Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menuturkan gejolak pasar keuangan global belum mengurangi minat investor terhadap Surat Berharga Negara (SBN) Indonesia. Permintaan investor pada lelang SBN disebut tetap kuat.
Wakil Menteri Keuangan Juda Agung mengatakan, kondisi itu terlihat dari rasio penawaran terhadap penawaran yang dimenangkan (bid to cover ratio) yang masih tinggi dalam lelang SBN pemerintah.
“Minat dan kepercayaan investor terhadap fundamental perekonomian kita masih terjaga di tengah dinamika pasar keuangan global yang sangat penuh ketidakpastian,” kata Juda dalam konferensi pers APBN KiTA di kantor Kemenkeu, Jakarta, Rabu (11/3).
Kemenkeu mencatat realisasi pembiayaan anggaran mencapai Rp185,3 triliun atau sekitar 22,3% dari target 2026 per Februari. Sebagian besar pembiayaan utang tersebut masih berasal dari penerbitan SBN di pasar domestik.
Dalam lelang Surat Utang Negara (SUN), bid to cover ratio tercatat di atas dua kali, sementara untuk Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) mencapai sekitar 3,1 kali. Capaian ini lebih baik dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Juda juga memaparkan, minat investor asing tetap terjaga. Bid to cover ratio investor asing pada lelang SUN tercatat sekitar 2,4 kali, sementara untuk SBSN mencapai 2,8 kali, meningkat dibandingkan tahun lalu.
Selain mengandalkan pasar domestik, pemerintah aktif mengakses pasar global. Pada Februari 2026, pemerintah menerbitkan SBN global dalam dua denominasi mata uang, yakni renminbi offshore (CNH) dan euro.
Juda mengungkapkan, penerbitan SBN dalam mata uang CNH mencapai 9,25 miliar CNH dengan tingkat imbal hasil sekitar 2% hingga 3%. Sementara itu, penerbitan dalam denominasi euro mencapai 2,7 miliar euro dengan yield sekitar 4% hingga 5%.
Menurutnya, tingkat imbal hasil tersebut menunjukkan respons positif dari investor global terhadap kondisi ekonomi Indonesia yang dinilai tetap kuat.
Meski demikian, tambah Juda, perkembangan pasar SBN tetap dipengaruhi dinamika global yang cukup volatil. Secara year to date, yield SBN tercatat meningkat sekitar 55 basis poin, yang turut mendorong pelebaran spread terhadap obligasi pemerintah Amerika Serikat atau US Treasury.
Selisih atau spread SBN tenor 10 tahun terhadap US Treasury tercatat sekitar 243 basis poin per 6 Maret. Juda mengatakan, level spread tersebut masih tergolong kompetitif dibandingkan sejumlah negara dengan profil ekonomi serupa.



