Ubah Haluan ke Bisnis Hijau, TOBA Bukukan Rugi Akuntansi di 2025

cnbcindonesia.com
6 jam lalu
Cover Berita
Foto: TBS Energi Utama. (Dok. TBS Energi Utama)

Jakarta, CNBC Indonesia - PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) mencatatkan rugi bersih sebesar US$162 juta pada tahun buku 2025. Namun demikian, kerugian tersebut dinilai lebih merupakan dampak pencatatan akuntansi yang muncul dalam proses transformasi bisnis Perseroan menuju portofolio energi yang lebih berkelanjutan.

Dampak terbesar terhadap pencatatan rugi bersih berasal dari divestasi dua aset PLTU, yaitu PT Minahasa Cahaya Lestari dan PT Gorontalo Listrik Perdana. Berdasarkan ketentuan standar akuntansi untuk proyek Independent Power Producer (IPP) dengan skema Build-Own-Operate-Transfer (BOOT), nilai aset pembangkit yang tercatat sebelumnya juga mencakup komponen pendapatan masa depan yang belum direalisasikan.

Ketika aset tersebut dilepas, bagian pendapatan yang belum jatuh tempo harus dihapus dari pembukuan sehingga tercatat sebagai rugi non-kas dalam laporan laba rugi.
Analis Ajaib Sekuritas Rizal Rafly menilai bahwa kerugian tersebut tidak mencerminkan pelemahan fundamental perusahaan.


Baca: Mau Ekspansi, TBS Energi Utama (TOBA) Rights Issue 1,39 Miliar Saham

"Kerugian ini pada dasarnya merupakan dampak pencatatan akuntansi dari divestasi aset. Tidak ada arus kas keluar dari transaksi tersebut, justru divestasi ini memperkuat posisi kas dan mempercepat transisi bisnis TBS ke portofolio energi hijau," ujarnya.

Selain faktor akuntansi dari divestasi PLTU, penurunan harga batu bara global sepanjang 2025 juga memberikan tekanan terhadap kinerja segmen pertambangan. Meski demikian, secara operasional Perseroan tetap mencatatkan adjusted EBITDA positif sebesar US$47,2 juta dengan posisi saldo kas sebesar US$102,3 juta - meningkat 15% dari tahun 2024. .

Seiring transformasi tersebut, komposisi bisnis TBS semakin bergeser ke sektor berkelanjutan. Segmen pengelolaan limbah tercatat menghasilkan pendapatan sebesar US$155,4 juta atau sekitar 41% dari total pendapatan konsolidasian Perseroan.

Dari sisi operasional, bisnis pengelolaan limbah Perseroan di Singapura dan Indonesia mengelola sekitar 970.000 ton limbah per tahun dan melayani lebih dari 470 ribu pelanggan serta ribuan perusahaan.

Melalui anak usaha CORA Environment, TBS mengembangkan ekosistem pengelolaan limbah regional. Asia Medical Enviro Services (AMES) tercatat memproses sekitar 4.600 limbah medis, sementara ARAH Environmental mengelola lebih dari 11 ribu limbah medis dan domestik di Indonesia.

Sepanjang 2025, TBS melakukan penataan portofolio melalui langkah strategic repositioning dengan mengurangi eksposur terhadap bisnis batu bara dan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU). Pada saat yang sama, Perseroan memperkuat pengembangan tiga pilar bisnis masa depan yakni pengelolaan limbah, energi terbarukan, serta kendaraan listrik.

SVP Corporate Strategy & Business Development TOBA Nafi Sentausa mengatakan perusahaan saat ini mengembangkan Pembangkit Listrik Tenaga Mini Hidro (PLTMH) Sumberjaya di Lampung berkapasitas 6 megawatt (MW) yang telah beroperasi secara komersial sejak Januari 2025.

Tidak berhenti di situ, TOBA tengah mengebut konstruksi proyek Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Terapung atau floating solar di Batam dengan kapasitas mencapai 46 megawatt peak (MWp). Proyek tersebut ditargetkan mulai menyumbang aliran listrik pada kuartal keempat atau akhir tahun 2026.

Terbaru, pada sektor pengelolaan limbah yang kini menjadi penyumbang pendapatan terbesar setelah batu bara. Melalui akuisisi yang rampung pada 2023 dan awal 2025 TOBA telah berevolusi menjadi raksasa pengolahan limbah terintegrasi.

Baca: TOBA Kebut Proyek PLTS di Batam dan Sulap 1 Juta Ton Sampah Jadi Cuan

"Jadi 1 juta, kurang lebih sekitar 1 juta ton sampah yang kita kelola, baik di Singapura dan juga di Indonesia. Dan ini matriks operasionalnya juga cukup sehat, semuanya di atas 80% utilisasinya," jelas Nafi dalam acara Diskusi Media, di Kantor TBS Energi Utama, Jakarta, Senin (9/3/2026).

Limbah yang dikelola pun beragam, mulai dari limbah domestik, komersial, medis, B3, hingga fasilitas pemulihan material (sorting).

"Bisnis waste management saat ini berada di jalur yang tepat untuk menjadi motor pertumbuhan baru bagi TOBA. Pasar juga menantikan kontribusi lebih besar dari segmen kendaraan listrik dan energi terbarukan karena kedua sektor tersebut memiliki prospek pertumbuhan jangka panjang," ujarnya.

Di sisi lain, pengembangan ekosistem kendaraan listrik juga mulai menunjukkan perkembangan. Electrum tercatat telah mengoperasikan lebih dari 7500 unit motor listrik di jalan serta mengembangkan sekitar 364 stasiun penukaran baterai.

Sementara itu pada sektor energi terbarukan, proyek pembangkit mini hidro di Lampung dengan kapasitas 6 MW telah mulai beroperasi sejak 2025. Adapun proyek pembangkit listrik tenaga surya terapung di Batam dengan kapasitas 46 MWp saat ini masih dalam tahap konstruksi dengan target beroperasi pada akhir tahun 2026.

Pencatatan rugi non-kas tersebut merupakan konsekuensi dari proses restrukturisasi portofolio. "Rugi akuntansi seperti ini biasanya akan tercatat hingga akhir tahun buku. Setelah dampak non-kas tersebut selesai, perusahaan berpotensi kembali mencatatkan laba seiring meningkatnya kontribusi dari bisnis waste management serta sektor hijau lainnya," katanya.


(ayh/ayh) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:
Video: Jurus Emiten Energi Tambah Bisnis EBT & Percepat Dekarbonisasi

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Rugikan Rp103 M, BPOM Temukan 56 Ribu Produk Pangan Berbahaya Jelang Idulfitri
• 20 jam laluharianfajar
thumb
Jadwal Imsak dan Buka Puasa 12 Maret 2026 di Jakarta dan Sekitarnya
• 15 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Rudal Tomahawk jadi Bukti Baru AS Serang Sekolah di Iran
• 22 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Tingkatkan Indeks Pencegahan Korupsi, Bupati Luwu Utara Targetkan Posisi 10 Besar
• 8 jam laluharianfajar
thumb
Antisipasi Konflik Timur Tengah, Pemerintah Siapkan Tiga Skenario Darurat Ibadah Haji 2026
• 22 jam lalukompas.id
Berhasil disimpan.