Dilema Potongan Terakhir: Ketika Budaya “Tidak Enakan” Mengendalikan Meja Makan

kumparan.com
2 jam lalu
Cover Berita

Bayangkan sebuah situasi ketika Anda sedang duduk santai menikmati camilan bersama seorang teman. Karena tidak terlalu lapar, Anda memutuskan memesan satu porsi untuk dibagi berdua. Percakapan mengalir hangat hingga tanpa terasa hanya tersisa satu potong terakhir. Namun, tidak ada satu pun yang berinisiatif mengambilnya.

Suasana yang semula santai perlahan berubah menjadi canggung, dipenuhi pertukaran kalimat seperti “Kamu saja”, yang diulang berkali-kali. Situasi sederhana ini mungkin tampak sepele. Namun jika diperhatikan lebih dalam, fenomena tersebut sebenarnya mencerminkan pola pikir sosial yang cukup kuat dalam kehidupan masyarakat Indonesia.

Keramahan selama ini menjadi identitas yang dibanggakan. Menurut Kinapti (2024), Indonesia terus menempati posisi sebagai salah satu negara paling ramah di dunia. Akan tetapi, seperti nilai sosial lainnya, keramahan juga memiliki sisi lain. Ketika dorongan untuk menjaga perasaan orang lain tumbuh secara berlebihan, hal tersebut dapat berubah menjadi tekanan sosial yang memicu munculnya budaya “tidak enakan”.

Dalam konteks potongan makanan terakhir, budaya ini sering kali mengurungkan niat individu karena takut dianggap sebagai rakus atau kurang sopan. Akibatnya, keinginan sederhana untuk mengambil makanan harus dikompromikan demi menjaga apa yang sering disebut sebagai harmoni sosial. Tidak jarang pula, makanan tersebut akhirnya dipotong kembali menjadi bagian-bagian kecil atau bahkan dibiarkan begitu saja hingga tidak termakan.

Motivasi Psikologis di Balik Rasa “Tidak Enakan”

Fenomena ini mencerminkan konflik antara kebutuhan pribadi dan tuntutan norma sosial. Seseorang mungkin masih merasa lapar atau sekadar ingin menghabiskan makanan, tetapi pada saat yang sama mereka merasa harus menahan diri demi menjaga citra sosial di hadapan orang lain.

Secara psikologis, keengganan ini berakar pada kebutuhan akan penerimaan sosial. Banyak orang khawatir bahwa mengambil potongan terakhir akan memicu penilaian negatif. Ketakutan terhadap penolakan atau kesan buruk itulah yang kemudian mendorong perilaku menahan diri.

Menurut French (2025), respons sosial semacam ini dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari aspek emosional, psikososial, hingga dinamika interpersonal. Ketiga aspek tersebut membentuk cara seseorang berperilaku dalam situasi sosial sehari-hari, termasuk saat berbagi makanan.

Dampak Ekonomi Jika Terjadi Pemborosan Makanan

Di balik dilema kecil tersebut, terdapat realitas yang jauh lebih besar jika dilihat dari sisi ekonomi dan lingkungan. Data menunjukkan bahwa masalah makanan di Indonesia berkaitan erat dengan pemborosan pangan yang signifikan. Berdasarkan artikel yang dikutip oleh The Jakarta Post, sekitar 20 juta ton makanan terbuang setiap tahun di Indonesia, sementara jutaan warga masih mengalami kesulitan mengakses pangan (Nugraha, 2025).

Realitas ini menegaskan bahwa menghargai makanan hingga suapan terakhir bukan sekadar soal rasa kenyang. Bagi sebagian orang, makanan adalah sumber kehidupan yang tidak selalu tersedia dengan mudah. Dalam konteks itulah, menghabiskan makanan hingga suapan terakhir juga menjadi bentuk empati sosial.

Ironisnya, sering kali makanan tersebut justru terbuang bukan karena tidak bisa dimakan, melainkan karena situasi sosial yang membuat orang ragu untuk menghabiskannya. Jika dilihat dari sisi ekonomi, nilai satu potongan makanan yang terbuang mungkin terlihat kecil secara individual. Namun ketika diterjemahkan ke dalam angka, gambaran ini menjadi lebih mengejutkan.

Berdasarkan harga yang tercantum dalam Japfa Best Online pada 2 Maret 2025 dan referensi mengenai berat satu paha bawah ayam dari Makarim (2022), satu potong paha ayam mentah diperkirakan bernilai sekitar Rp2.800,00 hingga Rp3.000,00. Jika satu juta penduduk di perkotaan menyisakan satu potong ayam seharga Rp3.000,00 setiap kali makan di luar, maka sekitar Rp3 miliar nilai makanan terbuang dalam satu hari.

Secara kolektif, jumlah tersebut sebenarnya dapat digunakan untuk mendanai program makanan bergizi bagi ribuan anak sekolah atau mendukung pengembangan sistem pengelolaan sampah organik yang lebih baik. Tentu saja, tidak semua orang benar-benar meninggalkan satu potong ayam utuh di meja. Namun contoh sederhana ini menggambarkan bagaimana sisa makanan kecil yang tampak tidak berarti dapat menjadi pemborosan besar ketika dilihat dalam skala masyarakat.

Dampak Lingkungan Jika Terjadi Pemborosan Makanan

Masalah ini juga memiliki dampak lingkungan yang tidak kalah serius. Menurut laporan Kementerian Lingkungan Hidup tahun 2025 yang dikutip oleh Ridwan (2026), sampah sisa makanan merupakan jenis sampah terbesar di Indonesia dengan proporsi mencapai 40,79%. Ketika makanan dibuang, yang terbuang bukan hanya bahan pangan itu sendiri, tetapi juga air, energi, dan tenaga kerja yang digunakan untuk memproduksinya.

Lebih jauh lagi, limbah makanan yang menumpuk di tempat pembuangan akhir (TPA) bukan sekadar soal sampah. Data menunjukkan bahwa dalam rentang 2000 hingga 2019, limbah makanan berkontribusi sekitar 7,29% dari total emisi nasional Indonesia (KSPL, 2022, dalam Tsukuda, 2025). Angka ini menunjukkan bahwa persoalan food waste berkaitan erat dengan isu lingkungan yang lebih luas.

Saat terurai di TPA, sampah makanan yang menumpuk akan mengalami dekomposisi anaerobik dan menghasilkan gas metana. Gas rumah kaca ini dapat memerangkap panas 28-34 kali lebih kuat daripada karbon dioksida dalam 100 tahun. (Balcombe et al., 2018).

Mengubah Rasa “Tidak Enakan” Menjadi Tanggung Jawab

Untuk menghadapi permasalahan ini, diperlukan perubahan pola pikir yang lebih asertif tanpa mengesampingkan nilai kesopanan. Kesadaran diri atau self-awareness dapat menjadi langkah awal yang penting. Dengan memahami kebutuhan dan batasan diri, seseorang dapat belajar menyampaikan keinginan secara wajar tanpa merasa bersalah secara berlebihan. Dengan demikian, seseorang dapat menyampaikan kebutuhan dan pendapat secara terbuka sekaligus tetap menghormati orang lain.

Salah satu langkah praktis yang dapat dilakukan adalah membangun komunikasi yang lebih terbuka. Alih-alih diam atau terus-menerus saling menawari, pertanyaan seperti “Ini masih ada satu nih, mau dibagi dua atau saya habiskan agar tidak mubazir?” dapat mengurangi kecanggungan sekaligus memastikan makanan tidak terbuang. Kebiasaan ini juga bisa diperkuat lewat percakapan ringan di lingkaran pertemanan tentang pentingnya keberanian untuk mengambil potongan terakhir. Selain itu, jika memang sudah kenyang dan tidak ada yang ingin mengambil makanan tersebut, membawa pulang sisa makanan jauh lebih baik daripada meninggalkannya di meja.

Di sisi lain, pelaku usaha kuliner juga dapat berperan penting dalam mengurangi potensi pemborosan makanan. Dengan menyediakan pilihan porsi yang lebih kecil atau porsi personal, pelanggan dapat memesan sesuai kebutuhan, tanpa harus berbagi satu porsi yang sering kali memicu situasi “tidak enakan”.

Pada akhirnya, penting untuk mengubah cara pandang sosial terhadap tindakan menghabiskan makanan. Mengambil potongan terakhir bukanlah tanda keserakahan, melainkan bentuk tanggung jawab terhadap makanan yang sudah tersedia, baik dari sisi lingkungan maupun empati sosial.

Perubahan besar sering kali dimulai dari kebiasaan kecil dalam kehidupan sehari-hari. Mungkin lain kali ketika satu potongan terakhir tersisa di meja, kita tidak perlu lagi terjebak dalam lingkaran “Kamu saja”. Terkadang mengambilnya dengan jujur justru merupakan bentuk tanggung jawab—bukan hanya terhadap diri sendiri, tetapi juga terhadap makanan, lingkungan, dan masyarakat yang belum tentu memiliki kesempatan yang sama untuk menikmatinya. Baik bersama teman lama maupun kenalan baru, keberanian untuk mengutarakan kebutuhan secara jujur perlu dilatih agar kesopanan tidak berubah menjadi tekanan sosial yang tidak dibutuhkan.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Ammar Zoni Dituntut 9 Tahun Penjara dalam Kasus Peredaran Narkoba di Rutan
• 7 jam laluviva.co.id
thumb
Bupati Garut Soroti SPPG Andalkan Bahan Baku dari Luar Daerah
• 11 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Prabowo di Momen 1 Tahun Danantara: Jangan Main-main Dengan Saya, Jangan Ada Lagi Laporan Palsu!
• 18 jam laludisway.id
thumb
Kementerian Pariwisata tarik wisatawan potensial di ITB Berlin 2026
• 16 jam laluantaranews.com
thumb
Gerak Cepat Tangkis Krisis Energi Lewat BBM Campur Etanol
• 16 jam lalubisnis.com
Berhasil disimpan.