FAJAR, MAKASSAR — Guru Besar Universitas Hasanuddin (Unhas), Muhammad, mengungkap sejumlah detail dari pertemuan tertutup antara Presiden Prabowo Subianto dengan sekitar 170 kiai dan tokoh organisasi kemasyarakatan (ormas) tingkat pusat di Istana Negara, 5 Maret lalu.
Dalam diskusi yang dipandu Redaktur FAJAR Ilham Wasi di Redaksi FAJAR. Prof Muhammad menyebut pertemuan tersebut berlangsung sangat tertutup atau off the record. Seluruh tamu undangan diminta meninggalkan ponsel di luar ruangan.
“Bahkan televisi internal di istana dimatikan agar komunikasi bisa berlangsung dua arah secara jujur,” ungkap mantan Ketua Badan Pengawas Pemilihan Umum itu.
Pidato Tiga Jam
Prof Muhammad mengaku terkesan dengan kondisi fisik Presiden Prabowo. Meski belum lama menjalani operasi kaki, Presiden tetap berdiri di podium selama kurang lebih tiga jam memaparkan posisi geopolitik Indonesia.
“Beliau sangat sehat dan bersemangat. Tiga jam berdiri di podium, tidak pernah duduk,” ujarnya.
Menurutnya, dalam pidato panjang tersebut Prabowo banyak menjelaskan strategi politik luar negeri Indonesia di tengah dinamika konflik global, termasuk sikap pemerintah terhadap isu Palestina.
Salah satu isu yang dibahas dalam pertemuan itu adalah keputusan Indonesia bergabung dalam Board of Peace (BOP), forum perdamaian yang disebut-sebut merupakan inisiatif mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Prof Muhammad menjelaskan, Presiden Prabowo menggunakan analogi sepak bola untuk menggambarkan keputusan tersebut.
Menurut Prabowo, Indonesia harus berada “di dalam lapangan” agar bisa memberi kontribusi nyata dalam proses perdamaian, bukan hanya berteriak dari luar.
Ia menyebut terdapat dua pertimbangan utama pemerintah: memastikan upaya nyata menuju kemerdekaan Palestina dan mencegah eskalasi konflik agar tidak meluas ke kawasan Timur Tengah.
Meski demikian, Prabowo menegaskan bahwa keanggotaan Indonesia di BOP tidak boleh mengorbankan kepentingan nasional.
“Kalau ternyata tujuan kemerdekaan Palestina tidak terlihat lagi atau kepentingan nasional kita terganggu, Indonesia tidak akan ragu keluar,” kata Prof Muhammad menirukan pernyataan Presiden.
Ia bahkan menyebut Prabowo mengaku telah mengajak sejumlah negara lain untuk mempertimbangkan langkah serupa jika forum tersebut tidak lagi sejalan dengan tujuan perdamaian.
Sementara itu, Presiden BEM UIN Alauddin Makassar, Muh. Zulhamdi Suhafid, menyampaikan pandangan kritis terkait posisi Indonesia dalam BOP.
Menurutnya, keberadaan Amerika Serikat—yang dikenal sebagai sekutu Israel—membuat posisi lembaga tersebut dinilai paradoks jika benar-benar bertujuan memperjuangkan kemerdekaan Palestina.
“Kami dari teman-teman BEM mengkonsolidasikan bagaimana pemerintah melakukan evaluasi total terhadap politik luar negeri bebas aktif dalam konteks BOP ini,” ujarnya.
Ia berharap Indonesia tidak hanya menjadi anggota pasif, tetapi mampu bersikap kritis dan vokal dalam memperjuangkan kemerdekaan Palestina.
Prof Muhammad juga mengapresiasi langkah Presiden Prabowo yang membuka ruang dialog langsung dengan para ulama dan tokoh masyarakat.
Menurutnya, forum tersebut memungkinkan penyampaian masukan secara jujur tanpa laporan yang bersifat Asal Bapak Senang (ABS).
Presiden, kata dia, bahkan berjanji komunikasi dua arah semacam ini akan dilakukan secara berkala ke depan.
“Intinya, kedaulatan politik, ekonomi, dan harga diri bangsa tetap menjadi prioritas utama Indonesia di tengah ketegangan global,” pungkasnya. (*/)




