Penulis: Fityan
TVRINews – Teheran
Ketegangan di Selat Hormuz Meningkat Usai Serangan Terhadap Kapal Komersial
Penasihat pemerintah sekaligus putra Presiden Iran, Yousef Pezeshkian, memberikan klarifikasi terkait kondisi Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei.
Dalam pernyataan resminya pada Rabu 11 Maret 2026, Pezeshkian menegaskan bahwa Mojtaba berada dalam kondisi aman meskipun sempat mengalami luka akibat operasi militer.
Klarifikasi ini muncul menyusul spekulasi mengenai keberadaan Mojtaba Khamenei yang tidak terlihat di publik sejak menggantikan mendiang ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei, tiga hari lalu. Stasiun televisi pemerintah sebelumnya menyebut pria berusia 56 tahun tersebut sebagai "veteran terluka dalam perang Ramadan," namun tidak merinci jenis cedera yang dialami.
"Saya mendengar kabar bahwa Tuan Mojtaba Khamenei terluka. Saya telah bertanya kepada beberapa rekan yang memiliki akses informasi. Mereka memberi tahu saya bahwa, alhamdulillah, beliau dalam kondisi aman dan sehat," tulis Pezeshkian melalui kanal Telegram resminya.
Laporan dari The New York Times, yang mengutip pejabat Iran dan Israel, menyebutkan bahwa Khamenei terluka pada hari pertama serangan udara Amerika Serikat dan Israel ke wilayah Iran.
Krisis Maritim di Selat Hormuz
Di saat yang sama, situasi keamanan di jalur perdagangan global, Selat Hormuz, memburuk secara drastis. Angkatan Laut Thailand melaporkan kapal curah Mayuree Naree milik perusahaan Precious Shipping diserang setelah meninggalkan pelabuhan Khalifa, Uni Emirat Arab, menuju Kandla, India.
Serangan tersebut menyebabkan kapal terbakar dan memaksa kru untuk mengevakuasi diri. "Upaya saat ini sedang dilakukan untuk menyelamatkan tiga awak kapal yang masih tersisa," ungkap pihak Angkatan Laut Thailand sebagaimana dikutip dari AFP.
Selain kapal Thailand, dua kapal lainnya dilaporkan terkena proyektil di titik strategis tersebut. Sebagai respons, Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan telah menghancurkan 16 kapal peletak ranjau milik Iran di dekat selat.
Langkah ini diambil setelah adanya laporan intelijen mengenai upaya Iran untuk menutup jalur yang mengalirkan seperlima pasokan minyak dunia tersebut.
Dampak Regional dan Pembatalan Penerbangan
Eskalasi militer ini berdampak luas pada sektor penerbangan sipil. Maskapai asal Belanda, KLM, mengumumkan pembatalan seluruh penerbangan ke Dubai hingga 28 Maret mendatang.
"Keselamatan penumpang dan awak kami adalah prioritas utama," tegas pihak maskapai. Langkah ini diambil hanya beberapa jam setelah pertahanan udara Uni Emirat Arab mencegat dua pesawat nirawak (drone) di dekat bandara Dubai yang menyebabkan empat orang terluka.
Sementara itu, militer Israel menyatakan telah memulai gelombang serangan skala besar terhadap target-target di Iran dan Lebanon. Di Lebanon, serangan udara dilaporkan telah menewaskan sedikitnya 84 orang dalam satu hari terakhir, menambah total korban jiwa menjadi 570 orang sejak konflik bermula.
Ketegangan semakin meluas setelah Iran dilaporkan meluncurkan rudal dan drone ke arah infrastruktur minyak di Arab Saudi dan Kuwait. Kementerian Pertahanan Arab Saudi mengonfirmasi telah menghancurkan lima drone yang menyasar ladang minyak Shaybah di wilayah Empty Quarter.
Editor: Redaksi TVRINews





