7 Mitos Campak yang Belum Tentu Benar, Dari Larangan Mandi Hingga Pakai Salep

katadata.co.id
4 jam lalu
Cover Berita

Campak (rubeola) merupakan penyakit infeksi virus yang sangat menular dan masih menjadi penyebab utama kematian pada anak-anak di sejumlah negara berkembang, termasuk Indonesia. Penyakit ini ditandai dengan demam tinggi, batuk, pilek, mata merah (konjungtivitis), serta munculnya ruam kemerahan yang menyebar di hampir seluruh tubuh.

Di masyarakat, berbagai mitos campak masih dipercaya dan diwariskan secara turun-temurun. Salah satu yang paling sering muncul adalah larangan mandi bagi penderita karena diyakini dapat memperparah ruam atau membuat virus masuk ke dalam tubuh. Akibat kepercayaan tersebut, tidak sedikit pasien, terutama anak-anak yang justru tidak mendapatkan perawatan kebersihan yang memadai selama sakit.

Padahal, campak merupakan penyakit yang membutuhkan penanganan yang tepat. Memahami perbedaan antara mitos dan fakta menjadi penting agar penderita mendapatkan perawatan yang benar dan risiko komplikasi dapat diminimalkan.

Mengapa Campak Terjadi?
Pantangan Sakit Campak (unsplash.com)

 

Campak disebabkan oleh virus dari keluarga paramyxovirus. Virus ini hidup di hidung dan tenggorokan penderita, lalu menyebar melalui percikan air liur atau droplet ketika penderita batuk, bersin, atau berbicara.

Virus campak bahkan dapat bertahan di udara dan permukaan benda selama beberapa jam. Karena itu, penyakit ini memiliki tingkat penularan yang sangat tinggi. Sekitar 90% orang yang belum memiliki kekebalan dapat tertular apabila melakukan kontak dengan penderita.

Perjalanan Gejala Campak

Perjalanan penyakit campak umumnya berlangsung melalui beberapa tahapan berikut:

  • Masa inkubasi: sekitar 7–14 hari setelah terpapar virus, biasanya tanpa gejala.
  • Gejala awal (prodromal): ditandai demam tinggi hingga sekitar 40°C, batuk kering, pilek, mata merah, serta sensitivitas terhadap cahaya (fotofobia). Pada tahap ini juga dapat muncul bercak putih keabuan di dalam mulut yang disebut Koplik spots.
  • Munculnya ruam: sekitar 3–5 hari setelah gejala awal, ruam merah mulai muncul dari garis rambut di wajah lalu menyebar ke leher, tubuh, lengan, hingga kaki. Ketika ruam muncul, demam biasanya meningkat.

Meskipun sering disebut sebagai penyakit yang dapat sembuh sendiri atau self-limiting disease, campak tetap perlu diwaspadai karena berpotensi menimbulkan komplikasi serius.

7 Mitos Campak yang Masih Banyak Dipercaya

Banyaknya informasi yang beredar di masyarakat membuat sejumlah mitos tentang penyakit ini sulit dibedakan antara fakta dan kepercayaan. Berikut tujuh mitos campak yang sering dipercaya, meskipun tidak sepenuhnya benar.

1. Mitos Campak: Penderita Tidak Boleh Mandi

Salah satu mitos campak yang paling populer adalah larangan mandi. Banyak orang percaya bahwa mandi dapat memperparah ruam atau membuat virus masuk lebih dalam ke dalam tubuh.

Faktanya, penderita campak justru dianjurkan menjaga kebersihan tubuh. Mandi dengan air hangat dapat membantu membersihkan kulit dari keringat dan kotoran sekaligus  serta mengurangi rasa tidak nyaman akibat demam.

2. Mitos Campak: Campak Hanya Penyakit Ringan

Sebagian orang menganggap campak sebagai penyakit ringan yang pasti sembuh dengan sendirinya. Anggapan ini juga termasuk mitos campak yang perlu diluruskan.

Walaupun banyak kasus campak dapat pulih tanpa masalah serius, penyakit ini tetap memiliki risiko komplikasi yang berbahaya.

Beberapa komplikasi yang dapat terjadi antara lain:

  • Pneumonia
  • Infeksi telinga
  • Diare berat
  • Radang otak (ensefalitis)

Komplikasi tersebut dapat menjadi fatal, terutama pada anak kecil atau individu dengan daya tahan tubuh lemah.

3. Mitos Campak: Hanya Anak-anak yang Bisa Terkena Campak

Banyak orang percaya bahwa campak hanya menyerang anak-anak. Padahal, anggapan ini termasuk mitos yang tidak sepenuhnya benar. Orang dewasa memang memiliki risiko lebih rendah tertular campak, tetapi tetap dapat terinfeksi jika tidak memiliki kekebalan terhadap virus tersebut.

Sebagian besar orang dewasa yang lahir sebelum tahun 1957 dianggap sudah memiliki kekebalan karena pernah terpapar virus campak. Namun, individu yang lahir antara tahun 1957 hingga 1989 mungkin hanya menerima satu dosis vaksin campak, sehingga perlindungannya tidak optimal.

4. Mitos Campak: Ruam Harus Diobati dengan Salep

Munculnya ruam merah sering membuat orang tua mencoba berbagai cara untuk mengobatinya, termasuk mengoleskan salep tertentu. 

Padahal, ruam merupakan gejala luar dari infeksi virus yang terjadi di dalam tubuh. Ruam akan hilang dengan sendirinya seiring sistem kekebalan tubuh mengatasi virus.

Lotion seperti calamine lotion memang dapat membantu mengurangi rasa gatal, tetapi tidak menyembuhkan penyakit campak itu sendiri.

5. Mitos Campak: Penderita Tidak Boleh Terpapar Cahaya Sama Sekali

Ada pula mitos campak yang menyebutkan bahwa penderita harus ditempatkan di ruangan yang benar-benar gelap.

Faktanya, penderita campak memang sering mengalami sensitivitas terhadap cahaya atau fotofobia. Namun, yang perlu dihindari hanyalah cahaya yang terlalu terang atau menyilaukan.

Ruangan cukup dibuat lebih redup, tetapi tetap memiliki ventilasi udara yang baik agar sirkulasi udara tetap lancar.

6. Mitos Campak: Bisa Dicegah Tanpa Vaksin

Sebagian orang percaya bahwa campak dapat dicegah melalui metode alami tanpa vaksinasi. Anggapan tersebut termasuk mitos campak yang cukup sering beredar.

Faktanya, tidak ada cara alami yang terbukti efektif untuk mencegah campak. Vaksinasi merupakan metode paling efektif untuk melindungi tubuh dari infeksi virus campak.

Meskipun terdapat kekhawatiran terhadap efek samping vaksin, berbagai penelitian menunjukkan bahwa vaksin campak aman dan efektif untuk mencegah penyakit ini.

7. Mitos Campak: Vaksin Campak Menyebabkan Autisme

Isu mengenai hubungan antara vaksin campak dan autisme juga sering muncul di masyarakat. Namun, anggapan tersebut merupakan mitos yang telah lama dibantah oleh penelitian ilmiah.

Vaksin campak biasanya diberikan dalam bentuk vaksin Measles, Mumps, Rubella atau MMR. Beberapa orang mengaitkan vaksin ini dengan autisme karena waktu pemberiannya sering berdekatan dengan masa munculnya gejala autisme pada anak.

Namun, berbagai penelitian berskala besar tidak menemukan hubungan antara vaksin MMR dan autisme. Oleh karena itu, klaim tersebut dianggap tidak benar oleh komunitas medis.

Selain itu, tidak semua orang perlu menerima vaksin MMR. Bayi di bawah usia enam bulan tidak boleh menerima vaksin ini. Individu yang sudah pernah terkena campak atau telah menyelesaikan rangkaian vaksin juga tidak perlu divaksin ulang.

Kapan Harus ke Dokter?
obat campak alami dari tanaman (unsplash.com)

 

Segera bawa penderita campak ke fasilitas kesehatan jika muncul tanda bahaya seperti:

  • Demam sangat tinggi yang tidak turun
  • Sesak napas atau napas cepat
  • Batuk yang semakin memburuk
  • Sakit kepala hebat
  • Muntah terus-menerus atau sulit makan dan minum
  • Tanda dehidrasi seperti mata cekung dan berkurangnya buang air kecil
  • Kejang atau penurunan kesadaran
  • Ruam bernanah akibat infeksi sekunder

Beredarnya berbagai mitos campak menunjukkan bahwa masih banyak kesalahpahaman mengenai penyakit ini. Informasi yang tidak akurat dapat memengaruhi cara perawatan penderita dan meningkatkan risiko komplikasi.

Pemahaman yang benar mengenai campak membantu masyarakat mengambil langkah yang tepat dalam pencegahan maupun penanganan penyakit ini. Imunisasi, menjaga kebersihan, serta konsultasi dengan tenaga medis merupakan langkah penting untuk melindungi diri dari penyakit campak.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Habiburokhman ke Jaksa Soal Kasus Fandi: Kenapa Beda dengan Sikap Jaksa Agung?
• 23 jam lalukumparan.com
thumb
Alasan Purbaya Belum Akan Revisi APBN 2026: Rata-rata ICP US$68
• 33 menit lalubisnis.com
thumb
Menteri Pigai Tolak Pertanyaan Selain Menyangkut Kegiatan HAM
• 9 jam lalurepublika.co.id
thumb
Profil Heeseung, Member ENHYPEN yang Hengkang dari Grup dan Siap Debut Solo
• 18 jam lalugrid.id
thumb
Kasus Wanita Dibunuh Suami Siri di Depok: Korban Minta Cerai Tapi Pelaku Menolak
• 22 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.