PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) atau PGN mengungkap dividen payout ratio di tengah anjloknya laba perusahaan tahun buku 2025. Berdasarkan laporan Stockbit Sekuritas, manajemen Perusahaan Gas Negara dalam earnings call 2025 pada Senin (9/3) manajemen PGAS juga berkomitmen untuk menjaga dividend payout ratio (DPR) tetap berada di atas 80% pada 2026.
“Seperti pada pembagian dividen dua tahun terakhir,” ungkap manajemen PGAS, dikutip Stockbit Snips Kamis (12/3).
Apabila menilik kinerja keuangannya tahun buku 2025, PGAS meraup laba bersih US$ 215,36 juta atau sekitar Rp 3,6 triliun sepanjang 2025 (asumsi kurs 16.720 per dolar AS). Namun torehan itu anjlok 36,55% dibandingkan dengan periode yang sama sepanjang 2024 sebesar US$ 339,42 juta atau sekitar Rp 5,48 triliun.
Meski laba turun, PGAS membukukan pendapatan sebesar US$ 3,97 miliar atau sekitar Rp 66,48 triliun sepanjang 2025. Angka itu 4,94% dari periode tahun sebelumnya US$ 3,78 miliar atau sekitar Rp 61,21 triliun.
Sepanjang 2025, PGAS mencatat volume niaga gas bumi sebesar 836 BBTUD. Sementara itu, volume transmisi gas meningkat 4% menjadi 1.609 MMSCFD dibandingkan tahun sebelumnya, seiring meningkatnya penyerapan dari pelanggan.
Kinerja operasional perusahaan juga didukung oleh bisnis infrastruktur LNG. Volume regasifikasi melalui FSRU Lampung dan Terminal Regasifikasi Arun tercatat mencapai 254 BBTUD atau tumbuh 17%. Kinerja ini turut membantu menjaga pasokan gas bagi berbagai sektor, termasuk industri dan pembangkit listrik.
Di segmen transportasi minyak, PGAS mencatat volume penyaluran sebesar 174.811 BOEPD yang didorong oleh meningkatnya aktivitas pengangkutan minyak melalui jaringan pipa yang sudah ada. Selain itu, sepanjang 2025 PGAS juga terus memperluas infrastruktur gas bumi dengan menambah lebih dari 230 km jaringan pipa distribusi jargas.
Sementara itu, manajemen PGAS dalam earnings call 2025 juga menyampaikan perseroan masih mengkaji opsi divestasi Saka Energi. Meski begitu, fokus utama perusahaan saat ini adalah mengoptimalkan aset-aset produktif. Adapun isu pelepasan anak usaha sebetulnya sudah digadangkan sejak 2018.
PGN memang tengah menawarkan kepada Pertamina untuk mengambil alih Saka. Hal itu karena bisnis utama Saka yang berbasis hulu minyak dan gas bumi (migas) tidak sama dengan PGN yang lebih banyak bergerak di hilir.
Seperti diketahui, Pertamina juga merupakan induk usaha PGN. Adapun alasan PGN menawarkan Saka ke Pertamina karena mereka memiliki lini bisnis di sektor hulu sehingga bisa diintegrasikan.
Kemudian manajemen Perusahaan Gas Negarajuga menyampaikan bahwa Blok Sesulu Selatan senilai US$ 99,5 juta telah mengalami impairment secara penuh. Penurunan nilai tersebut bersifat non-cash dan non-recurring, hingga tidak memiliki potensi reversal karena cadangan di blok tersebut dinilai sudah tidak lagi layak untuk kegiatan eksplorasi.
Adapun tahun 2026, perseroan menyebut belum terdapat indikasi akan adanya impairment baru. Namun demikian, potensi penurunan nilai dapat muncul apabila harga gas jangka panjang turun di bawah US$ 6,9 per mmbtu. Angka ini merupakan asumsi harga yang digunakan perusahaan dalam perhitungan keekonomian proyek.
Di samping itu, manajemen PGAS juga menanggapi kekhawatiran analis terkait dampak eskalasi konflik geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran. PGAS menjelaskan risiko tersebut relatif termitigasi. Hal ini karena pasokan LNG perseroan sebagian besar berasal dari sumber domestik, yakni Donggi Senoro, Tangguh, dan Bontang.




