“Tarhim” (ترهيم) berasal dari akar kata rahima (رحم) yang menggulirkan makna kasih sayang atau kelembutan. Ia merupakan kata dari bahasa Arab yang telah mengalami proses penyerapan ke dalam bahasa Indonesia. Sering kali mengikuti kata “Selawat”. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi VI Dalam Jaringan (Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Oktober 2025), “selawat” merupakan lema yang baku. Adapun bentuk tidak baku, yaitu “salawat”, “salwat”, “sholawat”, “solawat”.
Selawat Tarhim dengan demikian merupakan lantunan pujian, doa, dan penghormatan yang berangkat dari perasaan mengasihi, menyayangi, atau melembutkan hati kepada junjungan Baginda Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam beserta keluarga dan para sahabat. Biasa dikumandangkan sebelum azan salat fardu (yang paling lazim Subuh) secara berjamaah di masjid atau musala.
Selawat Tarhim merupakan wujud ijtihad kultural dan teknis. Tradisi baik untuk lebih mengokohkan cinta (mahabah) kepada Allah Subhanahu wa ta’ala dan Nabi. Pencipta selawat tarhim adalah seorang qari alumnus Universitas Al-Azhar, pernah menjabat Ketua Jam'iyatul Qurra' wal Huffadz di Mesir. Gelarnya al-Maqari (Guru Para Qari) karena pelafazan bacaan Al-Qur’an-nya menjadi rujukan para qari hampir di seluruh dunia.
Dari berbagai sumber muncul tiga versi penulisan nama ulama terkemuka asal Mesir dan merujuk pada satu orang yang sama, yaitu Syekh Mahmoud Khalil al-Hussary, Syeikh Mahmoud Khalil al-Hussary, dan Syech Mahmud Khalil al-Hussary. Akan tetapi, penulisan nama bagi lelaki kelahiran 17 September 1917 dan wafat 24 November 1980 yang istikamah dengan pelafalan bahasa Arab adalah Syekh Mahmoud Khalil al-Hussary (الشيخ محمود خليل الحصري).
Menyebar ke Indonesia
Pada 1959, Syekh Mahmoud Khalil al-Hussary menyusun dan menulis lirik Selawat Tarhim di Mesir. Respons penerimaan publik di negaranya boleh terbilang sangat positif. Mereka menilainya sebagai terobosan dalam seni pembacaan doa. Kebetulan pada saat itu, penggunaan teknologi pengeras suara di masjid tengah menjadi tren yang sedang berkembang. Teknologi merekam suara dengan piringan hitam pun sudah dikenal.
Publik Mesir mengapresiasi dengan hangat, terlebih dengan paduan kualitas vokal yang begitu merdu dan syahdu dari Syekh Mahmoud Khalil al-Hussary yang mengantarkan lirik pujian yang menyiramkan rasa mahabah di hati mereka kepada Allah Subhanahu wa ta’ala dan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.
Kemudian ada fungsi sosial - religius yang terpenuhi berkat lantunan Selawat Tarhim. Masyarakat Mesir merasakan adanya bantuan yang efektif berkat keberadaan penanda bagi mereka untuk bangun sahur pada bulan Ramadan atau untuk menunaikan Salat Tahajud. Serta, juga untuk menuntun langkah hati dan kaki mereka menuju ke masjid, berjamaah Salat Subuh.
Pun berkat dukungan otoritas keagamaan. Karena sang kreator, Syekh Mahmoud Khalil al-Hussary, pada saat itu menjabat ketua Jam'iyatul Qurra' wal Huffadz (Organisasi Penghafal Al-Qur'an), Selawat Tarhim dapat dengan cepat menyebar secara luas dan menuai respons penerimaan yang hangat dari masyarakat melalui radio nasional, seperti Radio Qur’an Mesir (Idza’atil Qur’an al-Karim min al-Qahirah).
Siaran keagamaan di radio-radio Mesir pada masa itu memiliki pengaruh besar bagi masyarakat setempat. Dan, Selawat Tarhim adalah salah satu konten siaran keagamaan yang banyak dinantikan para pendengar tiap menjelang azan Subuh. Lalu bagaimana pengaruh itu, pengumandangan Selawat Tarhim mulai masuk ke Indonesia?
Pada kisaran dekade 1960-an, masih di era kepemimpinan Presiden Soekarno, Syekh Mahmoud Khalil al-Hussary pernah datang ke Indonesia. Biasanya kunjungan Syekh terkemuka dari Al-Azhar Mesir ke Tanah Air bertalian dengan upaya menjalin kerja sama dalam pembenahan kurikulum pembelajaran agama Islam.
Selain itu, bertautan dengan dakwah berikut upaya memperkuat hubungan persaudaraan Islam antara Indonesia dan Mesir. Serta, biasanya juga untuk menjadi juri dalam ajang kompetisi membaca Al-Qur’an atau Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) pada masa itu.
Saat mengunjungi Indonesia inilah, Syekh Mahmoud Khalil al-Hussary juga berkenan untuk menjalani perekaman lantunan Selawat Tarhim di studio rekaman legendaris Lokananta Surakarta. Dengan kepemilikan salah satu piringan hitam dari hasil perekaman tersebut, Radio Yasmara (Yayasan Masjid Rahmat) di Surabaya, mulai menyiarkannya tiap menjelang azan Subuh. Dari radio inilah, Selawat Tarhim selanjutnya menyebar ke seluruh penjuru Nusantara.
Popularitas Selawat Tarhim pada masa itu tidak dapat termungkiri berkat kepiawaian Syekh Mahmoud Khalil al-Hussary dalam melantunkannya. Dengan kepemilikan kualitas optimal teknik vokal yang sangat menyentuh hati, menyebabkan performa kumandangnya begitu menemukan keselarasan dan kecocokan dengan selera musikal masyarakat Indonesia.
Sebelumnya, di Nusantara sudah ada tradisi membangunkan warga muslim sebelum waktu Salat Subuh tiba, seperti dengan mengetuk kentongan. Selawat Tarhim menerobos masuk sebagai pengaruh dengan pilihan alternatif performa lebih religius dan menghampiri sisi estetis guna mengambil fungsi pragmatis yang serupa.
Selawat Tarhim memperoleh dukungan dari para ulama, terutama di kalangan Nahdlatul Ulama (NU). Mereka menerima dan melestarikan tradisi ini sebagai bentuk syiar Islam yang baik. Hingga kini, rekaman asli suara Syekh Mahmoud Khalil al-Hussary yang proses pengambilannya di Lokananta Surakarta puluhan tahun lalu itu masih merupakan versi yang paling kerap mendapatkan realisasi pemutaran di masjid-masjid menjelang waktu fajar.
Adapun lirik Selawat Tarhim memiliki kandungan pujian yang menunjukkan sikap mahabbatun nabi (محبة النبي) atau sering juga disebut mahabbah rasul (محبة الرسول). Dan, sudah pasti di dalamnya juga mengandung permohonan doa dan harapan karunia limpahan rahmat Allah Subhanahu wa ta’ala sebagai wujud ekspresi mahabbatullah (مَحَبَّةُ اللهِ).
Lirik "Ash-shalātu was-salāmu ‘alāyk, yā imāmal mujāhidīn" merupakan pengakuan bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sebagai pemimpin dari pejuang di jalan Allah dan orang-orang yang bertakwa.
Lirik "Yā nūral ‘arsyi" dan "Yā khayra khalqillāh" merupakan sapaan kepada Nabi sebagai cahaya arasy, surga yang tertinggi tempat takhta Allah. Dan, sebaik-baiknya makhluk ciptaan Allah.
Lirik "Yā man asrā bikal ilāhu laylan" mengacu pada peristiwa Isra Mikraj yang mengukuhkan kemuliaan Nabi yang atas kehendak Allah mengalami perjalanandari Masjidilharam ke Masjidilaqsa, langsung ke Sidratulmuntaha (langit ketujuh) pada malam hari dan berhasil memohon keringanan dari perintah salat 50 waktu menjadi salat lima waktu.
Bagian akhir lirik Selawat Tarhim berisikan doa keberkahan untuk Nabi arah rahmat dan keselamatan tercurah tuntas kepada kepada keluarga dan para sahabat tanpa terkecuali.
Dalam rengkuh makna secara menyeluruh, Selawat Tarhim tidak hanya sempadan lagu pengingat waktu. Akan tetapi, juga merupakan bentuk tawasul (perantara) guna memohon rahmat Allah di waktu mustajab (menjelang subuh) dengan melewati mahabbatun nabi.
Ijtihad Kemaslahatan Umum
Selawat Tarhim, sering juga ada yang menyebut Tarhiman, termasuk ke dalam kategori hasil ijtihad ulama yang berada dalam radius kemaslahatan umum (maslahah mursalah) atau tradisi baik (urf ‘amali) dan relatif jauh dari tarikan goda untuk bertentangan dengan rambu-rambu ketentuan syariat.
Selawat Tarhim tidak langsung berasal dari Al-Qur’an ataupun Hadis Nabi yang secara eksplisit merupakan teks tunggal yang wajib menerima pembacaan dari setiap umat Islam. Akan tetapi, sebagaimana tertuang pada uraian di bagian sebelumnya dari tulisan ini, ia merupakan hasil kreasi ulama dan qari asal Mesir, Syekh Mahmoud Khalil al-Hussary.
Pada zaman Nabi, secara historis Bilal bin Rabah tidak mengumandangkan Selawat Tarhim sebagaimana berada dalam rengkuh pengenalan publik dewasa ini. Uraian terdahulu juga menyebutkan, titimangsa penciptaannya baru terlahir pada tahun 1959. Itu sekitar pertengahan abad ke-20.
Akan tetapi, ada praktik pada zaman Nabi yang mempunyai tujuan serupa dengan Selawat Tarhim. Menyediakan penanda yang memberi peringatan sebelum waktu azan untuk menunaikan Salat Subuh datang. Pada masa itu, terdapat azan Subuh sebanyak dua kali. Azan pertama dilafazkan oleh Bilal bin Rabah saat masih malam (sebelum fajar).
Tujuan azan pertama ini, guna membangunkan orang yang masih terlelap dalam buaian tidurnya untuk mempersiapkan hati memenuhi panggilan Salat Subuh. Atau, saat Bulan Suci Ramadan, memberi sinyal penanda bagi mereka yang sedang melakukan sahur agar bersiap sedia mempercepat proses pengonsumsinya dan segera berhenti sebelum berkumandang azan kedua.
Pada zaman Nabi, azan kedua yang diperdengarkan oleh Abdullah bin Ummi Maktum yang tunanetra dan dikumandangkan tepat saat fajar sidik (masuk waktu Subuh) yang dijadikan tanda bahwa salat akan segera dimulai. Kendatipun ada kemiripan tujuan, yakni untuk peringatan awal, sesuai dengan namanya (azan pertama), “alat” yang dipakai Bilal adalah lafaz atau kalimat azan.
Sementara itu, Selawat Tarhim sebagaimana yang kita dengarkan sekarang menegaskan pemakaian lantunan selawat Nabi berpadu dengan doa. Berikut kutipan selengkapnya berikut transkripsi huruf Latin dan terjemahannya.
الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَيْكَ ۞ يَاإمَامَ الْمُجَاهِدِيْنَ ۞ يَارَسُوْلَ اللهْ • الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَيْكَ ۞ يَانَاصِرَ اْلهُدَى ۞ يَا خَيْرَ خَلْقِ اللهْ • الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَيْكَ ۞ يَانَاصِرَ الْحَقِّ يَارَسُوْلَ اللهْ • الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَيْكَ ۞ يَامَنْ اَسْرَى بِكَ مُهَيْمِنُ لَيْلًا نِلْتَ ۞ مَا نِلْتَ وَالأَنَامُ نِيَامْ وَتَقَدَّمْتَ لِلصَّلَاةِ فَصَلَّ كُلُّ مَنْ فِى السَّمَاءِ وَاَنْتَ الْإِمَامْ وَاِلَى الْمُنْتَهَى رُفِعْتَ كَرِيْمًا وَ سَمِعْتَ نِدَاءً عَلَيْكَ السَّلَامْ ۞ يَا كَرِمَ الْأَخْلَاقْ ۞ يَارَسُوْلَ اللهْ ۞ صَلىَ اللهُ عَلَيْكَ ۞ وَ عَلىَ عَلِكَ وَ اَصْحَابِكَ أجْمَعِيْنَ۞
Ash-shalaatu was-salaamu ‘alaiyk, Yaa imaamal mujaahidiin, Yaa Rasuulallaah. Ash-shalaatu was-salaamu ‘alaaik, Yaa naashiral hudaa, Yaa khayra khalqillaah. Ash-shalaatu was-salaamu ‘alaaik, Yaa naashiral haqqi yaa Rasuulallaah. Ash-shalaatu was-salaamu ‘alaaik. Yaa Man asraa bikal muhayminu laylan nilta, Maa nilta wal-anaamu niyaamu, Wa taqaddamta lish-shalaati fashallaa kulu man fis-samaai wa antal imaamu wa ilal muntahaa rufi’ta kariiman wa ilal muntahaa rufi’ta kariiman wa sai’tan nidaa ‘alaykas salaam, Yaa kariimal akhlaaq yaa Rasuulallaah, Shallallaahu ‘alayka, Wa ‘alaa 'aalika wa ashhaabika ajma’iin.
Terjemahan:
Selawat dan salam semoga dilimpahkan padamu wahai pemimpin para pejuang, Ya Rasulullah.
Selawat serta salam semoga diberikan kepadamu wahai penuntun petunjuk Ilahi, wahai makhluk yang paling baik.
Selawat dan salam semoga tercurahkan atasmu, wahai penolong kebenaran.
Ya Rasulullah, selawat dan salam semoga tercurahkan kepadamu. Duhai Yang Memperjalankanmu pada malam hari.
Dialah Yang Maha Melindungi, Kau memperoleh apa yang engkau dapat sementara seluruh manusia tidur.
Di belakangmu ada semua penghuni langit saat mengerjakan salat dan engkau jadi imam.
Kau diberangkatkan menuju Sidratulmuntaha sebab kemulianmu, dan suara ucapan salam atasmu kau dengar. Wahai yang sangat mulia akhlaknya.
Ya Rasulullah, semoga selawat selalu dilimpahkan kepadamu, untuk keluarga dan sahabatmu.”
Sumber: https://jatim.nu.or.id/keislaman/bacaan-shalawat-tarhim-dalam-bahasa-arab-latin-dan-terjemahnya-iocX1
Dengan demikian, Selawat Tarhim merupakan ijtihad karena menggunakan lafaz alternatif untuk menyulihi peran azan pertama pada zaman Nabi guna memberi tanda bahwa waktu Salat Subuh akan segera masuk.
Terkait dengan hukumnya, para ulama terutama dari NU tidak terlalu mempersoalkannya. Sebab, isi lafaznya adalah pujian kepada Baginda Nabi dan doa. Hal ini sesuai dengan anjuran syariat. Ada dalil-dalil umum tentang keutamaan selawat.
Keutamaan Selawat Nabi memiliki dalil Al-Qur’an lewat Surah Al-Ahzab Ayat 56:
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
اِنَّ اللّٰهَ وَمَلٰٓئِكَتَهٗ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ ۗ يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا
Innalloha wa malaaa-ikatahuu yusholluuna 'alan-nabiyy, yaaa ayyuhallaziina aamanuu sholluu 'alaihi wa sallimuu tasliimaa.
"Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya berselawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Berselawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya." (QS. Al-Ahzab 33: Ayat 56)
* Via Al-Qur'an Indonesia https://quranapp.id
Sementara itu, ada pula sejumlah hadis yang menegaskan keutamaan melafazkan selawat. Ada yang menyebutkan adanya pahala 10 kali rahmat dari Allah.
مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلَاةً وَاحِدَةً، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ عَشْرَ صَلَوَاتٍ، وَحُطَّتْ عَنْهُ عَشْرُ خَطِيئَاتٍ، وَرُفِعَتْ لَهُ عَشْرُ دَرَجَاتٍ
Man shallâ 'alayya shalâtan wâhidatan, shallillâhu 'alaihi 'asyra shalawâtin, wa huththat 'anhu 'asyru khathî'âtin, wa rufi'at lahu 'asyru darajâtin.
“Barangsiapa yang berselawat kepadaku sekali, maka Allah akan berselawat kepadanya sepuluh kali, dihapuskan darinya sepuluh kesalahan (dosa), dan ditinggikan baginya sepuluh derajat.”
(HR. Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, dan Nasa'i).
Hadis lain mengemukakan, dengan sering berselawat, kelak akan paling dekat dengan Nabi pada Hari Kiamat.
أَوْلَى النَّاسِ بِيْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَكْثَرُهُمْ عَلَيَّ صَلَاةً
Awlan-naasi bii yawmal-qiyaamati aktsaruhum 'alayya shalaatan.
"Manusia yang paling berhak bersamaku pada hari kiamat ialah yang paling banyak berselawat kepadaku" (HR. Tirmidzi).
Hadis dari jerih periwayatan Imam At-Tirmidzi tersebut menunjukkan keutamaan memperbanyak selawat untuk memperoleh kedekatan dan syafaat Nabi Muhammad ﷺ di akhirat.
Keberadaan Selawat Tarhim di dalam ranah ijtihad, dalam hal ini untuk menjadi sarana (wasilah) untuk mempermudah masyarakat bangun dan menyediakan kondisi yang maksimal dan nyaman untuk menunaikan Salat Subuh. Dengan demikian, nilai maslahah atau manfaat yang timbul mempunyai daya keterasaan fungsionalnya yang menyentuh khalayak banyak.
Selawat tarhim itu, jika mendapat fokus penalaran religius, sesungguhnya hanya bertalian dengan karakteristik aspek yang kultural dan teknis. Jadi, bulan ijtihad yang bertalian dalam upaya untuk menambahkan tatanan ibadah mahdah (pokok), melainkan bisa berpotensi menjadi tradisi baik untuk menyuburkan relasi mahabah di hati kepada Allah dan Nabi.
Selawat Tarhim bukan merupakan bagian dari azan, melainkan hanyalah khadim, hanyalah pelayan, hanyalah pengantar azan. Dengan status posisi eksistensinya yang sedemikian, jelaslah Selawat Tarhim tidak akan pernah bisa menggantikan azan. Seperti azan, terdapat pula anjuran adab yang semestinya terhadap Selawat Tarhim, yaitu untuk mendengarkan dan menjawabnya.
Di Indonesia, dan juga di negara-negara mayoritas Islam lainnya, dengan tingkat efektivitas masing-masing, Selawat Tarhkm dapat menjadi bagian dari “akustik” keagamaan yang tersendiri. Lafaznya tidak jarang mengusung dampak sosial berupa ketenangan jiwa publik muslim dan muslimah pendengarnya. Dan, tentu saja esensi praktisnya, menjadi pengingat yang andal bagi masyarakat pemeluk agama Islam guna memulai harinya untuk menunaikan ibadah.
Tidak dapat termungkiri sebagai realitas yang berdiri di depan mata publik muslim dan muslimah, Selawat Tarhim menggunakan seni teknik vokal Islam, yaitu melisma, yang menghamburkan kesan mendayu-dayu, merdu, dan penuh dorongan hati yang berbalutkan rasa mahabah begitu tebal. Teknik ini misalnya untuk memperpanjang nada pada kata-kata tertentu, seperti “Shalaaaatu wa salaaamu ‘alaaaaika …”.
Selawat Tarhim dalam perkembangan selanjutnya menunjukkan fleksibelitas penerapan. Tidak saja menjadi khadim azan Salat Subuh. Setidaknya di sejumlah wilayah Kota Semarang, saya menjadi saksi hidup, pernah mendengarnya sebagai khadim untuk azan salat fardu selain Salat Subuh berjamaah di masjid atau musala.
Pada 2023 - 2024, dua tahun terakhir sebelum saya purnatugas sebagai salah seorang redaktur di Harian Suara Merdeka Semarang. Di kantor redaksi Kawasan Kota Lama, dekat dengan Stasiun Kereta Api Tawang, masuk wilayah Kecamatan Tanjung Mas, Kecamatan Semarang Utara. Tiap kali akan berkumandang azan Salat Magrib dan Isya, saya selalu mendengar Selawat Tarhim di salah satu masjid dari beberapa yang berdiri di sekitar wilayah tersebut.
Kemudian setelah purnatugas. Kira-kira satu atau dua bulan lalu (tahun 2026) ketika menunggu azan Salat Zuhur untuk berjamaah dengan para guru dan siswa-siswi SLB Negeri Semarang di musala setempat, Jalan Elang Raya Nomor 2, Kelurahan Mangunharjo, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang. Secara tidak terduga sebelumnya, dari salah satu masjid atau musala yang berada di luar area sekolah untuk anak-anak penyandang disabilitas itu, saya mendengar dengan jelas lafaz Selawat Tarhim. Hanya sebagai catatan, setelah kejadian itu, saya jarang atau hampir tidak pernah mendengarnya lagi. Entahlah, apa penyebabnya.
Selama bulan Suci Ramadan 1447 Hijriah ini, seperti tahun-tahun sebelumnya (demikian pula manakaka di luar Ramadan), di Musala Ar-Rahman Perumahan Bukit Kencana Jaya, Kelurahan Meteseh, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang, saya mendengar adanya lantunan Selawat Tarhim menjelang kumandang azan Salat Magrib, Isya, dan Subuh.
Saya pribadi belum pernah mendengar Selawat Tarhim terlafazkan menjelang azan Salat Asar. Setidaknya hingga tulisan ini selesai disusun. Meskipun sebenarnya, tidak ada larangan yang melekat sebagai ketentuan aturan untuk mengumandangkannya sebelum azan Salat Asar. Memang begitulah adanya. Selawat Tarhim secara tradisi, identik dengan perannya sebagai khadim, pelayan atau pengantar, azan Subuh. Namun, boleh saja dilafazkan sebelum azan pada salat-salat fardu yang lain. ***





