Timnas Irak telah mengajukan permintaan resmi untuk menunda laga playoff antarkonfederasi Kualifikasi Piala Dunia 2026. Mereka menolak proposal dari FIFA yang menyarankan agar tim melakukan perjalanan darat selama 25 jam ke Turki sebelum terbang ke Meksiko untuk memainkan pertandingan tersebut.
Timnas Irak adalah negara yang terdampak situasi perang yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Dari pelatih hingga pemain jadi kesulitan dalam persiapan untuk laga playoff antarkonfederasi Kualifikasi Piala Dunia.
Sang pelatih, Graham Arnold, terjebak di UEA (Uni Emirat Arab) sehingga belum bergabung ke pemusatan latihan. Sementara, para pemain kesulitan membuat visa. Situasi penerbangan juga tidak menentu karena dari Irak ke Meksiko harus melalui Dubai.
Menurut The Guardian, Irak lalu berkorespondensi dengan FIFA selama beberapa hari terakhir. FIFA lalu menyarankan para pemain Irak untuk melakukan perjalanan dari Baghdad ke Istanbul, sebuah perjalanan yang berat melalui bagian utara negara yang telah diserang oleh drone Iran sejak perang dimulai.
Arnold dilaporkan telah memberi tahu Asosiasi Sepak Bola Irak bahwa ia tidak akan mengizinkan para pemainnya untuk melakukan perjalanan darat selama konflik masih berlangsung. Selain masalah perjalanan, sejumlah pemain dan staf pelatih Irak belum menerima visa untuk Meksiko atau AS, tempat mereka berencana mengadakan kamp pelatihan di Houston.
Asosiasi Sepak Bola Irak dikabarkan sedang melobi FIFA untuk segera mengambil keputusan dan mengumumkan penundaan minggu ini untuk memberi mereka kepastian. Irak telah lolos ke salah satu dari dua final dalam babak playoff antarkonfederasi yang diikuti enam tim. Mereka akan melawan pemenang laga Bolivia vs Suriname di Monterrey, Meksiko, Selasa (31/3).
Di sisi lain, Irak dipandang sebagai kandidat paling mungkin untuk menggantikan Iran jika negara tetangga mereka menarik diri dari Piala Dunia karena perang, karena mereka adalah tim peringkat tertinggi berikutnya berdasarkan turnamen kualifikasi zona Asia.





