Kamis sore, saya memutuskan untuk menghabiskan momen ngabuburit di kawasan Pusdai, tentu sendiri saja. Jarak kos saya menuju Pusdai sekitar lima belas menit dengan kendaraan motor. Saya menduga kemungkinan jalanan akan macet.
Dugaan saya meleset. meskipun sudah menjelang buka puasa, sepanjang jalan Gatot Subroto sampai ke jalan Martadinata masih lumayan lengang. Hanya beberapa penjual takjil yang menunggu pembeli sementara lalu lalang kendaraan cukup lancar.
Keramaian baru terasa saat saya memasuki kawasan Pusdai, bahkan jalanan di depan Pusdai dipenuhi penjual takjil dan pengunjung yang membludak. Aneka macam takjil disajikan dengan berbagai teknik marketing yang menarik.
Saya hanya membeli gorengan dan pukis kemudian menuju teras masjid sambil menunggu waktu buka puasa. Di depan saya, ada pasangan suami istri paruh bayah yang juga sedang menikmati sore sambil menunggu bedug maghrib.
Entah sejak kapan, saya sudah tidak terlalu banyak makan ketika buka puasa, tentu karena umur semakin menua. Saya ingat dulu saat masih kecil, waktu berbuka merupakan momen balas dendam setelah seharian menahan lapar dan dahaga. Segala jenis makanan tandas sesaat setelah azan maghrib dikumandangkan.
Bagi saya, Ramadan tidak lagi menjadi keriuhan indrawi yang dirayakan dengan euforia, tentang segala hal yang menyenangkan diri. Ramadan berubah makna menjadi sebuah keheningan. Ramadan tetap ramai namun saya tinggal dalam sebuah keheningan, pada diri yang selalu berontak akan arah yang seharusnya dituju. Kahlil Gibran menyatakan bahwa kesejatian dalam diri manusia adalah keheningan.
Hidup semakin berjalan begitu cepat, semua instrumen kehidupan diciptakan untuk mendukung kecepatan dalam setiap bidang yang pada akhirnya melahirkan hal-hal instan. Perubahan demi perubahan terjadi setiap hari sehingga memaksa manusia untuk terus berlari tanpa berhenti sejenak untuk menyadari bahwa mereka adalah manusia.
Dan nampaknya, manusia tidak diberikan sedikit ruang untuk bernafas mengikuti irama kehidupan yang serba sibuk, serba cepat, bahkan serba instan. Manusia menjalani hidup secara mekanik dalam melupakan dirinya bahwa mereka manusia.
Pada akhirnya, apa yang disebut oleh Kahlil Gibran sebagai kesejatian dari manusia, akhirnya hilang tak berbekas. Tidak ada lagi keheningan dalam diri manusia dan yang tersisa adalah hiruk pikuk tanpa ujung.
Jangan heran jika di zaman sekarang, penyakit manusia bukan lagi fisik tetapi psikis. Mereka mengidap berbagai gangguan kesehatan yang sulit dideteksi dengan alat kedokteran karena jiwa mereka sedang merana, meronta tanpa sebab dan menangis tersedu-sedu menyaksikan segalanya hampa.
Penyebabnya sederhana, manusia modern berjalan menjauh dari kesejatian diri mereka. Siapa saja yang meninggalkan kesejatiannya maka tentu mereka akan hilang arah. Manusia terlalu pongah ingin menaklukkan dunia sementara dunia kecil ada dalam diri mereka sendiri.
Bayangkan saja, kita tidak bisa lagi memilah tujuan mana yang harus dicapai karena semua menawarkan pesona yang menggiurkan. Kita tidak lagi menikmati perjalanan panjang dan melelahkan sambil merefleksikan setiap fase kehidupan, kita hanya berlari mengejar fatamorgana.
Keheningan adalah salah satu cara bagi manusia untuk kembali ke dalam diri mereka, menemukan berlian yang mereka campakkan demi sekarung batu tak bernilai. Keheningan akan menuntun manusia untuk kembali mempertanyakan mana arah yang benar dan mana tujuan yang tepat.
Hening tidak selalu berarti kondisi sepi tetapi juga bisa bermakna sangat jernih. Dalam keheningan, kita akan menyadari bahwa betapa ramainya mikro kosmos manusia.
Maka Ramadan datang memberikan manusia kesempatan untuk kembali merasakan keheningan. Momen ketika manusia menjernihkan sel-sel dalam dirinya melalui perenungan panjang. Kita dipaksa untuk tidak makan dan minum di siang hari agar kenikmatan badaniah tidak menghalangi diri menemukan kesejatiannya.
Pertanyaannya, seberapa lama kita mampu berdiam diri sambil bertanya semua hal kepada diri sendiri?
Saya yakin, sebagian dari manusia modern tidak mampu berdiam diri dalam keheningan bersama diri mereka. Ada godaan untuk terus mengusik diri agar kabur dari percakapan itu.
Kehidupan memang sungguh sangat paradoks. Ketika kemudahan-kemudahan hidup diciptakan oleh manusia, mereka merasa kosong karena ternyata itu semua bukan tujuan hidup. Gaddet diciptakan untuk mempermudah komunikasi namun kenyataannya malah memutus komunikasi.
Hidup sungguh amat sangat paradoks dan untuk memahami itu semua, manusia perlu memeluk keheningan sementara Ramadan datang menawarkan momen itu.



