Perang Iran Masih Berkecamuk, Harga Minyak Kembali Tembus US$100 Per Barel

bisnis.com
4 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Harga minyak dunia menguat dan kembali menembus level US$100 per barel setelah perang yang melibatkan Iran memicu gangguan pelayaran di Timur Tengah serta mendorong China memperketat pembatasan ekspor bahan bakar.

Berdasarkan data Bloomberg pada Kamis (12/3/2026), harga minyak jenis Brent untuk pengiriman Mei melonjak 9,3% menjadi US$100,54 per barel. Sementara itu, harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) kontrak April naik 8,7% ke level US$94,85 per barel.

Kedua harga minyak acuan global tersebut sempat melesat hingga 10% ke posisi US$101,59 per barel, sedangkan WTI sempat mendekati US$96 per barel. Lonjakan harga terjadi setelah Oman mengevakuasi seluruh kapal dari terminal ekspor utama di dekat Selat Hormuz serta dua kapal tanker diserang di perairan Irak.

Situasi itu memperlihatkan dampak luas konflik di kawasan sekaligus menutupi upaya International Energy Agency (IEA) yang sebelumnya mengusulkan pelepasan cadangan minyak dalam jumlah besar guna meredam lonjakan harga.

Tekanan juga terlihat dari sisi perdagangan bahan bakar olahan. Sejumlah kilang di China mulai membatalkan pengiriman ekspor bahan bakar yang telah disepakati, termasuk bensin dan diesel.

Pekan lalu, pengolah minyak terbesar di negara tersebut juga diminta menghentikan penandatanganan kontrak ekspor baru, sebuah kebijakan yang memperketat arahan sebelumnya.

Baca Juga

  • Untung Rugi Wacana Percepatan BBM Campur Etanol Kala Harga Minyak Mendidih
  • Harga Minyak & Rupiah Sempat Jauhi Fundamenal, Rasionalisasi Belanja atau APBN-P?
  • Harga Minyak Global Bergerak Fluktuatif Usai IEA Usulkan Pelepasan Cadangan

Adapun Selat Hormuz—jalur vital yang biasanya dilalui sekitar seperlima aliran minyak global—secara efektif masih tertutup. Kondisi ini memaksa produsen utama di kawasan Teluk memangkas produksi.

Harga gas alam serta produk turunan seperti diesel ikut melonjak seiring kenaikan minyak mentah. Pada awal pekan, Brent dan WTI bahkan sempat melonjak mendekati US$120 per barel sebelum akhirnya terkoreksi. Sepanjang pekan ini pasar minyak bergerak sangat fluktuatif.

Analis dari Goldman Sachs memperingatkan bahwa harga minyak berpotensi melampaui rekor tahun 2008 jika arus pasokan melalui Selat Hormuz tetap tertekan hingga akhir Maret. Pada 2008, Brent sempat mencapai puncak US$147,50 per barel akibat lonjakan permintaan dan stagnasi pasokan.

BRENT CRUDE OIL - TradingView
Selat Hormuz Jadi Kunci

Direktur riset di Sanford C. Bernstein & Co., Neil Beveridge, mengatakan satu-satunya faktor yang berpotensi menurunkan harga minyak secara signifikan adalah pembukaan kembali Selat Hormuz.

Menurutnya, volume minyak yang dilepas dari cadangan strategis masih jauh lebih kecil dibandingkan potensi gangguan pasokan sekitar 20 juta barel per hari akibat penutupan jalur tersebut.

Sementara itu, Oman mengevakuasi seluruh kapal dari pelabuhan Mina Al Fahal sebagai langkah pencegahan. Pelabuhan tersebut merupakan salah satu jalur tersisa bagi ekspor minyak mentah Timur Tengah ke pasar global.

Di sisi lain, Irak menghentikan operasi di terminal minyaknya setelah kapal-kapal menjadi sasaran serangan, menurut pernyataan otoritas pelabuhan negara tersebut kepada media pemerintah.

Irak menjadi salah satu produsen pertama di kawasan Teluk Persia yang mulai mengurangi produksi setelah Selat Hormuz hampir sepenuhnya tertutup. Langkah tersebut kemudian diikuti oleh Kuwait dan Arab Saudi.

Pemangkasan produksi itu mendorong IEA melakukan pelepasan cadangan secara terkoordinasi sebesar 400 juta barel—penarikan cadangan terbesar dalam sejarah yang bahkan melampaui pelepasan cadangan setelah invasi Rusia ke Ukraina pada 2022.

Amerika Serikat juga mengumumkan rencana melepas 172 juta barel minyak sebagai bagian dari upaya global untuk menahan lonjakan harga. Saat ini konsumsi minyak dunia mencapai sedikit di atas 100 juta barel per hari, sementara produsen di kawasan Teluk telah memangkas sekitar 6% dari total pasokan tersebut.

Managing Director komoditas di Bannockburn Capital Markets, Darrell Fletcher, menilai pelepasan cadangan oleh IEA sejauh ini belum memberikan dampak signifikan terhadap pasar.

“Ini yang saya khawatirkan dari pelepasan cadangan IEA—pasar tampaknya mengabaikannya dan harga justru naik lebih tinggi,” ujarnya.

Harga minyak juga terdorong naik pada Rabu setelah meningkatnya tensi diplomatik. Iran disebut menyampaikan kepada mediator regional bahwa gencatan senjata hanya dapat terjadi jika Amerika Serikat menjamin tidak akan melakukan serangan di masa depan bersama Israel.

Namun, Washington diperkirakan tidak akan menerima syarat tersebut, sehingga prospek berakhirnya konflik dalam waktu dekat semakin meredup.

Dalam pidatonya di Kentucky pada Rabu, Presiden AS Donald Trump kembali menyatakan perang akan segera berakhir, meskipun ia juga mengisyaratkan bahwa AS akan tetap berada di kawasan selama diperlukan untuk menyelesaikan misinya. 

“Kami tidak ingin pergi terlalu cepat,” ujarnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Rudal, Kekuasaan, dan Bayang-Bayang Perdamaian Dunia
• 23 jam lalukumparan.com
thumb
KKP Apresiasi Penyelamatan 34 Ekor Paus Pilot di Rote
• 22 jam lalukompas.id
thumb
Wakil Ketua MPR Sebut Mudik Nyaman dan Aman Jadi Bagian Perlindungan Negara
• 19 jam lalujpnn.com
thumb
KPK Duga Pemuda Pancasila Terima Aliran Uang Bulanan dari Kasus Rita Widyasari
• 1 jam lalujpnn.com
thumb
Pendapatan GoTo Tembus Rp 18,3 T pada 2025, Naik 24 Persen
• 23 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.