Dalam upaya menyongsong Indonesia Emas 2045, nilai-nilai kearifan lokal kembali diangkat sebagai fondasi karakter bangsa. Salah satunya adalah falsafah masyarakat Dayak Ngaju di Kalimantan Tengah, yaitu 'Mahamen Mambesei, Jukung Bahantung', yang menekankan pentingnya kerja keras dan kejujuran dalam berikhtiar.
Mantan Gubernur Kalimantan Tengah sekaligus anggota DPD RI, Dr. Agustin Teras Narang, menjelaskan bahwa secara harfiah, pepatah ini berarti 'malu mendayung perahu yang sedang tergantung' atau tidak berada di atas air. Menurutnya, ungkapan ini merupakan tamparan bagi mereka yang suka berpura-pura sibuk namun tidak membuahkan hasil nyata.
"Malu kita kalau mendayung perahu yang sedang tergantung. Perahu itu seharusnya berada di atas air, dan menjadi tugas kita untuk mendayungnya jika ingin maju. Sama halnya jika ingin berhasil, kita harus benar-benar berusaha," ujar Teras Narang dalam program Mutiara Hikmah Nusantara.
Baca juga: 'Ngimpi Piak Jari Nyata Lamun Side Bani', Pesan Keberanian Mewujudkan Mimpi dari Sasak
Tantangan untuk bekerja keras kini semakin berat bagi generasi muda, khususnya Gen Z dan Gen Alpha, akibat distraksi teknologi. Prof. Din Syamsuddin menyoroti adanya fenomena di mana banyak anak muda memiliki cita-cita tinggi namun malas untuk berproses, sehingga cita-cita tersebut hanya menjadi mimpi abstrak.
Dalam perspektif Islam, Prof. Din mengaitkan semangat kerja keras ini dengan konsep Jihad. Namun, jihad yang dimaksud dalam konteks masa kini bukanlah peperangan fisik, melainkan badlul juhdi atau mengerahkan segala daya upaya dan potensi untuk mencapai tujuan mulia.
Integrasi antara kearifan lokal seperti filosofi Dayak dan nilai-nilai agama diharapkan mampu melahirkan generasi yang tangguh, andal, dan sukses menaklukkan tantangan masa depan. Dengan semangat ‘Mahamen Mambesei, Jukung Bahantung’, hidup harus terus bergerak dinamis dan proaktif demi tercapainya kejayaan bangsa di 2045.




