Harga saham sejumlah perusahaan pertahanan anjlok "berjamaah" setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan konflik di Timur Tengah berpotensi segera berakhir. Trump juga diketahui telah melakukan pembicaraan melalui telepon dengan Presiden Rusia, Vladimir Putin, terkait perkembangan konflik tersebut.
Berdasarkan data perdagangan di New York Stock Exchange (NYSE) pada Selasa (10/3) petang waktu AS atau Rabu (11/3) WIB, sejumlah saham emiten pertahanan mencatatkan penurunan. Saham perusahaan kedirgantaraan yang mendesain rudal dan jet tempur AS, Lockheed Martin (LMT), turun 1,95% ke level US$ 651,22.
Sementara saham Northrop Grumman (NOC) turun 1,65% ke US$734,98. Harga saham RTX Corporation (RTX) juga melemah 0,59% ke US$207, sedangkan General Dynamics (GD) terkoreksi 1,77% ke US$355,59.
Penurunan juga terjadi pada saham Boeing (BA) yang turun 3,22% ke level US$217,76. Lalu saham Leidos Holdings (LDOS) merosot 3,92% ke US$172,51, dan Huntington Ingalls Industries (HII) turun 2,81% ke US$417,51.
Di bursa Nasdaq, saham AeroVironment (AVAV) turun 2,52% ke US$221,57. Sementara itu, Kratos Defense & Security Solutions (KTOS) susut 3,80% ke level US$88,96.
Adapun di kawasan Eropa, pelemahan juga terlihat di London Stock Exchange (LSE). Saham Rolls Royce Holdings (RR) turun 0,53% ke level 1.304. Saham BAE Systems juga turun 0,93% ke level 2.228.
Sementara saham Airbus (AIR) di Euronext Paris tercatat stagnan di level 177,90. Berbeda dengan emiten lainnya, saham Rheinmetall (RHM) di Xetra justru menguat tipis 0,03% ke level 1.649.
Mengutip Wall Street Journal, saham-saham sektor pertahanan sebelumnya sempat diuntungkan oleh meningkatnya konflik di Timur Tengah. Namun pernyataan Trump yang menyebut perang di Iran dapat berakhir dalam waktu dekat mengubah sentimen pasar sehingga sebagian saham sektor pertahanan mengalami koreksi.
Dalam beberapa tahun terakhir, saham perusahaan pertahanan global sempat mengalami lonjakan tajam seiring meningkatnya belanja militer di berbagai negara.
Perhatian investor belakangan juga kembali beralih ke perusahaan pertahanan Amerika Serikat setelah meningkatnya aktivitas militer AS di berbagai kawasan. Saham produsen jet tempur F-35 dan sistem rudal Patriot Lockheed Martin bahkan tercatat melonjak sekitar 35% sepanjang tahun ini.
Sementara itu, saham Northrop Grumman dan RTX juga mencatatkan reli signifikan dengan kenaikan masing-masing hampir 30% dan lebih dari 12%.
Di sisi lain, perusahaan pertahanan Inggris BAE Systems juga mencatatkan kenaikan sekitar 27% sepanjang tahun ini, didukung oleh besarnya bisnis perusahaan tersebut di Amerika Serikat.
Meski demikian, Rheinmetall baru-baru ini merilis proyeksi kinerja tahunan yang dinilai mengecewakan. Hal ini memicu kekhawatiran investor terkait proses integrasi galangan kapal angkatan laut yang baru diakuisisi serta rencana pelepasan bisnis komersial perusahaan tersebut.




