Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian menyebut kepala daerah memegang peran penting dalam mengendalikan arus mudik dan arus balik Lebaran di wilayah masing-masing.
Menurut Tito, kepala daerah memiliki kewenangan untuk mengambil keputusan cepat dalam menghadapi berbagai persoalan selama periode mudik.
“Nah ini dengan semua permasalahan-permasalahan seperti ini, kepala daerah sebagai orang yang paling senior. Katakanlah pimpinan tertinggi ya di jabatan pemerintahan, ya dia harus tanggung jawab,” kata Tito di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (10/3).
“Dia harus bisa mengendalikan situasi wilayah masing-masing. Dia harus bisa mengendalikan arus mudik arus balik bersama-sama dengan stakeholder lainnya,” lanjutnya.
Ia menjelaskan, banyak persoalan di lapangan yang menjadi kewenangan pemerintah daerah sehingga membutuhkan keterlibatan langsung kepala daerah.
“Jalan-jalan yang rusak, nggak semua bisa dikerjakan oleh katakanlah kepolisian atau teman-teman TNI ya. Sumber daya terbesar tuh adanya di kepala daerah,” ujarnya.
Tito mencontohkan berbagai persoalan yang perlu ditangani pemerintah daerah selama periode mudik, mulai dari pengaturan pasar tumpah, perbaikan jalan rusak, hingga pengelolaan pelabuhan kecil yang menjadi kewenangan daerah.
“Memperbaiki supaya pasar tumpahnya tertib, nggak mengganggu jalan sehingga melamban macet. Kemudian tadi yang berlubang, kemudian juga mengatur pelabuhan-pelabuhan kecil yang menjadi kewenangan daerah, angkutan dalam kota, ketersediaan pangan itu semua memerlukan kehadiran kepala daerah,” jelasnya.
Ia menilai keputusan strategis tidak dapat diambil secara optimal jika hanya diwakilkan kepada pejabat lain di daerah.
“Nggak bisa diwakilkan. Kalau diserahkan kepada wakil, wakil tuh nggak bisa ngambil keputusan, ragu dia, Sekda apa lagi, ragu lagi. Kepala daerah dia bisa ngambil keputusan,” ujar Tito.
“Dan yang kedua dia juga menjadi ketua Forkopimda, Forum Komunikasi Pimpinan Daerah. Jadi pimpinan TNI, pimpinan Polri, Kejaksaan itu semua nanti mengacu kepada kepala daerah,” lanjutnya.
Tito mengatakan momentum Idul Fitri di Indonesia pasti memicu mobilitas masyarakat yang sangat besar karena tradisi mudik.
Kondisi ini perlu diantisipasi agar tidak menimbulkan gangguan transportasi maupun distribusi logistik.
“Dan apalagi di Pulau Jawa, salah satu yang terpadat di dunia tuh pulau ini. Ini arus mudik, arus balik ini akan melibatkan mobilitas masyarakat, termasuk logistik dan lain-lain,” ujar Tito.
Ia juga mengingatkan adanya potensi bencana alam di sejumlah daerah serta perlunya menjaga stabilitas harga dan ketersediaan bahan pokok selama periode Lebaran.
“Kita kan ada potensi bencana ya, Ring of Fire, peristiwa Sumatera kemarin ada longsor. Banjir di Jawa, gunung meletus, itu juga harus diwaspadai,” ungkap Tito.
“Kita juga harus menjaga stabilitas harga dan ketersediaan barang-barang, inflasi dan lain-lain, agar tetap terkendali dan barang-barang tersedia,” sambung dia.





