Diantolani menambahkan, untuk mendukung kelancaran sistem satu arah di rute Padang-Bukittinggi itu, petugas melarang pengendara berhenti di sepanjang jalur Lembah Anai. Dinas Perhubungan Sumbar juga mendirikan posko di lokasi awal sistem satu arah di Padang Pariaman dan Padang Panjang serta di Lembah Anai.
“Operasional kendaraan besar (angkutan barang) juga dibatasi mulai 13 Maret hingga 29 Maret 2026. Itu akan sangat membantu,” katanya.
Pembatasan kendaraan besar tersebut berlaku di dua ruas jalan utama, yaitu jalur Padang-Solok-Kiliran Jao-batas Provinsi Jambi di Dharmasraya dan jalur Padang-Padang Panjang-Bukittinggi-batas Provinsi Riau di Limapuluh Kota.





