PT Bank Permata Tbk (BNLI) mencatatkan laba bersih sebesar Rp 3,6 triliun sepanjang 2025. Nilai itu nyaris melandai dibandingkan laba tahun sebelumnya yang juga berada di kisaran Rp 3,6 triliun, dengan pertumbuhan tipis sekitar 0,6%.
Pertumbuhan laba perseroan ditopang oleh peningkatan penyaluran kredit yang naik 5,5% secara tahunan atau year on year (YoY) menjadi Rp 163,3 triliun dari Rp 154,9 triliun.
Dari sisi neraca, total aset Bank Permata tumbuh 3,6% secara tahunan pada Desember 2025 menjadi Rp 268,3 triliun. Sementara itu, total simpanan nasabah atau dana pihak ketiga (DPK) meningkat 3,9% dibandingkan tahun sebelumnya. Pertumbuhan dana murah menjadi kontributor utama dalam peningkatan DPK dengan kenaikan lebih dari 20% secara tahunan.
Likuiditas bank ini juga terjaga dengan baik sepanjang 2025. Rasio kas meningkat menjadi 63,9% pada Desember 2025.
“Likuiditas Permata Bank juga tetap terjaga dengan baik di sepanjang tahun 2025 dengan rasio loan to deposit kian optimal di kisaran 84,5% di Bulan Desember 2025 dibandingkan 82,7% pada Bulan Desember 2024 sejalan dengan penerapan optimalisasi peraca yang secara konsisten dilakukan oleh bank,” kata Direktur Keuangan BNLI, Rudy Basyir Ahmad, dalam paparan publik Bank Permata, Kamis (12/3).
Dia menuturkan, dalam mengelola kualitas aset, Bank Permata tetap menerapkan prinsip kehati-hatian guna menjaga kualitas kredit di tengah ketidakpastian kondisi geopolitik dan ekonomi global serta potensi risiko kredit yang melekat.
Rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) bruto pada Desember 2025 tercatat stabil di level 2,1%, sama seperti periode yang sama tahun sebelumnya.
Adapun struktur permodalan Bank Permata tetap kuat, tercermin dari rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR) yang mencapai 34,6% pada akhir 2025. Rasio permodalan tersebut menjadi salah satu yang terkuat di antara bank umum komersial besar di Indonesia.




