Ekspor 1,83 Juta Ton CPO RI ke Timur Tengah Terganggu Perang AS vs Iran

idxchannel.com
1 jam lalu
Cover Berita

Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) memberikan peringatan serius terkait prospek ekspor minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) nasional.

Ekspor 1,83 Juta Ton CPO RI ke Timur Tengah Terganggu Perang AS vs Iran. (Foto Istimewa)

IDXChannel - Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) memberikan peringatan serius terkait prospek ekspor minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) nasional. Eskalasi militer yang melibatkan Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran dikhawatirkan akan memicu penurunan permintaan global akibat melambungnya biaya pengiriman dan asuransi.

Ketua Umum Gapki Eddy Martono mengungkapkan, situasi di Timur Tengah memaksa jalur pelayaran ekspor harus memutar, sehingga berdampak pada kenaikan biaya logistik dan asuransi hingga rata-rata 50 persen.

Baca Juga:
Minyak Dunia Kembali Melonjak, Saham Batu Bara dan CPO Berpotensi Cuan

“Tetapi terus terang, kalau ini (eskalasi antara AS-Iran terhadap Israel) berkepanjangan pasti akan berpengaruh. Berpengaruh dalam arti berpengaruh permintaan dari ekspor,” ujarnya dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (12/3/2026) malam.

Eddy mencemaskan jika harga CPO di tingkat konsumen menjadi terlalu mahal akibat beban logistik, para negara importir akan mulai mengerem pembelian mereka dari Indonesia.

Baca Juga:
Harga CPO Naik 2 Hari di Tengah Penguatan Minyak Dalian dan Chicago

“Atau mereka negara-negara importir ada kemungkinan akan mengurangi pembelian apabila harganya sudah terlalu tinggi. Utamanya harga di logistiknya. Ini yang kita tidak berharap untuk terjadi. Kita berharap perang cepat selesai, sehingga ekspor kita masih berjalan dengan lancar,” kata dia.

Baca Juga:
Program B50 Jadi Katalis Anyar Sektor CPO, Empat Saham Ini Jadi Sorotan

Wilayah Timur Tengah menjadi area yang paling terdampak langsung karena ketergantungan pada jalur Selat Hormuz. Merujuk data 2025, ekspor ke kawasan ini mencapai 1,83 juta ton dengan nilai mencapai USD1,9 miliar.

Negara-negara seperti Iran, Irak, Uni Emirat Arab, dan Oman kini berada dalam zona risiko gangguan distribusi.

“Gangguan kita memang yang betul-betul terganggu kita adalah di Middle East. Kita ada di situ yang betul-betul harus melalui Selat Hormuz. Itu ekspor kita ke Middle East itu ada 1,83 juta ton. Ini yang sudah pasti terganggu,” katanya.

Meskipun distribusi masih berjalan, efisiensi operasional sangat terganggu. Sebagian kapal terpaksa memutar melalui Cape Town, Afrika, untuk menuju Eropa guna menghindari zona konflik, sementara sebagian kecil lainnya tetap berisiko melintasi Terusan Suez dengan premi keamanan yang sangat mahal.

“Lewat Cape Town juga sama karena bahan bakarnya naik, ini menyebabkan harga logistiknya naik ditambah insurance-nya juga demikian. Tetapi ini alhamdulillah masih bisa jalan, masih jalan. Artinya bahwa ini industri saham itu membuktikan dengan kondisi sesulit apapun masih bisa jalan. Tetapi dengan catatan sekali lagi ini butuh dukungan yang luar biasa,” kata Eddy.

Dengan demikian, Gapki berharap ketegangan geopolitik ini segera mereda agar fondasi industri sawit nasional tetap kuat dan pengiriman ke pasar internasional dapat kembali normal tanpa beban biaya tambahan yang mencekik.

(Dhera Arizona)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
BCA (BBCA) Gelar RUPST Hari Ini, Simak Agenda Lengkapnya
• 19 jam lalubisnis.com
thumb
MG Sambut Musim Mudik dengan SMILE 2026
• 20 jam lalumedcom.id
thumb
Rudal-rudal Iran Masih Menghantui, Trump dan Netanyahu Terpojok Skandal Dalam Negeri
• 2 jam lalusuara.com
thumb
Nana Pancarkan Pesona Karismatik di Potret Adegan Perdana Drakor Baru Climax
• 23 jam lalubeautynesia.id
thumb
Fokus ID.Buzz, Volkswagen Indonesia Tak Lagi Lego Golf-Polo
• 5 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.